Danish mendorong kursi roda Nafisah menuju ruang tamu. Setelahnya ia membantu Nafisah berdiri menuju sofa.
"Mas, aku bisa sendiri kok."
"Aku bantu, Hati-hati."
"Besok-besok kita nggak perlu pakai kursi roda ya."
"Kenapa?"
"Ya, nggak apa-apa sih, Mas. Rasanya kayak ribet banget."
"Tetap pakai saja, sayang. Setidaknya kamu tidak terlalu kelelahan."
"Insya Allah nggak, Mas. Malahan saat ini aku merasa mendingan."
"Oh ya?" Akhirnya keduanya pun duduk di sofa dengan santai.
"Hm.. " Nafisah mengangguk dan tersenyum. "Sebenarnya, aku ada ikhtiar minum air rendaman kurma dan obat herbal hebatusauda."
"Apakah tidak apa-apa?"
"Insya Allah nggak, Mas. Hebatusauda itu herbal yang berasal dari jintan hitam. Bahkan Nabi Muhammad SAW dalam hadist Abu Hurairah r.a bersabda "Sesungguhnya didalam jintan hitam itu terdapat obat dari segala macam penyakit, kecuali kematian."
"Ah iya, aku pernah melihat hadist tersebut di salah satu kemasan hebatusauda yang ada di toko herbal. Jadi, sudah berapa lama minumnya?"
"Baru seminggu."
"Alhamdulillah, semoga ikhtiarnya berjalan lancar dan istriku yang solehah ini bisa sembuh."
Nafisah tersipu malu. Sejujurnya ucapan Danish barusan semakin membuat mood dan perasaannya membaik. Danish menyemangatinya hingga harapannya bisa sembuh semakin membuatnya semangat. Ia pun merubah posisi dengan duduk menyamping.
"Mas.. "
"Hm.. "
"Sudah lama, aku tidak menjalankan kewajibanku sebagai istri."
Nafisah memegang punggung tangan Danish dengan pelan hingga membuat suaminya itu tersenyum tipis.
"Ya, aku tahu itu."
"Maaf, jika selama ini, Mas harus menahan kebutuhan biologisnya sebagai seorang suami. Aku memang istri yang banyak kekurangan. Pernikahan kita sudah hampir 6 bulan, mungkin jika tidak sakit, bisa jadi saat ini aku sedang hamil."
Danish pun menyentuh pipi Nafisah. "Jangan berandai-andai, itu tidak baik. Justru aku malah menerima semua kekuranganmu Nafisah. Tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri. Tapi, apakah, kamu tidak apa-apa, em maksud aku... " Ia pun menyentuh belakang kepalanya seperti salah tingkah.
"Aku baik-baik saja."
Danish pun berdiri, ia menggenggam tangan Nafisah. Tatapan keduanya di penuhi cinta dan rasa rindu yang mendalam. Keduanya pun berjalan menuju kamar. Danish tak bisa menahan senyumnya, tentu saja ia akan melakukannya dengan orang yang di cintainya.
"Baiklah, bismillah ya, sayang."
****
Ponsel berdering di atas meja, Danish yang baru saja hendak tertidur mau tidak mau harus terbangun. Danish menoleh ke samping, Nafisah tertidur pulas. Ia tersenyum tipis dan menyempatkan diri untuk mencium keningnya.
"Mama? Kenapa hubungin aku malam-malam begini?" Danish pun segera menerima panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum, iya Ma?"
"Wa'alaikumussalam. Danish, maaf Mama menghubungi kamu malam-malam begini."
"Apakah semuanya baik-baik saja, Ma?"
"Ya, semua baik. Ini hanya masalah kecil, tapi Mama yakin ini sangat penting. Terutama untuk Nafisah.."
"Nafisah? Maksudnya?"
Danish menoleh ke samping. Dengan pelan ia menggeser posisinya untuk turun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon apartemen. Sesampainya disana, seketika raut wajah Danish berubah menjadi serius. Tak hanya itu, ia sangat terkejut dan syok.
"Apa?!"
*****
Randi berjalan memasuki lift untuk menuju ruang rapat. Disana, sudah ada beberapa para investor yang akan siap bekerja sama dengan perusahaannya. Disebelahnya, ada Danish yang terlihat tegang.
"Apakah semuanya baik-baik saja Danish?"
"Iya, Pak. Semuanya baik."
"Kenapa raut wajahmu terlihat tidak ramah dengan saya?"
"Maaf, Pak. Saya tidak begitu."
Randi memilih diam. Sejujurnya ia sadar kalau Danish terlihat seperti menahan amarah dengannya. Ada apa dengan asistennya itu? Tapi iya yakin, jika saja saat ini tidak ada sikap formalitas, maka perselisihan pasti akan terjadi. Jangan pernah lupakan istrinya si Lisa itu pernah menyakiti keluarga Danish. Pintu lift terbuka, keduanya segera memasuki ruang rapat.
"Danish apakah kau sudah buat materi proposal untuk rapat hari ini?" tanya Randi sedikit berbisik.
"Saya sudah membuat proposalnya dan saya juga membuat file copynya untuk kita di bagikan kepada calon investor, selebihnya saya akan memaparkan isi proposal menggunakan power point yang sudah saya buat. "
Akhirnya rapat pun di mulai, Danish mulai menjelaskan semua persentasi nya dengan serius.
"Kali ini kami akan memaparkan omzet perusahaan Media Surya Citra Corp ini dalam 1 tahun terakhir. Oke langsung saja saya buka Power Point saya pada halaman pertama. Seperti yang Bapak-bapak lihat, perusahaan kami mengalami lonjakan omzet yang fantastis bagai petir menyambar, keuntungan perusahaan kami 2 tahun silam hanya mencapai 300 Milyar pertahun, tapi pada 1 tahun terakhir ini omzet kami meningkat menjadi 1 Triliun rupiah. Hal itu disebabkan perusahaan penyiaran kami telah menyediakan siaran dengan kualitas digital berhubungan perusahaan-perusahaan TV saat ini telah beralih ke TV Digital. Tentu saja semuanya sangat mempengaruhi kualitas siaran, yang pasti kualitas siaran menjadi HD dan suara pun sangat jelas. Tidak semua perusahaan penyiaraan sudah beralih ke versi Digital, sebab peralihan ke versi Digital membutuhkan tidak sedikit Dana."
Para investor terlihat saling berbisik sembari memperhatikan persentasi Danish.
"Sedangkan kami walaupun terkendala dana, Tapi kami tetap nekat beralih ke penyiaran Digital menggunakan uang kas perusahaan yang telah di kumpulkan dalam 2 Tahun. Sungguh luar biasa, begitu kami beralih ke penyiaran Digital,
Pengiklan berdatangan untuk beriklan di perusahaan kami dan jumlahnya sangat banyak, tentu saja kami naikkan tarif iklannya sebab slot iklan yang tersedia terbatas
Sehingga omzet kami mencapat 1 Triliun Rupiah dalam 1 tahun. Jadi maksud kami mengundang Bapak-bapak kemari adalah untuk kami ajak berinvestasi di perusahaan penyiaran kami. Kami ingin menyediakan alat STB ke daerah desa, terutama di kota ini dulu agar masyarakat yang masih menggunakan TV tabung tetap bisa menonton siaran kami dengan kualitas HD. Sampai disini, jika ada pertanyaan, kami akan menjawabnya."
"Berapa lama waktu yang di butuhkan agar balik modal?"
"Sebelumnya alat itu tidak diberikan cuma-cuma tetapi disewakan, dan sudah kami perhitungkan kira-kira dalam 3 tahun Investor akan balik modal dan sisanya adalah keuntungan sampai umur STB nya habis. Perkiraan kami umur STB akan bertahan 10 tahun. Apakah ada pertanyaan lain?"
Para investor terlihat enggan bertanya lagi. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya 30 menit kemudian rapat pun berakhir.
"Baiklah, ini adalah pemaparan dari kami, selebihnya Bapak-bapak bisa memikirkan terlebih dahulu apakah ingin berinvestasi pada perusahaan kami atau tidak. "
Satu per satu mereka saling berjabat tangan dan berbincang sejenak hanya untuk sekedar basa basi sebelum pergi dari sana. Setelah semuanya benar-benar berakhir, Danish langsung mendekati Randi.
"Pak.. "
"Ya?"
"Ini buat istri Bapak. Tolong berikan padanya."
Randi mengerutkan dahinya. Ia menerima plastik klip yang berisi kartu memori eksternal.
"Untuk apa?"
"Setelah Bapak dan istri Bapak melihatnya, kalian akan mengetahui isinya. Maaf saya harus berkata seperti ini, semoga kelak istri Bapak bisa menyadari semua kesalahannya. Saya, izin ke toilet sebentar, permisi."
Danish tak menunggu reaksi dari Randi. Jika saja ia tidak memikirkan bagaimana mencari sebuah pekerjaan itu sangat sulit, mungkin ia memilih resign dari sana. Setelah apa yang terjadi, tentu saja ia tidak sudi bekerja dengan seorang pria yang dulu pernah menyakiti Nafisah. Tak hanya itu, di tambah lagi Lisa yang juga memperparah situasinya.
Dari semua itu, sejujurnya ia hanya bisa mengingat Allah dan menahan rasa sabar untuk bisa memaafkan apa yang sudah mereka lakukan pada keluarganya. Bersyukur Allah mempermudahkan dirinya dalam memperoleh sebuah pekerjaan meskipun di uji dengan atasan yang pernah mengecewakan Nafisah.
"Semudah itu, Allah berkehendak untuk melihatkan semua faktanya melalui video yang ada di kartu memori itu."
****
Masya Allah Alhamdulillah... ☺
Hai aku kembali up ya😃
Btw.. Kira-kira fakta apa lagi ya, yang ditemukan Danish tentang Nafisah setelah tiba-tiba Mama nya menghubunginya? 🤔
Tetap stay sama cerita ini. Maaf ya updatenya ngaret🙏
Oh iya, Alhamdulillah ini tanggal 1 April 2022 , sebentar lagi puasa Ramadhan 1443H tiba tepat tanggal 3 April setelah hasil sidang isbat.. 🥰
Makasih ya sudah baca. Moga di bulan puasa ini aku sebagai penulis bs up rutin. Insya Allah, Aamiin.. 😘
With Love Lia❤
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 60 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-60-sindiran.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar