Chapter 61 : Rahasia Yang Pahit - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 61 : Rahasia Yang Pahit


"Serius nggak apa-apa?"

"Iya, Mas.."

"Lagian cuma duduk santai di sekitar taman dekat apartemen sini kok. Insya Allah nggak apa-apa,"

"Aku hanya khawatir itu saja. Setiap kamu bilang mau keluar rumah sendirian, aku nggak tenang. Em, bagaimana kalau kita cari asisten yang bisa menemani kamu dan membantu memenuhi kebutuhan kamu disaat aku tidak dirumah?"

"Apakah tidak apa-apa? Maksud aku, biayanya-"

"Allah akan bantu kita, Nafisah."

Nafisah tersenyum dan akhirnya mengalah. "Baiklah, terserah, Mas."

"Kalau begitu hati-hati, ya. Aku berangkat kerja dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Nafisah mengantar kepergian Danish menuju pintu luar dan tak lupa mencium punggung tangannya. Setelah itu, Nafisah mempersiapkan dirinya. Sudah lama sekali ia tidak berjalan-jalan sekitar taman. Ponselnya berdering, Nafisah melihat layarnya ketika Mama mertuanya menghubunginya.

"Assalamu'alaikum, iya Ma?"

"Wa'alaikumussalam. Hai sayang, apa kabarmu hari ini?"

"Alhamdulillah, baik Ma. Mama dan sekeluarga disana bagaimana? Diyah juga sehat, kan?"

"Alhamdulillah sehat, Ma."

"Nafisah, em, apakah kamu sibuk?"

"Kebetulan tidak, apakah ada hal penting, Ma?"

"Sebenarnya.. " di lain sisi, seketika Aminah terdiam. Ia sendiri ragu untuk berbicara soal Ela. Apakah Nafisah sudah mengetahui semuanya atau belum kalau Danish mempoligaminya.

"Ma?"

"Ya? Ah iya, apakah kondisimu baik? Bagaimana pengobatannya?"

"Alhamdulillah sedikit mendingan dari sebelumnya walaupun drop bisa terjadi kapan saja. Dokter menyarankan agar aku tidak banyak pikiran dan sampai stress, Ma."

"Lalu, apakah Danish selama ini bersamamu?"

Nafisah mengerutkan dahinya. Tentu iya kan? Danish bersamanya? Kenapa Mama bertanya seperti seolah-olah Danish sibuk dengan kegiatan lain?

"Maksud Mama?"

"Oh, em, itu Maksudnya walaupun Danish sibuk di kantor, tapi dia tetap memprioritaskan dirimu kan? Tahu sendiri lah, menjadi asisten atasan itu super sibuk."

Lalu Aminah tertawa. Terdengar kaku dan terpaksa. Ada apa sih dengan semua orang akhir-akhir ini? batin Nafisah sekarang.

"Tentu, Ma. Danish insya Allah selalu mengutamakan aku. Jangan khawatir."

"Baiklah kalau begitu. Semoga Allah segera mengangkat penyakitmu sekaligus sebagai penggugur dosa sebagai hamba Allah. Bukankah impian kamu ingin umroh? Mama doakan mudahan kamu dan Danish bisa berangkat bersama."

"Aamiin ya Allah, makasih Ma. Kok Mama tahu impian aku?"

"Diyah yang memberitahu semuanya pada Mama."

Obrolan pun terus terjalin sebelum panggilan benar-benar berakhir. Setelah berakhir, Aminah terdiam. Seketika ia teringat tetangganya yang sekarang telah menjadi besan keduanya, si Pak RT dan Ibu Rt.

"Alhamdulillah, Bu. Ela hamil. Kondisinya saat ini sudah berjalan 2 bulan."

Aminah menghela napasnya. Ia yakin seyakin-yakinnya, kalau Nafisah belum mengetahui semuanya dan Danish belum berani jujur pada Nafisah. Ntah apa yang terjadi jika menantunya itu tahu semuanya.

"Seperti bom waktu, yang bisa meledak kapan saja. Ya Allah, berilah kekuatan dan kesabaran pada anak-anak kami dalam menjalani bahtera rumah tangga mereka yang saat ini tidak mudah di jalani, Aamiin. "

****

Lisa mengemudikan mobilnya. Ia memperlambat laju kendaraannya begitu melintasi sebuah taman di pinggir jalan.

"Itu dia.. " Lisa mematikan mesin mobilnya. Tanpa sengaja ia melihat Nafisah sedang duduk di bangku taman. Seketika ia ragu. "Kalau bertemu dengannya secara dadakan, apakah tidak apa-apa?"

Lisa terdiam sejenak, memikirkan apakah caranya kali ini sudah tepat atau tidak. Butuh waktu sampai Bermenit-menit sampai akhirnya Lisa menguatkan hatinya untuk keluar mobil.

Dengan perlahan ia berjalan dan mendekati Nafisah. Nafisah sendiri tidak sadar kalau ada seseorang di belakangnya.

"A.. Assalamu'alaikum, Nafisah.. " sapa Lisa terbata.

"Wa'alaikumussalam, ya?"

Nafisah terkejut begitu menoleh ke kebelakang. Seketika wajahnya pucat. Ia memundurkan langkahnya.

"Ka.. Kamu, ngapain kesini?"

"Nafisah, aku-"

"Demi Allah, aku.. Aku tidak ada hubungannya dengan Randi. Jadi, jangan..jangan menyakitiku lagi. Aku, aku harus pergi."

Dengan cepat Nafisah pergi dari sana. Tubuhnya gemetar ketakutan. Terakhir ia bertemu dengan Lisa, semua berakhir dengan masalah dan musibah. Seketika pikirannya buntu. Ntah kenapa tiba-tiba ia teringat Danish. Nafisah sadar, sekarang jam makan siang. Kemungkinan saat ini Danish sedang berada di jam istrirahat.

Nafisah bergegas menuju perusahaan tempat dimana Danish bekerja menggunakan layanan taksi online. Ia menghalau rasa takut yang sebelumnya pernah ia rasakan ketikan bertemu dengan Randi kapan saja. Ia butuh Danish walaupun hanya beberapa menit. Sesampainya disana, Nafisah terdiam, terlihat ragu untuk memasuki lobby perusahaan.

Di saat yang sama Randi melihat Nafisah dari kejauhan. Randi mengecek jam di pergelangan tangan kirinya, sudah 10 menit berlalu ia mengetahui bahwa Danish baru saja izin pamit pergi padanya.

"Pak, ini jam istirahat. Saya izin ke rumah, saya ada perlu dengan istri saya. Hanya sebentar, 30 menit."

"Oke, tidak masalah. Semua pekerjaan juga sudah tuntas. Cepat kembali bila semua urusanmu sudah selesai."

Randi teringat percakapan singkatnya dengan Danish 10 menit yang lalu. Hampir saja ia lupa kalau asistennya itu memiliki dua istri. Namun, saat ini Nafisah berada didepan matanya dari jarak beberapa meter. Bila Nafisah ada disini, lalu siapa sosok istri yang Danish datangi saat ini?

Randi menghela napasnya. Tentu saja ia tahu dengan jelas kalau Danish pasti mendatangi Ela. Randi menatap Nafisah dengan iba.

"Nafisah, seandainya kamu tahu.. "

****

Masya Allah Alhamdulillah..
Aku sudah up lagi ya chapter 61.

Makasih sudah baca ☺

Sehat selalu buat kalian ya. Tetap kuatkan hati selama baca cerita ini hhe 😘

With Love ❤Lia

Instagram : lia_rezaa_vahlefii


NEXT CHAPTER 62 :

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-62-hadiah-terindah.html



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu