"Ela?"
"Hai, Mbak Nafisah.."
"Kamu apa kabar? Sendirian?"
"Em aku.. "
"Kamu hamil? Sudah berapa bulan?" Nafisah menatap perut Ela yang sudah besar membuncit. Saat ini tanpa sengaja mereka bertemu di sebuah toko perlengkapan ibu dan anak.
"Iya, Alhamdulillah sudah 7 bulan."
"Oh begitu. Semoga sehat selalu ya dan-"
"Ela, apakah perlak bayi untuk anak kita ini juga di butuhkan?" sela Danish tiba-tiba.
Seketika Nafisah syok. Ia menatap Danish dengan terkejut. Anak kita? Apa maksudnya? Nafisah menatap Danish dan Ela secara bergantian. Nafisah menggeleng lemah.
"Kalian.. Tidak, ini tidak mungkin. Kenapa kalian tega.. "
Danish mendekat. "Nafisah, aku bisa jelasin. Kami.. Sebenarnya.. "
"Tidak! Kalian-" Bruk! Danish panik, Nafisah pingsan.
"Astaghfirullah... "
Peluh keringat terlihat jelas di kening Nafisah. Nafisah terbangun sambil memegang degup jantungnya yang nyeri. Ia melirik ke arah jam dinding ketika jam sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi.
"Ya Allah, mimpi apa barusan? Kenapa buruk sekali?"
Nafisah mengusap wajahnya yang pucat. Ia menoleh ke samping, yang ada hanya kosong dan kehampaan. Danish tidak ada di sampingnya malam ini.
"Kemana Mas Danish?"
Dengan cepat ia turun dari tempat tidur dan meraih ponselnya. Ntah kenapa mimpi barusan membuat hatinya bersedih sekaligus cemas. Kenapa mimpi tersebut memperlihatkan suaminya memiliki istri lain selain dirinya? Disaat hatinya takut, Danish juga tidak merespon panggilannya.
"Sayang, malam ini aku lembur. Ada proyek baru yang harus aku kerjakan sehingga memakan waktu sampai malam. Kalau kamu mengantuk, tidurlah. Jangan menungguku."
Nafisah terdiam lagi. Ia teringat ucapan Danish tadi pagi sebelum suaminya itu berangkat bekerja. Kedua matanya pun berkaca-kaca
"Ya Allah, ini cuma mimpi. Aku tahu ia begitu mencintaiku. Tidak mungkin dia berpaling ke wanita lain."
"Tidak mungkin, iya tidak mungkin."
****
"Aku hanya meminta izin setelah itu ke luar negeri."
"Luar negeri? Negara apa?"
"Turki."
Danish menatap Ela sesaat. Saat ini keduanya berada di balkon apartemen dengan berada di ketinggian lantai ke 8. Pakaian Danish belum berganti sejak tadi. Ia masih mengenakan kemeja maroon lengan panjang yang kini di gulung setengah hingga ke siku.
"Kenapa kamu berpikir untuk pindah kesana?"
"Aku hanya ingin mencoba memulai hidup yang baru. Menara hati dan membesarkan anak kita."
"Lalu?"
"Kebetulan aku memiliki kakak perempuan yang menikah dengan orang sana. Rencananya aku akan tinggal di dekat rumahnya."
Danish terdiam lagi. Ela masih membahas soal ucapannya beberapa hari yang lalu mengenai kondisinya di masa yang akan datang bila ia meninggalkan dirinya dalam artian cerai. Sampai saat ini, ia belum mengambil keputusan dengan mengiyakan atau tidak.
"Aku merasa, saat ini orang-orang di sekitarku telah membenciku. Semenjak video itu viral, warganet berbondong-bondong menyerangku. Mengataiku pelakor bahkan instagramku sekarang sudah di nonaktifkan."
"Separah itu?"
"Hm, iya. Mungkin di report banyak orang." senyum Ela masam. "Tapi soal tadi, Mas tidak perlu khawatir jika semua itu terjadi. Mas tidak perlu repot-repot memikirkan semua biaya dan materi untuk anak kita setelah lahir. Tabungan masa depan anak ini Alhamdulillah sudah ada dan sudah aku persiapkan."
Danish mengecek jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi. Seharusnya jam 23.00 tadi ia sudah berada di apartemennya. Namun sayang, Tiba-tiba Ela menghubunginya untuk segera mendatanginya karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
"Kalau begitu aku harus pulang."
"Apakah tidak ada sedikitpun komentar dari Mas soal tadi?"
"Aku tidak tahu. Semua tidak mudah buatku. Kehamilanmu saat ini sudah 3 bulan. Menuju lahiran 6 bulan lagi, selama itu aku merasa seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Nafisah belum mengetahui semuanya sampai saat ini. Aku tidak tahu, apa yang terjadi bila dia mengetahuinya."
"Jangan terlalu di pikirkan. Mulai sekarang, aku akan berusaha menjauh dari Mas. Jangan terlalu memikirkanku."
"Apa maksudmu?"
"Mas tidak mencintaiku, kan? Sudah cukup aku merepotkan Mas dan menyakiti Nafisah. Aku merasa pernikahan ini hanya status untuk menyelamatkan keadaan waktu itu."
"Biar bagaimanapun aku tetap menafkahimu, Ela. Berat rasanya, menjalani sebuah hubungan dengan seseorang yang tidak aku cintai. Namun aku sadar, semua ini takdir dan mau tidak mau aku harus menerimanya. Termasuk menafkahimu secara materi. Aku tidak ingin Allah murka padaku bila aku berlaku tidak adil."
Pernyataan Danish barusan membuat Ela sedikit tenang. Ia sadar ia tidak di cintai. Ia sadar ia sudah membuat pria itu terpaksa. Namun komitmen Danish soal syariat islam mengenai poligami membuatnya tersentuh.
"Aku harus pulang sekarang."
Tiba-tiba saja, Ela memegang pergelangan tangan Danish. Danish terdiam. Ingin menjauhkan tangan Ela namun berusaha ia tahan agar wanita itu tidak tersinggung. Terpaksa ia membiarkannya saja.
"Temani aku malam ini."
"Maaf aku tidak bisa."
"Malam ini saja. Please."
"Ela.."
"Seperti yang aku bilang, Aku tidak akan membuat Mas kesusahan karena hubungan ini sehingga Nafisah tidak akan mencurigai semua hal tentang apa yang terjadi. Bukankah setelah ini aku akan mengurangi menghubungi, Mas?"
"Aku meragukan hal itu."
"Percayalah, Mas bisa memegang janjiku."
Danish terdiam. Ela menjanjikan semua itu padanya. Ia sendiri tidak yakin dengan situasinya nanti. Dengan perlahan, Ela mendekatinya lagi.
"Izinkan aku, memeluk Mas. Aku merasa mungkin setelah ini kita akan sangat-sangat jarang bertemu. Atau mungkin tidak sama sekali agar hubungan Nafisah dan Mas akan terus tetap terjaga." lirih Ela pelan, dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
****
Dengan cepat Danish menolong Ela yang hampir terjatuh ke lantai. Bahkan terlihat memegang perut wanita.
"Ela?"
"Mbak Nafisah?"
"Apa yang terjadi, kamu baik-baik saja?"
Nafisah terdiam. Teringat kejadian sebulan yang lalu saat ia pergi ke restoran siap saji dan ada insiden kecil ketika Ela di dorong secara kasar oleh seorang pria yang marah-marah dengannya. Ia sangat mengenal Danish yang menundukkan pandangan nya kepada yang bukan mahram. Bagaimana bisa secepat itu ia langsung menolong Ela? Apakah saat itu kebetulan rasa jiwa kemanusiaan untuk menolong tiba-tiba muncul?
"Ela, sekarang kamu agak berisi dan pipi kamu terlihat chubby, ya?"
Nafisah juga ingat dengan jelas, Ela terlihat lebih berisi. Sedikit gemuk dengan pipinya yang chubby. Auranya seperti sedang mengandung.
"Maaf sayang, malam ini aku telat pulang. Seharusnya kamu tidak perlu menungguku. Apalagi sekarang sudah jam 2 pagi. Bukankah kamu harus istirahat?"
"Aku terbangun, Mas. Dan aku mencari Mas tapi ternyata belum pulang."
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa. Em, rambut Mas basah. Habis mandi? Bukankah terlalu dini hari untuk mandi?"
"Em, ini... Ah tadi di luar hujan dan aku sempat berteduh."
"Hujan?"
"Iya, hujan. Mungkin kamu nggak dengar karena tertidur. Coba kamu lihat di luar, jalanannya masih basah."
"Tapi-"
"Lebih baik sekarang kamu tidur ya. Ini sudah larut banget. Kamu harus istirahat."
Semua yang terjadi jam 2 pagi tadi, kembali membuatnya terdiam. Di luar memang hujan. Tapi kenapa rambut Danish basah?
"Sekalipun dia memakai jas hujan. Paling tidak kemejanya ada sedikit terkena air. Kenapa hanya rambutnya saja yang basah? Seperti habis mandi."
Nafisah dilema. Seudzon akan berdosa. Tetapi bila diam, hatinya gelisah. Instingnya sebagai seorang istri mulai tidak tenang.
****
Masya Allah Alhamdulillah.. 🥰
Hai, aku up lagi hari ini. Maaf ya telat jam nya. Yg tidur bs baca besok☺
Jgn lupa vote dan komentar nya ya 😘
Semakin kesini, semakin deg-deg an ya, hhe. Siapkan hati kaliannnn
With Love❤ Lia
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 64 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-64-egois.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar