"Alhamdulillah ya, Kondisi janinnya sehat. Sekarang sudah memasuki usia 3 bulan. Detak jantungnya sudah ada. Sebentar.. "
Seorang ibu Dokter senior dengan cermat memeriksa kondisi kehamilan Ela. Setelah itu, suara detak jantung pun terdengar. Tak ada yang bisa Ela ucapkan selain rasa harunya dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, sementara Danish hanya bisa diam melihat itu semua.
Danish sadar, Ela terlihat bahagia. Pengalaman pertamanya yang telah menjadi seorang ibu. Mengingatkan pada masalalu ketika ia menemani Alina untuk pertama kalinya. Saat itu, tentu saja ia bahagia. Alina hamil anak pertama mereka bernama Diyah. Namun sekarang, semua terasa hambar. Tidak ada kebahagiaan apapun yang ia rasakan saat ini, yang hanya rasa bersalah dan tidak tenang.
Pemeriksaan pun selesai. Ela di nyatakan sehat beserta kandungannya. Tak terasa sudah 3 bulan berlalu, secepat itu waktu terus berjalan termasuk ketakutannya untuk jujur pada Nafisah tentang semua ini.
Danish dan Ela keluar ruangan. Ela terlihat bahagia sembari memegang selembar foto hasil USG di tangannya. Danish sadar akan hal itu, namun ia lebih memilih diam. Yang penting ia sudah menepati janjinya menemani wanita itu. Setelah itu urusan selesai.
"Berikan kunci mobilmu, aku yang akan menyetir."
"Boleh, ini."
Selama perjalanan, keduanya terdiam. Tidak ada yang berbicara sedikitpun apalagi hanya sekedar basa basi. Terlalu lama diam, akhirnya Ela mulai membatin dalam hatinya. Tidak ada sedikit pun kah Danish memiliki rasa perduli pada dirinya dan kehamilannya saat ini?
"Mas.. "
"Hm."
"Maaf sudah merepotkanmu."
"Tidak apa-apa."
"Alhamdulillah, janinnya sehat dan-"
"Aku akan langsung ke perusahaan. Apakah tidak apa-apa jika kamu menyentir sendirian?"
Seketika Ela terdiam. Ya, danish baru saja mengalihkan ucapannya seolah-olah semua yang ada padanya memang tidaklah penting. Tidak mudah, memaksakan seseorang yang memang tidak mencintainya walaupun waktu sudah berjalan 3 bulan.
"Em, ya. Aku sudah biasa nyetir sendiri."
"Oke."
Waktu yang terus berjalan akhirnya membuat mereka tiba di tujuan yaitu bassement parkiran. Danish melepas safety beltnya, lalu membuka pintu mobil.
"Sebentar.. " sela Ela akhirnya.
"Waktuku tidak banyak. 10 menit lagi jam istirahatku berakhir."
"Aku hanya ingin mengucapkan sesuatu. Tidak mudah bagi kita bisa bertemu lagi walaupun sudah menikah."
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Akhirnya Danish kembali menutup mobilnya.
"Bila waktunya tiba dan aku sudah melahirkan, Mas boleh meninggalkanku."
Danish terdiam. Menatap Ela yang kini bisa ia pandang tanpa harus menundukan pandangan seperti sebelumnya. Apalagi raut wajahnya terlihat serius.
"Ada apa denganmu, Ela?"
"Aku hanya.. " Ela menatap ke depan. Air mata tak bisa ia bendung. " Aku hanya merasa bersalah sudah banyak menyakiti para wanita di luar sana ketika mereka mengetahui keadaanku sekaligus rasa berdosaku sudah membohongi Nafisah. Aku sadar aku sudah mendzolimi perasaannya."
"Aku pun sama. Sampai saat ini aku tidak bisa berkata apapun dengannya. Aku tidak ingin membuat keadaannya semakin bertambah buruk bila mengetahui semuanya, Ela. Bebanku lah yang paling berat. Aku mengemban dua istri di dunia ini dan kelak aku harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah ketika di akhirat nanti. Apakah aku bisa berlaku adil atau tidak. Sejak dulu, aku hanya menginginkan satu istri. Didunia dan di akhirat. Masuk surga bersamanya. Namun aku tidak mengerti kenapa takdirku malah memiliki istri lebih dari satu."
"Aku mengerti. Maka dari itu, aku mengatakan hal tadi padamu, Mas. Semua terserah padamu. Jika hal itu terjadi, aku akan ikhlas. Meskipun aku terluka karena cinta, setidaknya ada calon anak ini yang akan menguatkan hati seorang ibu."
"Terluka karena cinta?"
Ela menatap Danish lagi. "Maafkan aku. Aku.. Aku juga mencintai Mas Danish. Aku sempat melupakan semuanya setelah mengetahui Mas menikah dengan wanita lain. Tapi.. Cinta itu kembali hadir setelah.. Pernikahan itu terjadi dan...."
Ela menundukkan wajahnya sembari menatap cincin pernikahan yang di sematkan Danish padanya waktu itu.
"Ketika aku hamil anak kita.."
****
"Seharusnya aku tidak melakukannya.. Seharusnya aku tidak meminta hakku padanya... "
Seharusnya..
Seharusnya..
Seharusnya..
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Danish. Sekuat apapun dirinya, tetaplah ia seorang pria yang normal membutuhkan penyaluran hasrat biologisnya. Ternyata benar apa kata orang tuanya. Di satu sisi waktu itu Nafisah koma, tak baik pria yang sudah berkeluarga sepertinya menahan semua itu. Dan itu terjadi ketika ia istirahat di tempat tidur yang sama dengan Ela waktu itu. Bagaimana mungkin ia bisa menahan semua itu apalagi sudah Sah?
Hidup ini memang di penuhi ujian. Yang tidak memiliki beban hanya dua hal, anak kecil dan orang yang memiliki gangguan jiwa. Berzinah berdosa, tidak berzinah dan melakukannya dengan istri meskipun status istri kedua kedua justru malah membuatnya di cemooh oleh orang-orang di sekitarnya. Tak cinta namun istri keduanya hamil, itu yang sering ia dengar dari orang-orang di sekitarnya. Meskipun dalam islam poligami tidak dilarang. Namun nyatanya menjalaninya tidak mudah.
"Tadi Nafisah terlihat ada di lobby perusahaan."
Danish menatap Randi. Tangannya yang sejak tadi menyusun beberapa berkas akhirnya berhenti. Ia sedikit terkejut.
"Lalu?"
"Aku tidak tahu. Setelah itu aku masuk ke dalam lift."
"Terima kasih sudah memberi tahu saya Pak."
Danish membalikkan badannya menuju pintu namun secepat itu Randi berdiri.
"Tunggu sebentar.. "
"Apakah ada yang tertinggal, Pak? Setahu saya semua berkas ini sudah lengkap."
"Ada.. "
"Berkas yang mana."
"Bukan berkas. Tapi teman saudara se muslim mu ini yang kamu tinggal."
Danish mengerutkan dahinya. Bingung dengan ucapan Randi. Sementara Randi berjalan ke arah mesin mini pembuat kopi dan mulai mengerjakan aktivitasnya.
"Selama ini kita selalu bersikap formal. Bagaimana kalau dua cangkir kopi sebentar sambil mengobrol santai?"
"Tapi, Pak-"
"Disini saya bosnya. Jadi tidak masalah mengobrol sebentar di jam kerja. Saya janji, saya tidak akan memotong uang gajimu."
Danish ingin menolak, tapi akhirnya mengalah. Ia duduk di sofa bertepatan saat Randi selesai membuat dua cangkir kopi. Sejenak, keduanya menikmati kopi tersebut.
"Maaf Danish, aku tidak ada maksud ingin ikut campur dalam urusan pribadimu. Namun aku hanya ingin menyampaikan sesuatu mengenai pekerjaanmu akhir-akhir ini."
"Apakah ada yang salah Pak?"
"Banyak.. " Randi tersenyum miris. "Tapi aku akan memaklumi semua itu. Aku tahu semua ini tidak mudah buatmu. Mungkin semua itu terjadi karena masalah pribadimu sehingga membuat konsentrasi pekerjaanmu terganggu. Apakah aku benar?"
Danish terdiam. Merasa bersalah dengan Randi karena pekerjaan yang salah. Ia menundukkan wajahnya.
"Maafkan saya. Insya Allah saya tidak akan mengulanginya lagi. Tolong jangan pecat saya."
Randi tertawa pelan. "Tidak.. Tidak Danish. Aku bahkan tidak berpikir sampai ke arah sana. Aku rasa, kamu butuh seorang teman untuk bercerita. Siapa tahu aku bisa membantumu dengan solusi atau saran."
"Em, kalau untuk itu.. Saya baik-baik saja, Pak. Tidak ada masalah."
"Apakah Nafisah sudah mengetahui semuanya?"
Danish terdiam. Merasa tidak nyaman dengan semua obrolan saat ini yang terlalu privasi baginya.
"Kalau belum, saya hanya menyarankan agar kamu bisa memberitahunya, Danish. Jangan sampai dia mengetahuinya dari orang lain. Saya yakin, jejak digital Video kasus tuduhan pencurian di toko sembako yang viral waktu itu masih ada. Dalam satu hari, tidak mungkin kan seseorang tidak memegang ponsel beserta sosial medianya?"
"Apakah salah ketika pada akhirnya Ela hamil?" ucap Danish akhirnya. Merasa kalau pikirannya selama berminggu-minggu ini buntu dan ia memang butuh teman untuk memberinya solusi.
"Sudah berapa bulan?"
"3 bulan."
"Aku rasa tidak." Randi menatap Danish yang terlihat kalut penuh beban. "Bagiku semua kejadian itu sudah tercatat di lauhul mahfudz. Walaupun poligami itu memang sesuatu yang mengandung pro dan kontra. Karena ini soal perasaan dan cinta."
"Aku merasa diriku seorang suami pengecut." Danish tersenyum miris. "Sampai sekarang belum bisa jujur sama Nafisah tentang semua ini. Takdirku begitu rumit."
"Allah tidak akan membebankan suatu ujian kepada hambaNya melainkan hamba itu mampu untuk menjalaninya. Jadi aku rasa, ujianmu seperti ini tandanya kamu mampu."
"Dan tidak mudah menjalaninya bagi saya, Pak."
"Aku mengerti dan sebagai seorang pria aku memahami hal itu. Istrimu saat itu lagi sakit. Kita sendiri tahu, kita sebagai seorang pria yang sudah berkeluarga tidak akan mudah menahan hasrat kebutuhan biologis. Memang, kita bisa saja berpuasa. Namun ketika selesai puasa, hawa nafsu itu akan datang lagi, kan? Itu lah kenapa kita sebagai seorang pria diwajibkan untuk segera menikah ketika sudah mampu secara finansial dan menundukkan pandangan kepada yang bukan mahram untuk menghindari perzinahan."
Danish menghela napasnya. Ya, Randi memang benar. Ia mengusap wajahnya dengan lelah. "Sayangnya banyak perempuan diluar sana tidak ada yang mengerti. Banyak yang menghujat laki-laki dengan kondisi sepertiku. Bahkan kalau mereka mendengar obrolan kita, bisa jadi mereka malah takut menikah."
Randi tertawa. "Mereka tidak akan mengerti Danish. Apalagi hal kebutuhan biologis yang kita alami sebagai seorang pria sekaligus suami. Intinya semua di kembalikan lagi bagaimana urusan rumah tangganya. Nggak semuanya kan, berakhir dengan poligami? Ada juga kok pasangan yang awet, saling setia dan langgeng meskipun pasangannya memiliki kekurangan. Kita tidak akan pernah mengetahui takdir Allah. Aku selalu berdoa sama Allah agar Lisa menjadi istriku satu-satunya didunia dan di akhirat."
"Ya, itu benar."
"Kalau mengingat masalalu, kenapa kamu tidak membalasku Danish? Justru kamu malah baik dan bekerja denganku. Maaf aku pernah melukai istrimu di masalalu."
"Balas dendam bukanlah sifat saya, Pak. Alhamdulillah Allah menjadikan saya begitu. Yang saya inginkan dengan Nafisah adalah masa depan bersamanya. Saya tidak perduli masalalunya. Itu akan menjadi kenangan yang tertinggal."
"Terima kasih sudah ikhlas dan ridho Danish."
Randi pun tersenyum, ia berdiri dan berjalan menuju laci meja kerja untuk mengeluarkan amplop coklat kemudian menyerahkan pada Danish.
"Untukmu... "
"Apa ini?" Danish tercengang. Tangannya sampai bergetar. "Ini.. Ini... Bukankah selembar informasi perjalanan umroh ke Tanah Suci selama 14 hari?"
"Iya, itu benar. Ini panggilan dari Allah buatmu. Sejujurnya aku sudah mengurus pendaftarannya ketika kamu bersedia menjadi asistenku."
"Dari mana Bapak berpikir untuk mendaftar saya dan Nafisah Umroh?"
"Setelah saya sholat tahajjud. Pada malam itu, hati kecil saya terketuk untuk mendaftarkan namamu."
"Tapi, Pak-"
"Jangan di tolak. Segera laksanakan Insya Allah 4 bulan lagi. Paket untuk 2 orang. Kamu dan Nafisah. Anggap saja, ini juga tanda permintaan maafku pada keluargamu sekaligus atas nama istriku. Lisa sudah salah paham dengan Nafisah selama ini. Ku harap dalam waktu dekat Nafisah mau berkenan bertemu dengan Lisa. Lisa ingin meminta maaf padanya secara langsung."
"Ya Allah... "
Kedua mata Danish berkaca-kaca. Setetes air mata menetes di punggung tangannya. Panggilan ke tanah Suci dari Allah..
*****
Hai, Masya Allah Alhamdulillah..
Lama tak update hhe.
Sibuk banget selama bulan puasa ini. Apalagi kalau puasa mood bawaannya lemes bnget wkwkw
Tapi makasih udh baca part ini. Insya Allah ada rencana kalau bulan depan cerita ini akan tamat.
Semoga senantiasa Allah melancarkan semuanya ya...
Tetap stay ama cerita ini, Syukron :)
With Love ❤ Lia
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 63 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-63-insting-nafisah.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar