Randi mengerutkan dahinya, heran melihat Lisa yang begitu banyak. Apalagi makan buah durian. Randi sampai kesal melihatnya.
"Kalau makan jangan berlebihan, itu tidak baik."
"Ini baru makan sedikit, kok."
"Terus, yang di atas meja itu apa? Ada beberapa kemasan snack yang sudah habis. Kenapa tidak di bereskan?"
"Lagi males."
"Apa?! Lisa-"
"Mbak Sum pulang kampung, Mas. Katanya anaknya yang hamil besar mau melahirkan."
"Oh begitu. "
Randi pun terdiam. Namun tetap kesal melihat Lisa yang akhir-akhir ini banyak makan. Tak hanya itu, bahkan tengah malam pun tiba-tiba kelaparan. Apabila tidak ada makanan, maka istrinya itu malah menyuruhnya pesan makanan secara online atau keluar rumah. Seketika Randi terdiam. Ia menatap Lisa lagi. Jika di perhatikan, kenapa istrinya terlihat berisi? Kecurigaan pun muncul.
"Lisa.. "
"Hm.. "
"Kapan terakhir kamu datang bulan?"
"Em... Tanggal berapa ya? Aku lupa."
Dengan kesal Randi meraih potong durian yang sudah Lisa sajikan di atas piring tanpa kulitnya. Ia pun meraih ponsel wanita itu.
"Ih, Mas, kembalikan durianku!"
"Kamu terlalu teledor atau gimana sih?"
"Maksudnya apa?"
"Biasanya seorang wanita mencatat tanggal menstruasi bulanannya di ponsel atau kalender. Apakah kamu tidak melakukannya?"
Lisa pun mengalah. "Oke, Oke, baiklah. Berikan ponselku. Aku akan mengeceknya."
Randi tak banyak bicara lagi. Setelah itu ia sibuk membereskan sisa makanan dan cemilan Lisa. Ia pun menuju dapur kemudian tercengang setelah melihat Lisa tersungkur di lantai.
"Ya Allah Lisa!"
"M.. Mas... "
"Kamu kenapa? Wajah kamu pucat!"
"Perut aku, tiba-tiba nyeri banget. Seperti di tusuk-tusuk."
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Randi pun menggendong tubuh Lisa menuju kamar. Dengan cepat keduanya bersiap-siap terlebih dahulu lalu menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Lisa memegang perutnya yang terasa sakit. Seketika ia berlinangan air mata sembari menatap Randi di sampingnya. Pria itu terlihat panik meskipun sedang berusaha fokus mengemudikan mobilnya dengan cepat.
****
Diam-diam Nafisah berdiri dari duduknya. Sebenarnya ia ragu, apakah pantas mengecek ponsel suami yang terbilang ada banyak privasi disana? Memang, selama ini ponsel Danish sering tergeletak dimana saja dalam area apartemen. Namun tidak sedikit pun, Nafisah terpikir untuk mengecek terkecuali sikon nya saat ini.
Sekali lagi, Nafisah memperhatikan keadaan di sekitarnya. Danish masih berada di kamar mandi. Suara kucuran air juga terdengar. Dengan cemas, gelisah, gugup, Nafisah mengecek ponsel Danish. Nafisah mulai fokus.
"Tidak ada yang mencurigakan disini. Semua chat pesan, whatsapp, dan akun sosmednya aman. Nafisah beralih membuka kontak, log panggilan keluar masuk, bahkan ke galeri dengan hasil yang sama."
Nafisah mengerutkan dahinya ketika jarinya berhenti pada aplikasi note di ponsel suaminya itu. Terdapat sebuah catatan di sana. "September 2021?"
Suara kucuran air berhenti. Tanda sepertinya kalau Danish sudah selesai mandi. Dengan cepat Nafisah meletakkan kembali ponsel tadi ke asal mula. Ia bergegas keluar kamar. Berbagai macam pikiran mulai berseliweran di benaknya.
"Ternyata selama ini Mas Danish tidak mencatat apapun di note ponselnya. Tapi, bulan September 2021 tadi maksud apa? Bahkan... " Nafisah mengigit ujung kukunya, tanda kalau ia sedang mikir keras.
"Bahkan catatan itu di buat dua hari yang lalu. Apakah catatan itu berhubungan dengan pekerjaan atau hal lain? Kenapa perasaan aku tetap tidak enak? Ya Allah, hilangkanlah rasa seudzon ini... "
Bel apartemen berbunyi. Nafisah segera menuju pintu dan membukannya. Ia terkejut ketika siapa yang bertamu saat ini. Lisa berdiri dengan raut wajah kaku sekaligus gugup.
"Ka.. Kamu... "
"Assalamu'alaikum, Hai Nafisah. Apa kabar?"
"Untuk apa kamu kesini?"
"Aku-" Bruk!
Pintu tertutup begitu saja. Lisa terkejut. Raut wajahnya menjadi suram. Tidak ada kata maaf dari Nafisah untuknya.
"Nafisah, aku menyesal atas semuanya. Maafkan aku... " lirih Lisa pelan.
****
Randi melihat kedatangan Lisa dari kejauhan. Dengan cepat ia keluar dari mobilnya. Randi sadar, sepertinya usaha Lisa sia-sia.
"Bagaimana?"
Lisa menggeleng lemah. Namun memaksakan senyumnya. "Dia menolakku. Aku tidak apa-apa. Aku memang pantas mendapatkannya."
Tak ada lagi rasa canggung seperti sebelumnya. Randi langsung memeluk istrinya. Rasa kepercayaan diri yang kurang membuat Lisa semakin terlihat menyedihkan untuknya.
"Mas?"
"Ya?"
"Kalau suatu saat Mas seperti Danish, aku ikhlas."
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Dokter memvonis aku mandul dan tidak bisa memiliki keturunan. Mungkin Mas terpikir untuk poligami."
"Aku menerima kekurangan dan kelebihanmu, Lisa. Tidak ada anak diantara kita bukan akhir dari segalanya, kan?"
"Tapi-"
"Aku mau cuma dirimu, istriku didunia dan di akhirat. Apapun yang terjadi, kamu tetaplah istri yang aku cintai."
"Ci.. Cinta?"
"Iya, kenapa?"
"Aku.. Tidak salah dengar?"
"Tentu saja tidak."
Perlahan rasa sedih yang sebelumnya Lisa rasakan hilang. Ia tidak menyangka kalau akhirnya Randi mencintainya seiring berjalannya waktu.
"Terima kasih, telah mencintaiku tanpa syarat."
Dari kejauhan, Ela menatap semuanya. Ia terdiam. Tak sengaja melihat Randi dan Lisa didepan matanya. Ia berharap kalau ia dan Danish bisa seperti pasangan Randi dan Lisa walaupun rasanya mustahil.
"Ya Allah, apakah aku bisa merasakan cinta dari Mas Danish walaupun hanya sebentar?"
****
Masya Allah Alhamdulillah..
Hai, aku dah update kembali ya.
Makasih sudah baca dari dulu hingga sekarang.. 😘
Tetap stay sama alurnya ya, apalagi insting Nafisah mulai bekerja, Hhe 😁
Sehat selalu, With Love ❤ Lia
Instagram: lia_rezaa_vahlefii.
NEXT CHAPTER 65 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-65-siapa-dia.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar