Chapter 63 : Mengidam - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Selasa, 28 Oktober 2025

Chapter 63 : Mengidam



Adila sudah selesai dengan semua pekerjaannya. Saat ini ia berada disebuah gudang yang berada paling ujung ruangan butiknya. Disana terdapat banyak puluhan pakaian-pakaian syar'i dewasa dan anak-anak serta pakaian pria lainnya yang baru saja tiba dari pengiriman luar kota.

Adila menutup buku catatannya lalu menuju meja kerjanya, membuka laci dan meraih ponselnya. Tidak ada notifikasi apapun mengenai Devian kecuali notifikasi sosial media dan Gmail.

Adila terdiam sejenak. Sejak kapan ia jadi memikirkan Devian? Padahal sudah hampir 4 tahun ini pria itu selalu membanjiri semua sosial medianya. Di mulai dengan hanya sekedar sapa'an, like semua postingan sampai gombalan recehnya yang membuatnya kesal.

Tapi kali ini tidak. Adila menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia harus menepis pikirannya soal Devian dan mulai memfokuskan diri mengerjakan pekerjaannya.

Berbeda dengan Devian sendiri yang saat ini sedang memeriksa pasien di ruangannya. Seorang anak kecil berusia 7 tahun sedang mengalami gejala demam berdarah.

"Sudah berapa lama demam dan mualnya?"

"Sudah 4 harian dok." Seorang ibu paruh baya menatap dokter Devian dengan khawatir dan mengusap kepala putranya yang kini menyenderkan dahinya di bahu sang ibu.

"Nafsu makannya bagaimana?"

"Sedikit uring-uringan dok?"

"Mari kita periksa dulu ya."

Ibu itu pun segera membawa putranya menuju brankar pasien. Devian mulai meriksanya sejenak setelah itu ia mengecek kulit tangan putra kecil itu yang mulai muncul bintik-bintik merah.

"Bagaimana dok?"

Dokter Devian sudah selesai memeriksa, ia kembali duduk di kursi kerjanya. "Anak ibu mengalami gejala demam berdarah."

"Ya Allah." wajah sedih terpancar dan Devian menatap iba pasiennya yang masih berusia 7 tahun itu.

Banyaknya faktor penyakit demam berdarah dan harus segera di perhatiin dengan melakukan 3M disetiap rumah apalagi saat ini sedang musim hujan. Hanya karena melihat putra kecil itu tiba-tiba naluri sebagai sosok Ayah muncul begitu saja di hati Devian.

Devian kembali fokus. "Untuk memastikannya anak ibu harus periksa darah dulu ya bu di laboratorium."

Ibu itu hanya menurut setelah Devian memberikan surat pengantar untuk kelabolatorium. Setelah kepergiannya pasiennya, Devian menyenderkan tubuhnya dengan lelah. Seharian ini benar-benar aktivitas yang padat untuknya. Ia memejamkan matanya sejenak lalu teringat ponselnya.

Devian membuka laci meja kerjanya. Berharap ada sedikit sapaan dari Adila atau sekedar basa-basi bertanya  kabar dirinya dan sayangi tidak ada. Ia salah sudah berpikir demikian. Adila tidak mencintainya. Untuk apa ia berpikir seperti itu apalagi berharap?

Devian hanya tersenyum miris lalu memasukan kembali ponselnya kedalam saku jas dokternya. Ia meraih paper cup yang berisi coffe. Khusus hari ini tanpa sadar ia sudah meminum tiga paper cup coffe untuk menghalau rasa kantuknya. Garis lingkaran hitam dibawah matanya juga terlihat.

Devian menatap jendela besar di ruangannya. Diluar sedang hujan dan hanya menatap rintikan hujan tersebut ia teringat dua wanita sekaligus yang ia rindukan. Senyuman mending adiknya dan kehangatan dari Adila yang ia butuhkan tapi tidak tergapai hingga sekarang.

Pintu terbuka. "Assalamualaikum Dok. Maaf mengganggu-"

Devian hanya mengangguk dan ia baru ingat bahwa hari ini ada beberapa dokter muda yang merupakan mahasiswanya sedang memerlukan bimbingannya. Ia pun segera keluar dan 4 orang mahasiswa dari universitas kedokteran tersebut sudah siap untuk menjalankan tugasnya.

Devian berjalan dengan langkah tegap. Raut wajahnya tetap ramah seperti biasanya dengan 2 orang mahasiswa berjalan di kanan kirinya sementara 2 orang mahasiswa berjalan di belakangnya.

Dari jarak kejauhan, ternyata ada Adila yang sedang menatapnya. Niat Adila kemari hanya untuk bertemu Devian. Mungkin sedikit basa-basi mengobrol sejenak untuk mengikis kecanggungan diantara mereka.

Tapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Adila mendadak lesu. Hanya untuk menegur Devian saja bibirnya terasa kaku.

Akhirnya, Adila memilih pulang saat itu juga. Mengabaikan rasa pusing dikepalanya karena kehujanan setelah berlarian dari arah parkiran mobil hanya untuk memasuki rumah sakit agar bisa bertemu suaminya.

🖤🖤🖤🖤

Leni membawa motor besarnnya dengan kecepatan tinggi. Sambil mencengkram stang motornya dengan kuat, selama itulah Leni berusaha menahan amarahnya yang menggebu-gebu. 

Sejak kemarin dan Nona mudanya terabaikan seperti tidak pernah dianggap layaknya istri pada umumnya. Leni sudah berhenti tepat dihalaman parkiran kampus.

Tanpa melepas sarung tangan hitamnya, Leni memilih melepas helmnya kemudian segera menuju ruangan Dosen Arvino. Leni menelusuri koridor kampus yang sudah sangat sepi mengingat berakhirnya kuliah malam tepat pada pukul 21.00 tadi. Dari jarak beberapa meter ia melihat partner kerjanya bernama Randi sedang menghisap sebatang rokok. 

"Randi!!!"

Randi menoleh ke sumber suara, sedikit terkejut tapi tetap berusaha memasang raut wajahnya yang datar. Ia pun membuang putung rokoknya lalu menginjaknya di lantai.

"Ada apa?"

"Kamu benar-benar keterlaluan!" Leni sudah berdiri di hadapan Randi dan menatapnya marah.

"Apa kamu berniat sama seperti Tuan Arvino dan tidak mengabari Nona Aiza sama sekali hingga sekarang?!"

"Untuk apa? Ini permintaan dari Tuan Arvino. Dia tidak ingin di usik oleh istrinya."

"Dan kamu menuruti keinginannya sementara Aiza memerlukannya?"

Randi bersedekap. "Semarah apapun kamu denganku itu tidak akan merubah apapun. Ini perintah!"

Dengan kesal Leni mengeluarkan pistol di balik jaketnya dan mengarahkan tepat didepannya. "Mencoba menutupi sesuatu denganku atau kamu akan mati sekarang-"

Randi begitu cepat. Ia tidak menunggu kelanjutan ucapan amarah Leni ketika pria itu menendang pergelangan tangan Leni yang memegang pistol hingga pistol tersebut jatuh begitu saja di lantai. Leni hendak meraih namun Randi menendang pistol tersebut hingga menjauh. Leni terlalu waspada, ia menghindar saat Randi hendak menendang lagi kearah wajahnya yang sedang tertunduk hanya untuk meraih pistol tersebut.

Randi tersungkur lalu Leni pun tak ingin membuang waktu dengan mengunci pergelangan tangan Randi kemudian memberi sebuah kejutan daya listrik memggunakan stund gun yang memiliki daya 5000 volt dan Leni bernapas lega begitu Randi pingsan begitu saja.

Leni kembali berdiri. Ia hendak melanjutkan langkahnya untuk mengetuk pintu ruang Dosen Arvino ketika tanpa diduga tuan mudanya itu sedang mentapnya santai sambil bersedekap dengan bersandar di dinding apartemen.

"Pertunjukan yang bagus."

Leni berusaha tenang. "Tuan. Maaf saya lancang. Anda harus pulang. Istri anda begitu memperihatinkan."

Arvino hanya diam. Tanpa ekspresi kemudian tersenyum sinis. "Aku tahu. Aku hanya sedang sibuk."

Leni tahu Arvino sedang berbohong. Semalam ini untuk seorang Dosen seperti Arvino kesibukkan apa yang sedang dilakukannya di kampus?

"Tapi-"

"Kamu pergi saja dari sini. Jaga Aiza dirumah."

"Apa?"

Arvino melenggang pergi dan Leni menghadang jalannya. " Saya tahu tugas saya. Tapi Tuan Istri anda benar-benar butuh anda sebagai suaminya! Dia terus menangis dan menolak makan. Kehamilan di trimester pertama membuatnya tidak terbiasa dengan kondisinya sehingga membuatnya sakit."

"Oke terima kasih infonya."

"Tuan-"

Arvino mengabaikan Leni  "Aku tutup pintunya Asalamualaikum."

Arvino menatap Leni dengan datar dan itu benar-benar membuat Leni muak hingga wanita itu mengepalkan kedua tangannya. Arvino sadar akan hal itu. Tapi Arvino tidak perduli. Dan akhirnya Arvino menutup pintunya.

Suara derap langkah kaki yang sedikit tergesa-gesa membuat Leni menoleh ke asal suara. Leni terkejut bahwa sosok itu adalah Aiza. Dan leni baru sadar kalau tanpa diduga Aiza membuntutinya.

"Mas! Mas Vin. Aku mohon buka pintunya!" Aiza terus menggedor-gedor pintu ruangan Dosen Arvino.

"Nona.. Nona muda!" Leni mendekati Aiza. Dan merengkuh bahunya. "Sebaiknya kita pulang. Anda harus istrirahat dan jangan sampai lelah."

Aiza menggeleng. "Tidak Aunty. Aku butuh dia. Aku butuh dia berada disampingku saat ini juga."

"Tapi-"

"Tolong jangan halangi aku." Dan air mata mengalir di pipi Aiza. Ia mengabaikan Leni dan kembali menggedor pintunya.

"Mas Vin.. buka pintunya. Aku mohon.. aku-"

Aiza menghapus air mata yang kesekian kalinya di pipinya. Ia tidak akan pernah lelah berhenti menangis untuk seseorang yang teramat ia cintai.

"Aku janji.. aku tidak akan lama. Aku.." Aiza menarik napasnya. Berusaha melonggarkan dadanya yang begitu sesak. "Kalau boleh jujur.. aku.. aku sedang mengidam. Aku, aku mengidam ingin memeluk Mas." 

"Aku kangen sama Mas, Tolong buka pintunya. Sejak kemarin Mas mendiamkan diriku. Sebenarnya ada apa Mas? Kenapa Mas selalu saja menghindariku. Kita satu atap tapi bagaikan orang asing. Bukankah tadi aku sudah meminta izin untuk mendatangi Mas?"

"Aku janji.. hanya sebentar saja.."

Dan akhirnya pintu ruang dosen pun terbuka dengan raut wajah Arvino yang sangat datar dan ilfeel pada Aiza.


🖤🖤🖤🖤

Minta di tabok Arvino itu ya. 😒😒
Bener gak?

Maaf ya update malam ini terlalu larut. Aktivitas Author begitu banyak di puasa pertama hari ini.

Makasih buat kalian yang sudah baca. Sehat terus buat kalian ya. Lancar puasanya. Jangan lupa perbanyak amal ibadah dibulan puasa ini. Semoga Allah mengampuni dosa kita yang sebanyak buih lautan. Aaminn 🤗🤗

Kalau ada yang mau ditanyakan secara langsung ke author khususnya tentang Arvino dan kapan update dll, kalian bisa chat melalui instagram lia_rezaa_vahlefii ya.

Terima kasih.
With Love
LiaRezaVahlefi


NEXT CHAPTER 64. KLIK LINK DI BAWAH INI :

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/10/chapter-64-butuh-pelukkan.html

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu