Plak!
Nafisah merasa pipinya kebas. Rasa perihnya begitu perih. Ia menundukkan wajahnya. Kakak kelas yang berada di hadapannya kini menatapnya tajam. Sementara Dara mengamit lengan Nafisah dengan ketakutan yang sama. Ia juga tertunduk dan berharap agar Lala tidak ikut memukulnya.
"Kamu kan, yang sudah mempengaruhi Rio supaya jauh dari aku? Kamu juga kan, yang sudah bikin dia mutusin aku? JAWAB!"
"Bu.. Bukan saya kak. Saya.. Saya cuma bilang kalau pacaran itu tidak di perbolehkan dalam islam. Dia-"
Plak!
Lagi-lagi Lala menampar Nafisah. Habis sudah kesabarannya. 2 tahun ia menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Rio tiba-tiba kandas begitu saja.
"Kamu nggak perlu sok alim dan ikut campur semua urusanku! Kamu itu nggak ada apa-apanya di banding aku. Kampungan, sok polos, dan perebut pacar orang!"
Dengan amarahnya Lala menjambak jilbab Nafisah. Dara tak tinggal diam, ia ikut membela Nafisah dengan menjauhkan Sahabatnya itu dari amarah Lala.
"Kak, sudah cukup. Bukan salah Nafisah. Sebenarnya pacar Kakak yang ingin hijrah setelah meminta pendapat dengan Nafisah." ucap Dara akhirnya dengan napas tersenggal-senggal.
"Apa? Tidak mungkin! Aku tahu Rioku tidak seperti cowok yang kalian pikirkan. Dia-"
"Nafisah, Dara, kalian baik-baik saja?"
Tiba-tiba Alina datang dengan raut wajah pucat setelah mendapatkan feeling tidak enak. Ia langsung bergegas ke lantai gedung sekolah paling atas untuk memastikannya. Keadaan benar-benar sepi setelah jadwal class meeting usai 1 jam yang lalu. Di saat yang sama, Rio pun juga datang. Ia terkejut melihat Nafisah dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Lala.. Dengarkan penjelasanku dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku benar-benar ingin hijrah, La. Setelah aku tahu pacaran tidak di perbolehkan dalam islam, aku memutuskan untuk menyudahi hubungan ini."
Air mata mengalir di pipi Lala. Rasanya ia masih tak puas dengan semua ucapan Rio. Ia yakin, masih ada hal lain yang Rio simpan darinya. 2 tahun menjalin hubungan tidaklah sebentar. Ia tahu bagaimana sifat dan watak Rio nya. Lala tersenyum masam. Ia langsung pada intinya.
"Kamu sudah bosan kan, sama aku? Kamu jatuh cinta sama Nafisah yang lebih alim daripada aku, kan?"
"Lala, please, aku-"
"JAWAB!"
"Lala dengarkan aku, " Rio memajukan langkahnya, sementara dengan cepat Dara menarik lengan Nafisah. Perasaan Dara sedikit tenang, Nafisah sudah aman berada di dekat dengannya.
"La, aku harap kamu bisa menerima semua ini. Kita jalani hubungan ini masing-masing terlebih dahulu. Setelah waktunya tiba dimasa yang akan datang, aku janji akan kembali padamu dengan cara menghalalkanmu."
"Tidak.. " Lala semakin memundurkan langkahnya, ia tidak sadar kalau ia bisa saja jatuh ke lantai bawah sementara bangunan tersebut baru saja di renovasi dan tidak ada penghalang apapun.
"Aku tidak bisa percaya dengamu Rio. Bagimu bisa, tidak bagiku."
"Tapi kamu harus percaya, La. Aku tetaplah Rio yang kamu cintai. Yang berubah hanyalah hijrahku dengan meninggalkan kemaksiatan. Aku masih perduli denganmu sebagai saudara semuslim, apalagi kita masih sekolah."
Air mata semakin deras mengalir dipipi Lala. Akhirnya ia tertawa keras. Tertawa dalam penderitaan dan kekecewaan. Untuk terakhir kalinya, ia menatap Rio dengan tatapan kesedihannya.
"Kalau kamu perduli denganku. Kenapa kita tidak menikah saja sekarang?"
"Tidak.. Itu tidak mungkin La. Kita masih muda, masih banyak impian dan cita-citanya yang harus kita raih."
"Tapi aku hamil RIO! AKU HAMIL!"
Semua yang ada disana, terbungkam dan syok. Lala sudah tidak bisa menutupi aibnya lagi disaat seperti ini. Baginya percuma, Rio akan tetap meninggalkannya. Rio meneguk ludahnya dengan gugup, ntah kenapa ia tidak sanggup dengan semua ini yang terlalu mendadak. Tanpa sadar ia membalikkan badanya begitu saja dengan raut wajah pucat tanpa ekspresi.
Bruk!
"Ya Allah Kak Lala!!! "
Nafisah histeris begitupun Alina dan Dara. Tanpa ketiganya sadari, Lala nekat bunuh diri jatuh ke lantai bawah.
*
Prank....
Suara derap langkah kaki terdengar sampai akhirnya pintu terbuka lebar. Lisa sadar, Randi pasti panik setelah melihat semuanya.
"Astagfirullahaladzim, Lisa!"
Lisa hanya bisa diam, ia duduk sambil menyembunyikan wajahnya. Lisa memeluk lututnya, disebelahnya terdapat meja kerja. Randi bisa melihat kalau diatasnya terdapat laptop yang masih menyala, memperlihatkan tampilan sebuah video yang sudah di pause sampai akhir. Randi menghela napasnya, ia ikut berjongkok.
"Dia nggak salah.. Dia.. " Hiks, "Dia.. Ya ampun, ternyata selama ini dia.. dia. Bukan dia pembunuh Kakakku, tapi Kak Lala sendiri yang bunuh diri jatuh dari atas ketinggian... "
Randi bingung harus bersikap bagaimana. Sebenarnya ia sudah melihat video itu kemarin setelah Danish memberikan kartu memori eksternal padanya.
"Kamu harus minta maaf padanya."
"Mas juga harus minta maaf!"
"Aku salah apa? Aku sudah minta maaf dengannya. Aku-"
"Bukan sama dia, tapi sama aku!"
"Loh, salah aku apa?" tanya Randi bingung.
"Salah Mas itu nggak peka jadi seorang suami! Sudah tahu istrinya lagi menangis malah dianya ikut jongkok sambil bengong lihat istrinya!"
"Terus kamu maunya gimana?"
Lisa semakin kesal. Yang ada ia malah berdiri dan pergi dari sana. Lisa memilih menuju pintu sampai akhirnya perlakuan tiba-tiba membuatnya terdiam, Randi memeluknya dari belakang. Bahkan menumpukkan dagunya pada bahu istrinya sekarang.
"Maaf... "
Lisa tetap diam. Pertama kali setelah menikah, suaminya memeluknya. Dengan perlahan Randi membalikan posisi Lisa hingga keduanya saling berhadapan.
"Sejujurnya aku juga terkejut dengan semua kenyataan itu dari video yang aku lihat. Sekarang kamu sudah tahu, kalau Nafisah selama ini tidak salah?"
Lisa mengangguk lemah. "Ya, aku tahu. Aku merasa berdosa sekali sudah menyakitinya bahkan.. " Lisa menundukkan wajahnya. Ia semakin bersalah dan Randi kembali memeluknya. "Bahkan aku tega menjual kehormatannya pada pria hidung belang di masalalu."
"Tapi pria hidung belang itu sekarang malah jadi jodohmu."
"Maafkan aku.. "
"Kita harus meminta maaf padanya. Kalau kita bertaubat dan memohon ampun pada Allah agar tidak mengulanginya lagi, Allah akan memaafkan kita. Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tetapi kesalahan yang kita buat terhadap saudara se muslim, belum tentu kesalahan itu akan termaafkan."
"Apa yang harus kita lakukan, Mas? Kini aku menyesal."
"Kita kerumahnya. Besok hari libur. Bagaimana?"
"Tapi... "
"Kenapa?"
"Aku ragu. Aku takut dia tidak memaafkanku bahkan mengusir kita. Mas juga pernah melukai perasaannya. Nggak semudah itu, Mas."
Randi terdiam. Ya, Lisa benar. Tidak semudah itu mendapatkan maaf dari Nafisah yang sudah terdzolimi. Ia pun memegang kedua pipi istrinya, dan tersenyum pelan.
"Kita akan mencobanya, besok. Semoga Allah membukakan pintu hatinya untuk memaafkan kita.. "
"Aamiin.. "
Ntah dorongan dari mana, dengan perlahan untuk pertama kali Randi mencium kening Lisa tanpa paksaan. Ia ingin menenangkan istrinya beserta hatinya sendiri. Dan semua itu rasanya begitu damai di hati.
*****
Ela berdiri dengan rasa kaki yang begitu pegal. Antriannya lumayan panjang hanya untuk sekedar membeli pancake dan frape chocolate. Ela mengelus perutnya dengan pelan. Kalau bukan karena mengidam ingin keluar apartemen dan makan di tempat, tentu saja lebih baik ia memilih layanan pesan antar secara online.
"Mas... "
"Ya?"
"Kenapa tegang begitu wajahnya." tanya Nafisah heran.
"Ha? Em, aku biasa saja. Kamu nggak makan es cream nya?" tanya Danish balik, berusaha mengalihkan pertanyaan istrinya. Tapi apa yang di tanya Nafisah memang benar. Tentu saja reaksi wajahnya begitu tegang karena ia melihat Ela di barisan antrian.
"Ini lagi dimakan, Mas. Nggak lihat?"
"Ah iya.. " Danish tersenyum kikuk. Kegelisahannya makin nampak bagi Nafisah. Berusaha menghalau pikiran yang tidak-tidak, Nafisah memilih bungkam.
"Mas, bagaimana kabar Mama?"
"Alhamdullilah baik."
"Sekolah Diyah, bagaimana?"
"Ada kemajuan. Putri kita itu cepat sekali beradaptasi di lingkungan sekolahnya yang baru."
"Oh ya?"
"Hm, begitulah. Mau videocall?"
"Boleh?"
"Tentu.. Aku juga merindukannya."
Setelah selesai mengantri, kini Ela mencari tempat duduk yang tidak terlalu banyak di huni pengunjung. Seketika Ela terdiam, niatnya ingin melangkah terhenti. Dari jauh ia melihat Danish dan Nafisah. Ela meremas pelan nampan yang ia pegang, lagi-lagi hatinya cemburu. Namun ia kembali sadar, kalau ia hanya istri kedua yang tidak memiliki keistimewaan apapun bagi Danish. Ela memilih membalikan badannya, bruk!
"Ya Allah Maaf, Mas!"
"Eh Mbak! Kalau jalan lihat-lihat dong, baju saya jadi kotor nih! Malah buru-buru lagi mau ketemu klien!"
"Astagfirullahaladzim, maaf, Mas, maaf. Saya tidak sengaja.."
"Alahh, nggak usah ngeles. Gara-gara kamu, jadwal saya jadi berantakan! Dasar cewek-"
Dengan kasar pria itu mendorong Ela begitu saja. Ela meringis namun secepat itu tiba-tiba sebuah pelukan datang dari belakang tubuhnya. Ela menoleh ke belakang, terkejut bahwa Danish menolongnya dengan cepat.
"Hei, Mas, jangan kasar sama wanita!"
"Saya nggak ada urusan ya sama Anda!"
Keributan pun terjadi sampai akhirnya security restoran siap saji datang di waktu yang tepat dan melerai keduanya. Ela sedikit syok dan terguncang. Ia memegang pelan perutnya, menjaga calon buah hatinya yang masih rawan agar baik-baik saja.
"Ela.. Ya Allah, kamu nggak apa-apa?"
Nafisah datang begitu saja setelah baru saja video call Dengan Diyah dan melihat keributan kecil. Dengan cepat Danish melepas rengkuhan Ela. Hatinya semakin tidak karuan, bertemu dengan kedua istrinya di waktu bersamaan.
"Aku... Ya, aku nggak apa-apa."
"Ayo duduk sama kami, kamu mau pancake? Punya aku masih ada, belum tersentuh."
Ela menolak, sedangkan Danish semakin tidak tenang. "Em, nggak Mbak. Saya-"
"Pancake kamu jatuh ke lantai, Ela. Kalau mau antri, kan lama. Aku sudah kenyang, daripada mubazir? Nggak apa-apa kan, Mas?"
"Em.. Itu.. "
"Mbak, beneran saya mau pulang saja. Kebetulan tiba-tiba saya tidak enak badan."
"Beneran..?"
"I.. Iya, Mbak. Saya-" Ela terlihat meringis, menahan sakit pada perutnya. Danish mulai panik, khawatir terjadi sesuatu. Biar bagaimana pun, Ela istrinya. Namun gesture tubuhnya sedang menahan diri agar semuanya tidak ketahuan.
"Ela, ayo duduk dulu."
Akhirnya Ela mengalah. Mungkin ia harus duduk sebentar untuk meredakan keram di perutnya akibat syok. Ela pun duduk dengan pelan dan rasa canggung. Di hadapan mereka ada Danish dan Nafisah.
"Ini, makanlah milikku. Tapi, topingnya siraman madu dan buah stroberi, nggak apa-apa?"
"Iya, nggak apa-apa, Mbak. Saya suka kok."
Nafisah melanjutkan makan es cream nya. Sementara Danish tetap diam, bingung harus bersikap bagaimana. Kecanggungan itu terus terjadi sampai 15 menit hingga akhirnya es cream yang di makan Nafisah habis.
"Mas?"
"Ya?"
"Kok diam, apakah semuanya baik-baik saja?"
"Iya, semuanya baik."
Nafisah menatap Ela dan mengerutkan dahinya. "Ela, kok pancake nya nggak dimakan?"
"Em.. Itu, perut saya masih sakit."
"Bagian perutnya ya yang sakit? Masuk angin atau gimana?"
"I.. Iya, mungkin saya masuk angin. Semalam hujan dan saya lupa mematikan AC di ruangan." Dengan canggung akhirnya Ela mulai mencicipi pancake nya. Rasanya begitu lega, akhirnya ngidamnya tercapai.
"Ela gemukan ya, sekarang. Pipinya sedikit, em chubby."
"Uhukk!!" Tiba-tiba Danish terbatuk, buru-buru ia meraih air mineral dan meminumnya.
"Ya Allah, Mas.. Pelan-pelan. Kok bisa batuk begini, sih? Lagi makan juga enggak, apalagi tersedak?"
Dengan perhatian Nafisah meraih tisu dan mengelap sisa air yang sedikit terlihat di sudut bibir Danish. Tak hanya itu, Nafisah juga mengelus pelan Dada Danish yang baru saja terbatuk. Nafisah menatapnya khawatir, sementara Ela merasa tidak nyaman melihat semua itu.
"Sudah, sayang, aku tidak apa-apa."
"Beneran? Mas kenapa sih dari tadi? Ntah perasaanku saja atau tidak, wajah Mas itu pucat banget? Mas sakit? Apakah karena kelelahan?"
"Nggak, aku baik-baik saja. Sudah ya, jangan cemas."
Dengan jelas Ela melihat Danish menyentuh pipi Nafisah dan menatapnya penuh cinta. Tanpa diduga Ela langsung berdiri. Ia sudah tidak tahan bagaikan obat nyamuk yang harus menahan cemburu secara langsung.
"Maaf, saya harus pulang."
"Kok buru-buru?" tanya Nafisah heran.
"Saya nggak apa-apa kok. Saya mau pulang dan segera istirahat. Kebetulan saya lagi nunggu seseorang untuk datang ke apartemen saya, Mbak. Sudah setengah bulan dia nggak datang. Dan saya berharap orang itu segera datang.. "
"Ya ampun, tega sekali orang itu. Memangnya dia siapa?"
Ela melirik ke arah Danish. Meskipun tatapan keduanya bertemu, Danish sadar bahwa ucapan Ela barusan sindiran untuknya.
"Saya permisi ya, Mbak."
Keduanya cipika cipiki, dalam seperkian detik, air mata menetes di pipi Ela. Danish melihatnya dengan jelas. Tatapan yang di berikan Ela padanya adalah tatapan kekecewaan. Dengan cepat Ela menghapus air mata tersebut sebelum Nafisah menjauhkan posisi tubuhnya darinya.
"Assalamu'alaikum, Mbak Nafisah.. "
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati, ya Ela."
Ela hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian membalikan badannya. Danish menghela napasnya. Hingga sampai saat ini, ia masih tidak mampu mengungkapkan semuanya pada Nafisah.
****
Masya Allah Alhamdulillah. Udh up ya, chapter 60.
Makasih sudah baca. Part kali ini nano nano 😁
Tetap tunggu kelanjutannya ya, insya Allah segera..
With Love ❤ Lia
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 61 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-61-rahasia-yang-pahit.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar