Flashback beberapa tahun silam
"Kalung yang bagus. Baru beli?" Aiza menoleh kearah Afnan yang tiba-tiba hadir disampingnya. Aiza sedang memegang kalung pemberian ibunya beberapa jam yang lalu.
"Dari ibuku."
Afnan hanya manggut-manggut dan kembali berucap. "Besok aku berangkat. Tidak ingin menitip sesuatu?"
"Tidak."
"Ya mungkin oleh-oleh gitu?"
Aiza terdiam. Tawaran yang menarik. Tapi ia menggeleng cepat. Ia kembali berpikir ulang. Sepertinya Afnan tidak perlu melakukan hal itu.
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Kamu pulang dengan selamat aku sudah senang."
Afnan tersenyum. Mengusap kepala Aiza yang tertutup hijab dan menatapnya sambil tersenyum.
"Yakin tidak?"
"Hm."
"Besok aku berangkat naik pesawat pukul 08.00 pagi."
"Iya Paman Afnan."
"Aku akan mengabarimu sebelum memasuki pesawat. Ah iya tapi besok kamu sedang ujian nasional ya?"
"Iya."
"Kalau gitu kenapa kamu kesini? Besok kamu ujian. Mestinya kamu belajar dirumah."
"Ayah dan ibumu yang memintanya."
"Jadi bukan karena aku?" kesal Afnan yang tentunya tidak serius. "Kita jarang ketemu Aiza."
"Aku sibuk."
Afnan menggaruk tengkuk lehernya dan salah tingkah. "Em iya sih. Ayah dan Ibumu begitu menyayangimu."
Aiza tertawa. "Ibuku adalah kakak kandungmu sekaligus ibu kandungku juga paman Afnan. Wajar saja dia menyayangiku."
"Kamu benar." ucap Afnan akhirnya. "Jika mengingat masalalu, aku tidak menyangka almarhum nenekmu itu hamil diriku lagi. Jarak usia kakak dan aku selisih 15 tahun. Oh iya jadi.. bagaimana setelah Ujian Nasional selesai? Sudah memutuskan untuk memilih sekolah menengah pertama dimana?"
"Sudah."
Afnan mendongakan wajahnya ke langit yang mulai senja. Ia pun segera merangkul pundak Aiza. "Ayo kita masuk. Sudah mau magrib. Setelah ini kita sholat magrib berjamaah dan kamu harus belajar." Aiza hanya menurut dan ia begitu senang hari ini bersama Afnan.
Seorang pria pelipur lara hatinya. Seorang pria yang menjadi tempat curahan hatinya yang begitu dewasa dan mampu memberinya saran dengan baik sebagai Paman rasa Kakak
🖤🖤🖤🖤
"Nona. Makanlah. Saya khawtir dengan kondisi anda."
Aiza menggeleng. Wajahnya sembab. Sudah tiga hari berlalu. Kondisinya begitu lemah. Benaknya kepikiran soal Arvino, hormon kehamilannya di trimester pertama membuatnya tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Jika Leni tidak membujuknya untuk segera makan, mungkin Aiza tidak akan mau makan.
"Aku tidak bisa aunty."
"Anda harus bisa. Kehamilan anda-"
"Aku tau." potong Aiza. "Bagaimana mungkin aku bisa makan jika saat ini saja aku tidak tahu dimana Mas Vin, sedang apa dia dan sudah makan atau belum."
"Tapi-"
Aiza bangun dari posisi tidurnya. "Tolong cari mas Vin aunty. Jika aku sedang sehat aku tidak akan merepotkanmu."
Leni tak kuasa melihat kondisi Aiza yang begitu miris. Seorang istri yang sedang sedih atas semua permasalahannya. Leni sudah tau permasalahan yang terjadi antara tuan dan nona mudanya ketika tanpa sengaja mendengar suara amarah Arvino dan pergi keluar dengan tatapan tajamnya.
Ia juga tidak menyangka bahwa seorang Aiza yang pendiam akan berbicara panjang kali lebar begitu sedang di hadapkan masalah seperti ini apalagi kalau sudah berbicara soal Arvino yang marah padanya.
"Baiklah. Tapi saya akan menghubungi bunda Ayu-"
"Tidak!" Aiza menggeleng. "Ini masalah aib rumah tangga kami Aunty. Aku tidak ingin semua keluarga mengetahuinya. Semua ini salahku. Aku sudah mengecewakan mas Vin.. aku.. aku juga tidak izin sama dia saat keluar rumah. Aku lupa."
"Tapi anda harus janji sama saya. Anda harus makan kali ini. Saya akan mencari tuan Arvino."
Aiza menurut kali ini. Ia pun akhirnya mau makan meskipun rasanya sangat susah. Leni pun akhirnya keluar dari kamarnya. Berulang kali Aiza mual hanya untuk menyuapkan sesendok makan ke dalam mulutnya.
Air mata mengalir di pipinya. Hatinya sesak. Tubuhnya sedang sakit. Ia butuh Arvino. Ia butuh sandarannya. Sudah sehari semalam Arvino mendiamkannya. Berulang kali Aiza memaksakan diri untuk makan dan yang ada ia kembali menuju westafel lalu memuntahkan semua isi perutnya. Aiza memutar keran air lalu mencuci mulutnya.
Air mata mengalir di pipi Aiza lagi dan akhirnya ia pun merosot lemah sambil menangis terduduk dengan memeluk kedua lututnya di lantai yang dingin. Merindukan Arvinonya yang saat ini ia butuhkan.
🖤🖤🖤🖤
"Pastikan semuanya terjaga dengan baik. Jangan sampai Leni tahu tentang hal ini. Sepertinya percuma saja."
"Apakah anda kecewa dengan Leni?"
Arvino tersenyum sinis. "Tentu saja. Aku yakin wanita itu berpihak pada Aiza. Mereka sama-sama seorang wanita. Sedikit banyaknya menggunakan perasaan untuk hal ini."
"Tapi Tuan. Em saran saya apakah tidak perlu mencari tahu soal.. pria itu?"
"Untuk apa?"
"Agar.." Randi berusaha menjaga cara bicaranya dengan hati-hati. "Agar anda tidak salah paham."
"Biarkan saja. Kalau Aiza istri yang jujur dia pasti akan menjelaskan semuanya padaku tentang kemarin dia kemana dan sama siapa. Tapi apa yang aku dapat? Dia hanya meminta maaf dan hanya berkata lupa karena tidak memberiku kabar saat hendak bepergian."
"Tapi Tuan-"
"Kalau kamu masih ingin bekerja denganku lakukan saja perintahku. Jangan membantah." tegas Arvino dingin dan tajam.
Bahkan sudah kesekian kalinya Arvino tidak pernah mau mendengar kelanjutan penjelasannya hanya karena emosinya. Randi hanya menurut dan ia pamit undur diri untuk keluar ruang dari ruang Dosen Arvino. Satu-satunya tempat buat ia menyendiri sejenak untuk menghindari Aiza setelah jam mengajarnya berakhir. Sudah beberapa jam semenjak kejadian itu, Arvino menghabikan waktunya diruangan tersebut sampai kampus benar-benar tutup dimalam hari..
Arvino menghidupkan ponselnya yang ia nonaktifkan seharian. Begitu aktif, beberapa notifikasi pun masuk kedalam ponselnya.Arvino semakin benci begitu banyaknya rentetan pesan singkat yang baru masuk dari Aiza. Arvino membukanya dan ia mulai membacanya.
"Asalamualaikum."
"Mas?"
"Asalamualaikum Mas.."
"Mas.."
"Mas dimana?"
"Mas."
"Mas kapan pulang?"
"Apakah Mas sibuk? Tolong Mas pulang ini sudah malam."
"Mas jawab."
"Kenapa nomor ponsel Mas tidak aktip?"
"Aku minta maaf Mas. Aku salah. Kemarin aku lupa tidak izin sebelum keluar."
"Mas Vin lagi apa? Jam mengajar sudah berakhir kan?"
"Mas.. aku harap Mas pulang. Aku sedang sakit."
"Mas aku lagi mual. Aku gak bisa makan. Bisa tolong pulang?"
"Mas aku kangen."
"Aku butuh Mas Vin. Aku sedang pusing.."
"Mas.. aku gak bisa makan. Bisa pulang sekarang?"
"Mas sekali lagi. Maafkan aku."
"Aku lagi sedih. Aku menangis sendirian di kamar. Kapan Mas pulang?"
"Mas.."
Arvino terdiam sesaat. bayangan Aiza bersama pria lain membuat Arvino lagi-lagi cemburu. Dan Arvino tidak sudi membaca semua isi pesan singkat Aiza. Arvino pun menghapus semua pesan singkat Aiza lalu memblokir nomor ponselnya.
🖤🖤🖤🖤
Arvino gak pernah mengejar seorang wanita. Dia gak tau rasanya cemburu itu bagaimana. Selama ini dia dikejar wanita terus. Bahkan dulu Aiza yang ngejar cintanya duluan.. sekalipun ada Alex, Arvino hanya menganggapnya enteng doang. Dan dia nganggap Alex dulu hanya persaingannya.
Tapi..
Begitu Aiza sudah menjadi miliknya.. dan Aiza di sentuh dengan pria lain, Arvino marah besar. Padahal hanya disentuh bagian pipinya aja loh 😶
Amarah Arvino mengalahkan akal sehatnya sampai-sampai saran Randi pun tidak mau didengarnya 😣
Gak takut kah dia nyesal nantinya? 😭😭😭
Kalau kalian ingin menyampaikan uneg-uneg setelah membaca part ini, kalian bisa koment, atau DM di Instagram author lia_rezaa_vahlefii, atau inbox author diwattpad..
Sehat selalu buat kalian ya.
Jangan lupa kuatkan hati disetiap partnya ...
NEXT CHAPTER 63. KLIK LINK DI BAWAH INI :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/10/chapter-63-mengidam.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar