"Cantik.. "
Nafisah tersenyum lemah, meskipun wajahnya pucat, tetapi kecantikan natural yang dimiliki wajah Nafisah tidak pudar. Danish baru saja memasang hijab instan ke kepala Nafisah.
"Benarkah?"
"Masa aku bohong?"
"Sekarang aku tidak memiliki rambut. Kepala aku botak karena rontok selama kemoterapi, masa iya masih cantik?"
Danish menyentuh pipi Nafisah. "Saling mencintai itu harus menerima satu sama lain. Selama ini aku menundukkan pandanganku terhadap wanita yang bukan mahram, tentu saja hanya dirimu yang aku tatap penuh cinta. Tak perduli dengan semua kekurangan yang ada."
"Terima kasih sudah melengkapiku, Mas. Maaf, aku sebagai istri hanya bisa merepotkanmu. Setelah kepergian Alina, kita dipersatukan karena takdir. Bukannya aku menjadi seorang istri yang baik, serba bisa, bertanggung jawab mengurus rumah tangga, suami, anak, malah sekarang Mas yang ngurus aku. Aku-"
"Kok gitu sih? Jangan sedih terus, sayang. Nikmati semua prosesnya. Yakin kalau kamu bisa sembuh, kita melalui ini bersama. Kamu tidak sendirian, ada aku."
"Aku hanya takut."
"Apa yang kamu takutkan?"
"Mas akan berpaling padaku. Biar bagaimana pun Mas membutuhkan seorang istri, kan? Bagaimana bisa.. " air mata mengalir di pipi Nafisah, saat ini ia merasa putus asa dan frustasi.
"Sayang.. " Danish memeluk Nafisah dengan pelan.
"Bagaimana bisa aku melayani Mas dengan baik sebagai seorang istri sementara kedua kakiku serasa lumpuh? Dokter bilang aku harus memakai kursi roda untuk bisa pergi kemana pun."
"Jangan merasa bersalah. Jangan mengkhawatirkan apapun Nafisah. Sekarang kita harus fokus sama kesembuhan kamu, oke? Percayalah, aku tidak apa-apa dan aku akan baik-baik saja."
"Jangan pernah tinggalkan aku, apalagi berpaling. Aku percaya di luar sana banyak sekali wanita-wanita cantik yang berseliweran di sekitar Mas sehingga membuatku merasa insecure."
Seketika Danish terdiam. Hatinya tersentil. Tamparan keras buatnya. Berpaling? Ya Allah, saat ini ia saja sudah memiliki istri kedua. Pusing yang tidak berkesudahan. Seperti buah simalangkama. Bila ia tidak menceritakan apa yang terjadi selama ini, bagaikan beban yang sangat berat untuknya beserta hatinya yang terus merasa bersalah. Tetapi ketika ia memberitahu semuanya, ia yakin kalau Nafisah akan marah dan kecewa sehingga berakhir dengan kondisinya yang begitu mengkhawatirkan. Danish sadar, nyawa Nafisah seperti di ambang kematian melihat dari kondisinya. Begitu jahatnya ia sebagai suami telah menduakannya.
"Mas?"
"Ha?"
"Kok melamun? Ada apa?"
Danish memaksakan senyumnya. "Em, tidak ada. Istirahatlah Nafisah. Sore ini Mama dan Diyah akan menghubungi kita melalui video call."
"Em, baiklah. Sesungguhnya aku juga merindukan mereka."
Dengan perlahan Danish memperbaiki posisi Nafisah berbaring lalu menyelimutinya hingga akhirnya seiring berjalannya waktu istrinya itu tertidur pulas.
Danish menatap istrinya dalam diam.
Ia merindukan semua waktunya dengan wanita itu. Baik dalam keadaan sehat, sakit, suka dan duka. Ia tidak ingin kehilangan semua itu meskipun ada Ela di antara mereka.
Danish berdiri dari duduknya, sudah seminggu berlalu setelah Nafisah sadar dari komanya. Selama itu pula ia tidak menghubungi Ela begitupun sebaliknya. Bukan bermaksud perduli atau khawatir, dalam hati ia membantin, apa kabarnya wanita itu?
Danish keluar ruangan, ia harus ke tempat Ela saat ini juga sebelum sore tiba. Ada hal penting yang harus ia bicarakan pada wanita itu. Mengenai keputusan akhir untuk hubungan mereka yang awalnya hanya di landasi dengan keterpaksaan..
"Ela, maafkan aku, aku harus menggugatmu."
****
Dengan bosan Lisa mendorong troli nya sambil melihat deretan cemilan ringan. Padahal ia benar-benar tidak mood hanya untuk pergi ke minimarket setelah Randi memaksanya untuk pulang kerumah dan berakhir singgah ke minimarket sejenak.
"Nggak ngerti banget sih perasaan aku! Sudah tahu lagi marah malah di ajak belanja makanan. Ya kali di ajak shopping berlian baru aku mau."
Tiba-tiba Lisa menyipitkan kedua matanya. Dari jarak beberapa meter, ia melihat Ela sedang memegang dua kotak susu di tangannya. Wanita itu terlihat sibuk membaca deskripsi produk di bagian belakang kemasan sembari membandingkan dengan produk susu yang satunya.
"Itu kan, susu ibu hamil?" Seketika Lisa tersenyum sinis. "Nggak saling cinta tapi bisa hamil juga, ya? Hebat!"
"Apa yang kamu lakukan, ayo pergi dari sini."
Tiba-tiba Randi datang dan langsung mengamit lengan istrinya sekaligus mengambil alih posisi trolinya.
"Tuh, lagi lihat mantan karyawan kamu. Alhamdulillah banget ya, nggak saling cinta tapi kenyataannya dia hamil. Aku yakin, kemungkinan sekarang dia lagi hamil muda. Hm, calon anaknya Danish."
"Jangan sibuk membicarakan urusan orang lain."
"Tapi kenyataannya memang begitu, kan? Biar aku tebak, walaupun Nafisah sudah sadar, wanita itu pasti belum mengetahui semuanya-"
"Cukup!" Randi merasa muak. Lisa sangat keterlaluan. Dan wanita itu terlihat tidak merasa bersalah sama sekali.
"Dia begitu karena korban kejahatanmu, kan?!"
"Kalau iya, kenapa?"
Lisa menatap Randi dengan sinis. Kemudian berjalan terlebih dahulu sementara Randi hanya menghela napasnya. Begitu mereka tiba di kasir, tanpa meminta bantuan Randi pun malah mengeluarkan semua isi troli yang berisi bahan masakan sehingga membuat Lisa merasa sebal.
"Pria workaholic sepertimu, untuk apa belanja sebanyak ini?"
"Tentu saja untuk masak."
"Ck, aku tidak yakin soal itu."
"Selain aku pintar dalam segala hal karena karunia yang Allah berikan.. " Tiba-tiba Randi mendekati Lisa dan berbisik. "Aku juga bisa bikin anak dengan istriku."
Lisa terdiam, ntah kenapa mendadak ia merasa grogi. Tanpa sepatah katapun ia memilih pergi dari sana dengan raut wajah datar.
"Dasar aneh. Nggak jelas." sungut Lisa kesal.
****
Ela tidak menyangka kalau kegiatannya saat ini dengan berbelanja ke minimarket sendirian membuatnya lelah yang begitu berat. Hamil trimester pertama memang suatu kondisi yang tidak mudah di jalani baginya.
Mual dan pusing berkepanjangan. Nyatanya dengan pergi keluar rumah sejenak malah memperparah keadaanya. Dengan tertatih Ela berjalan menyusuri koridor untuk mencari pintu apartemennya setelah keluar dari lift sambil menenteng dua kantong tas belanjaannya.
"Ya Allah.. Rasanya aku nggak kuat."
Detik berikutnya Ela hampir limbung ke lantai kalau saja tiba-tiba tidak ada lengan Danish yang menahan tubuhnya.
"Hati-hati.. "
"Mas?" Ela terkejut, tak menyangka kalau Danish tiba-tiba datang.
"Aku baru saja keluar dari lift. Begitu melihatmu mau jatuh, aku langsung berlari kesini. Kamu lagi sakit?"
"Em, itu, aku-"
"Wajah kamu pucat. Biar aku bantu."
Ela hanya bisa diam. Hatinya tak berbohong kalau semua keperdulian Danish saat ini membuatnya baper. Ia sadar, ia memang tidak di cintai, tapi ntah kenapa ia merasa begitu merindukan Danish. Danish membantu Ela menuju ruang tamu, setelah itu ia juga membawa semua belanjaan Ela ke dapur.
"Kenapa banyak sekali berbelanja?" sela Danish dari arah dapur.
"Sudah seminggu aku tidak ke minimarket, kebutuhan habis."
"Apakah kamu tidak memiliki asisten rumah tangga?"
"Aku belum terpikir karena terbiasa mandiri."
Dengan tertatih Ela berdiri, kepalanya pusing dan berat. Serasa suasana disekitarnya seolah-olah berputar. Ia menuju sebuah meja kecil yang diatasnya terdapat botol air mineral beserta gelasnya.
"Ela.. "
"Ya, Mas?"
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu. Em ini.. Tentang hubungan kita.. "
Dengan tangan gemetar Ela menuangkan segelas air kedalam gelas. Ucapan Danish barusan, ntah kenapa membuatnya was-was sekaligus gelisah.
"Soal apa, Mas?"
"Em.. Kejadian waktu itu sudah berlalu. Media sudah memberitakan kalau kita tidak bersalah atas pencurian ponsel pemilik toko itu. Secara tidak langsung, semua masalah kita sudah selesai."
Air mata menetes di pipi Ela. Rasa takut mulai menghampirinya. Sebenarnya, apa maksud dari semua ucapan Danish?
"Lalu?"
"Nafisah juga sudah sadar dari koma. Aku hanya... "
"Aku hanya tidak ingin semakin membuatnya terluka. Akan lebih baik kalau kita.. "
Pandangan Ela mulai mengabur. Seketika tubuhnya keringat dingin karena kesadarannya mulai menurun.
"Sebaiknya kita berce-"
Bruk!
"Astaghfirullah, Ela!"
****
Masya Allah Alhamdulillah.. 🥰
Hai aku kembali up seperti biasanya☺
Bagaimana chapter kali ini? Bikin gemes sekaligus kesel ya? 😌
Tapi..
Emang begitu susunan ceritanya. Semoga suka dan menikmati alurnya sampai ending ya. Maafkan author ini suka nabur bawang dari dulu hhe 😁
Jangan lupa Vote dan komentarnya, with Love ❤ Lia
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 57 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-57-situasi-rumit.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar