Sebulan kemudian..
Ela mengelus perutnya dengan pelan. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kehamilannya saat ini sudah menginjak usia 2 bulan. Masa-masa trimester pertama memang tidak mudah buatnya.
Rasa lapar membuatnya melangkah menuju dapur. Sesampainya disana, Ela kecewa ketika mual kembali menerjangnya. Dengan cepat Ela menuju wastafel toilet, perutnya terasa gumoh. Tidak ada apapun yang keluar dari hasil muntahannya.
"Ibu Ela butuh saya temani ke dokter?"
Ela menoleh kebelakang. Seorang Ibu paruh baya dengan baik hati menawarkan bantuan untuknya. Dia adalah asisten rumah tangganya yang baru. Ela membutuhkannya setiap waktu semenjak hamil meskipun memiliki seorang suami yang jarang menemuinya.
"Tidak, Mbak Nimas. Terima kasih. Saya hanya butuh istirahat."
"Kalau begitu saya bantu antar ke kamar."
Ela hanya mengangguk lemah. Baru berjalan selangkah, Ela hampir saja terjatuh kalau saja Nimas tidak segera menolongnya.
"Hati-hati, Bu. Ya Allah, saya takut banget kalau terjadi apa-apa."
"Insya Allah, tidak, Mbak. Saya, memang selemah ini."
"Jangan bilang begitu, Bu." Keduanya berjalan keluar dan menuju kamar. "Keluarga saya ada yang hamil muda. Kurang lebih seperti Ibu. Ya, memang, hamil muda memang tidak mudah menghadapi hormon kehamilan seperti mabuk dan pusing. Yang sabar ya, Bu."
"InsyaAllah, Mbak. Terima kasih sudah menyemangati saya."
"Sama-sama, Bu."
"Oh iya, Bu. Apakah Bapak masih sibuk? Karena sudah seminggu Bapak tidak pulang."
Seketika Ela terdiam. Ia sudah berbaring dengan nyaman meskipun kondisinya lemah. Sebenarnya, Nimas tidak pernah mengetahui kalau ia adalah istri kedua Danish. Danish memang suaminya, meskipun membutuhkan sosoknya, namun Ela berusaha menahan keinginannya karena sadar semua itu hanya menyusahkan pria itu.
"Em, Bapak sibuk. Mbak, saya mau istirahat."
"Baik, Bu. Saya permisi."
Nimas pergi dengan ekspresi wajahnya yang canggung setelah Ela mengalihkan pertanyaannya. Ela memegang ponselnya. Tidak ada satupun notifikasi dari Danish. Merasa tidak melakukan kegiatan yang lainnya, Ela membuka sosial media. Seketika ia terdiam, melihat unggahan foto terbaru dari akun instagram Danish. Sebuah foto yang memperlihatkan kedua tangan saling bergenggaman diatas meja. Di sampingnya, ada dua cangkir coklat panas dan muffin. Ela membaca captionnya di unggahan tersebut.
"Waktu yang terus berjalan tidak akan pernah aku sia-siakan dengan bidadari surga yang ada didepanku saat ini. Semangat Nafisah, Sayang."
"Bukankah aku bidadari surgamu juga, Mas?"
Air mata mengalir di pipinya. Rasa cemburu yang sering ia rasakan dan ia tahan selalu menghampirinya. Tetapi, pantaskah kesedihan yang ia rasakan saat ini perlu di kasihani?
Tidak, mungkin sebagian orang-orang disekitarnya malah merendahkannya sebagai seorang wanita yang tidak tahu diri karena sudah merebut kebahagiaan wanita lain.
"Ketika aku mengingat Allah, aku merasa tidak lemah. Aku percaya semua ini sudah menjadi takdir meskipun berawal dari kesalahan yang aku buat. Ya Allah, maafkan hambamu ini."
Detik berikutnya, hanya suara tangisan pelan yang terdengar di balik pintu. Nimas tak sampai hati mendengarnya. Ia sering melihat dan mendengar ibu majikannya itu merenung sendirian dan berakhir dengan isak tangis pelan. Ingin rasanya ia membantu meringankan bebannya dengan mendengarkan semua curhatannya, namun ia sadar, tidak seharusnya ia ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.
****
"Kamu suka?"
"Alhamdulillah, aku suka Mas. Terima kasih ya."
"Sama-sama, Nafisah. Tapi janji ya, kita tidak boleh sering-sering kemari. Tidak baik berada di keramaian dan tempat umum dengan kondisi kamu yang seperti ini."
"Jadi, Mas khawatir?" senyum Nafisah geli.
"Tentu saja. Jangan tersenyum seperti itu Nafisah. Kamu pikir aku bercanda?"
"Khawatir tidak ada uangnya atau khawatir ketahuan orang lain?"
"Kalau uang tentu saja aku ada. Kamu itu istri yang penuh keberkahan dan rezeki yang melimpah dari Allah. Kalau untuk istri, aku nggak perhitungan bahkan, tunggu, apa maksudmu barusan? Khawatir ketahuan orang lain? Jangan menuduhku Nafisah."
"Aku nggak nuduh, kan cuma-"
"Lebih baik kamu makan ya, sayang. Aku-"
"Kenapa Mas? Apakah semuanya baik-baik saja?" potong Nafisah cepat.
"Aku, em.. ya aku, aku.. baik. Memangnya kenapa?"
Nafisah terdiam menatap wajah Danish dengan seksama. Ntah perasaanya atau bukan, kenapa Danish terlihat seolah-olah gugup?
"Nafisah?"
Danish melambaikan tangannya didepan wajah istrinya hingga membuat Nafisah tersadar.
"Ya?"
"Kamu jangan mikir aneh-aneh ya, sama aku."
"Ih, pede banget sih, Mas." Nafisah tertawa. "Ya enggak lah. Aku cuma lagi bahagia aja pandangin wajah suami yang aku rindukan. Kan sudah lama kita tidak menghabiskan waktu seperti ini."
"Hm, ya, kamu benar."
Nafisah hanya tersenyum pelan. Berbeda dengan Danish sendiri saat ini. Ia sadar, sudah seminggu lebih tidak mendatangi Ela. Rasanya ia tidak tega meninggalkan Nafisah walaupun hanya 30 menit saja. Dokter mengatakan kondisi Nafisah mulai membaik meskipun ada kalanya kondisinya tiba-tiba memburuk. Melihat keadaannya yang baik saat ini membuat Danish semakin sulit untuk mengatakan semuanya.
"Mas.. "
"Ya?"
"Aku bahagia.. "
Tiba-tiba air mata menetes di kedua mata Nafisah. Danish panik dan mengusap kedua mata istrinya.
"Nafisah, kamu kenapa? Apakah ada yang sakit."
"Tidak, justru rasa sakit yang aku rasakan saat ini seolah-olah sudah tidak ada lagi."
Nafisah menahan tangan Danish agar tetap di pipinya. "Tangan yang aku pegang sekarang ini adalah tangan ahli surgaku. Ahli surgaku yang selama ini sudah sabar merawatku dan menungguku hingga aku sadar kembali. Mas itu seperti obat buatku, dengan kebahagiaan yang sederhana ini, aku yakin insya Allah seiring berjalan waktu aku bisa sembuh. Mulai sekarang aku akan optimis bisa sembuh. Tetap semangatin aku, ya Mas."
"Iya sayang, apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu dan selamanya akan terus begini."
****
Lisa menggigil kedinginan. Padahal suhu ruangannya normal. Cuaca di luar juga panas. Sedangkan Randi, ia menatap Lisa dengan serius sambil mengompres dahinya.
"Kalau suhumu tidak turun, kita harus ke dokter malam ini. Kamu lagi demam."
"Aku tidak mau."
"Sudah sakit masih saja membangkang?"
"Aku bukan membangkang, aku hanya butuh istirahat."
"Istirahat saja tidak cukup, Lisa."
"Mas-"
"Jadilah istri yang penurut kalau tidak mau kualat!"
"Memangnya Mas sudah benar jadi seorang suami? Bahkan kamu saja menolak calon rezeki, Mas!"
"Calon rezeki, maksudnya?"
"Ya siapa lagi kalau bukan calon rezeki anak? Emangnya calon anak tiba-tiba datang nongol gitu aja didepan pintu tanpa harus berusaha? Tuh lihat Ela, sebulan nikah diam-diam aja sudah dapat rezeki calon anak. Nggak habis pikir deh, suami macam Mas malah nolak punya anak. Aku-"
"Kamu jangan menantangku, Lisa.. "
Seketika Lisa terdiam. Tiba-tiba Randi duduk di sampingnya dengan raut wajah serius.
"M.. Mas mau ngapain?"
"Kita sudah menikah, kamu pikir apa yang harus kita lakukan sekarang apalagi hanya berdua saja?"
Dengan kesal Lisa mendorong tubuh Randi. "Sana, aku lagi sakit. Suami yang benar itu merawat istrinya yang sedang sakit. Bukan bicara yang ngelantur!"
"Bukankah sejak tadi aku sudah merawatmu, hah? Lagian ucapanku tadi serius."
Seketika Lisa terdiam. Ia dan Randi, memang tidak pernah akur apalagi berbicara dengan santai meskipun sebenarnya ia sangat mencintai suaminya. Ntah kalau Randi sendiri, apakah mencintai istrinya atau tidak.
"Nah, kenapa kamu diam? Lagi memikirkan waktu yang tepat? Ah aku tahu, wanita memang butuh persiapan-"
Sebuah bantal sofa melayang begitu saja. Randi ingin protes namun terdiam begitu melihat Lisa malah meraih dompet miliknya di atas meja.
"Apa yang kamu lakukan, kembalikan dompetku!"
"Uangmu uangku juga, Mas. Aku akan memakai semua uang ini buat belanja. Ah totalnya ada 1 juta."
"Jangan di ambil semua, istri yang baik tidak boros! Kalau kamu mau beli pakaian tidur yang tipis buat menghiburku aku tidak masalah. Aku, Argh! Ya Allah, Lisa! "
Lagi-lagi Lisa melempar bantal sofa kearahnya sembari pergi keluar kamar dengan menambah pegangan black card miliknya.
"Oke, baiklah. Aku akan mengalah. Kalau Istri bahagia maka rezeki suami akan di tambah Allah." ucap Randi dengan lesu.
****
Masya Allah Alhamdulillah.. Dah up ya 🥰
Makasih sudah baca. Hhe..
Part nya kita baca santai dulu ya, no tegang-tegang.. 😁
Setelah itu.. 😌
Ah sudahlah, ditunggu aja ya, next Insya Allah chapter 59😊🙏
See u... 😘
With Love Lia❤
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 59 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-59-fakta-yang-sebenarnya.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar