"Masa sih, Mbak?"
"Sssst.. Ngomongnya pelan-pelan. Iya beneran. Tadi dia panik banget bawa istrinya. Waktu di periksa, ternyata wanita itu lagi hamil."
Kedua ibu paruh baya yang bertugas sebagai cleaning servis area dan pengantar makanan itu terlihat saling berbisik diruang Nafisah. Kebetulan Nafisah sedang tidak ada di ruangan tersebut.
"Ya Allah, nggak nyangka, ya?"
"Apanya yang nggak nyangka?"
"Suaminya itu punya istri lain di rumah sakit ini. Kebetulan istrinya itu di rawat di rumah sakit sini juga."
"Oh ya? Siapa Mbak?"
"Em, dia.. Ah kok kamu nanya begitu sih? Ayo cepat selesaikan pekerjaan kita!" ucap Ibu itu yang berusaha mengalihkan.
Sesaat, keduanya terdiam. Sibuk dengan tugas masing-masing. Yang satunya sibuk meletakkan nampan berisi makanan sedangkan yang satunya lagi sibuk membersihkan ruangan.
"Kira-kira kedua istri laki-laki itu saling tahu atau nggak, ya?"
"Sshh! Sudah lah, kita nggak usah bicarain lagi. Lebih baik kita urus pekerjaan kita masing-masing biar cepat-"
"Ini makan siang saya ya, Bu?"
"Ya Allah!"
"AllahuAkbar!"
Keduanya terkejut ketika Nafisah baru saja keluar dari dalam kamar mandi menggunakan tongkat. Dengan tertatih ia berjalan pelan-pelan hingga akhirnya membuat salah satu ibu paruh baya tadi membantu Nafisah.
"Hati-hati, Bu. Ini mau langsung duduk di atas tempat tidur?"
"Iya, Bu. Maaf merepotkan."
Ibu tadi hanya tersenyum tipis. Sementara Ibu yang satunya malah menghilangkan ntah kemana dan pergi keluar. Setelah semuanya selesai, buru-buru ibu tersebut pamit pergi.
Nafisah hanya diam. Ntar kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak. Rasa gelisah menghampirinya. Seketika ia teringat Danish.
"Astagfirullah,jangan sampai negatif thinking apalagi sama suami sendiri."
Nafisah menoleh ke arah jam dinding. Jam sudah menujukan pukul 12.00 siang. Hari ini suaminya itu libur bekerja, sudah hampir dua jam berlalu. Namun Danish tak kunjung kembali mendatanginya.
"Kemana ya Mas Danish?"
***
Danish terdiam menatap Ela. Pikirannya sedang buntu. Niat ingin pergi dari kehidupan Ela harus ia batalkan. Tidak ada yang bisa menolak takdir Allah ketika hari ini Dokter sudah memberinya hasil kalau dia sedang hamil 4 minggu.
"Ya Allah, kenapa semua ini begitu rumit? Kenapa ujian Hamba begitu berat?" lirih Danish pelan.
Ia tidak mencintai Ela. Tapi ntah kenapa semua hubungan suami istri itu terjadi begitu saja. Tepat saat pertama kali ia mengantar Ela balik ke apartemen setelah wanita itu tiba-tiba datang ke apartemennya membawa menu makan malam tanpa memberitahu sebelumnya. Sejujurnya setelah makan malam waktu itu, ia akan pulang. Namun Ela menahannya dengan alasan di luar sedang hujan.
Menolak dengan halus karena memiliki jas hujan di motor, tentu saja Ela tetap memohon padanya untuk sesekali menginap. Dan ya, Danish sadar, apa yang ia lakukan dengan Ela dalam islam memang tidak salah dan halal secara mahram. Namun ia juga sadar, bila di mata orang-orang yang ada disekitarnya semua itu tidak akan diperdulikan dengan apa yang terjadi bahkan menganggapnya sebagai pasangan yang tidak tahu diri di belakang Nafisah yang sedang sakit.
Tak lama kemudian, ponsel Danish bergetar. Ia tersadar dari lamunannya. Sebuah panggilan video masuk dari Mamanya. Ya ampun, ia baru saja ingat kalau sore ini ada janji akan melakukan video call dengan Mamanya dan Diyah. Alhasil Danish memilih keluar mumpung Ela belum siuman.
"Assalamu'alaikum, Hai.."
"Wa'alaikumussalam. Papa! Apa kabar?"
"Alhamdulillah Papa baik, Diyah sendiri gimana?"
"Alhamdulillah kami baik, Pa. Mana Mama? Diyah kangen Mama."
Danish tersenyum. "Ini kebetulan Papa ada dirumah sakit. Sebentar lagi sampai di ruang Mama."
"Loh, Papa baru kesana sekarang ya? Ini kan tanggal merah. Kenapa nggak dari pagi aja sih temenin Mama? Diyah pikir Papa lagi ada di ruangan Mama. Kasian, Pa. Kalau Mama sendirian."
"Em, tadi Papa keluar sebentar karena ada urusan."
"Oh begitu.. "
Dalam hati Danish merasa bersalah. Ia sudah mencari alasan untuk menjelaskan pada Diyah kalau sebenarnya semua yang ia lakukan tadi tentu saja menyangkut Ela. Tidak membutuhkan waktu yang lama Danish tiba di ruangan Nafisah. Dilihatnya Nafisah sedang istirahat.
"Sayang.. "
"Mas sudah datang? Kenapa lama sekali? Apakah semuanya baik-baik saja?"
"Em, iya, semua baik. Maaf ya tadi ada urusan sebentar."
"Urusan apa, Mas? Pekerjaan?"
"Urusan... " Sekarang Danish bingung harus menjelaskannya seperti apa. Tidak mungkin ia jujur kalau ia baru saja ketemu Ela.
"Mas?"
"Eh, aku-"
"Mama! Mama Nafisah.. "
Suara Diyah tiba-tiba terdengar. Hampir saja Danish lupa kalau sebenarnya sejak tadi video call masih berlangsung. Seketika Danish menghela napasnya.
"Ya Allah, Diyah.. Kok Mas nggak bilang sih kalau lagi video call? Mana ponselnya, aku mau ngobrol sama Diyah."
Danish hanya diam dan tersenyum tipis. Dengan memberi isyarat pada istrinya, Danish pun memilih pergi keluar sebentar. Danish mengacak rambutnya yang frustasi. Rasanya ia ingin menyalahkan Ela kalau saja tidak ingat semua hal yang terjadi saat ini sudah tercatat di lauhul mahfudz.
"Pak,?"
Danish menoleh ke belakang. Seorang suster tiba-tiba menegurnya
"Ya, sus?"
"Maaf, Bapak tadi yang ada di ruang UGD bersama Ibu Ela, ya?"
"Iya betul. Ada apa?"
Suster tersebut akhirnya tersenyum ramah. "Pasien atas nama Ibu Ela sudah sadar Pak. Kebetulan saya baru saja dari sana. Bapak bisa melihat keadaanya sekarang, permisi."
"Oh iya, Terima kasih."
Kepergian suster tersebut membuat Danish melirik sebentar ke arah pintu yang terbuka sedikit. Ia menghela napasnya.
"Dia masih video call sama Diyah. Aku harus ke ruangan Ela walaupun terpaksa."
Danish berjalan cepat menunju kesana dengan raut wajahnya yang datar. Rasa tak semangat membuatnya semakin pusing tujuh keliling dengan memikirkan dua istri sekaligus.
****
Masya Allah Alhamdulillah.. Chapter 57 dah update ya 🥰
Makasih sudah setia sama cerita ini dan sabar dalam ikutin ceritanya ☺
Sabar walaupun cerita ini udh jalan 2 tahun tapi belum selesai🙂
Tapi, Insya Allah aku percaya bersama Allah dan kalian para pembaca aku bisa menyelesaikannya sampai tamat☺
Sekali lagi makasih ya, jgn lupa vote dan komentarnya😘
With Love Lia🥰
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 58 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-58-pasrah-sama-istri.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar