Danish terkejut, melihat Nafisah yang diam mematung sambil bersandar di belakang pintu. Dan lagi, Nafisah tak bisa menahan air matanya sendiri.
"Ada apa?"
"Dia.. Tadi datang."
"Dia? Siapa?" tanya Danish bingung.
"Lisa.. "
Danish tak lagi berucap apapun. Ia langsung memeluk Nafisah dengan erat. Berusaha menenangkan istrinya yang terguncang sekaligus ketakutan. Apa yang Nafisah alami sebelumnya mengenai Lisa, memang tak termaafkan.
"Ada satu hal penting yang harus kamu tahu."
"Apa?"
"Beberapa hari yang lalu, Mama menghubungiku. Katanya, Diyah ingin memakai ponsel Mamanya yang dulu. Karena masih bagus, Mama mengeceknya dan kebetulan menemukan kartu memori internal milik Alina terdahulu."
"Lalu?"
"Disana ada video kalian. Terutama dirimu di masalalu. Tanpa kalian sadari, Alina merekamnya."
Nafisah syok. "Ya Allah, video apa Mas?"
"Bukti kalau kamu bukanlah seseorang yang membunuh kakak perempuan Lisa dimasalalu. Semuanya ada di video itu, terekam jelas. Bahkan aku jadi tahu mengapa Lisa benar-benar membencimu bahkan menyakitimu sejak dulu sampai akhirnya ia mengetahui semuanya dan menyesal."
Nafisah terdiam. Tiba-tiba kepalanya pusing berputar. Tanpa diduga, setetes darah mengalir di hidungnya. Danish panik dan mengambil selembar tisu.
"Nafisah, kamu harus istirahat!"
"Atau kita harus ke dokter! Aku-"
"Tidak apa-apa, Mas. Lagian obatnya masih ada."
"Tapi-"
"Insya Allah aku baik-baik saja. Bantu aku ke kamar."
Danish hanya menurut, ia merangkul pundak istrinya menuju kamar. Seketika ia juga teringat semua kejadian yang ada. Untuk masalah yang mengejutkan seperti ini saja, Nafisah sudah syok bahkan berpengaruh sampai ke kondisinya. Bagaimana jika dia tahu bahwa Ela ada diantara mereka?
"Mas?"
"Ya?"
"Temani aku sebentar hingga aku tertidur disini."
"Baiklah.."
"Ini hari libur, Mas nggak kemana-mana kan?"
"Tidak. Waktuku bebas apalagi untukmu."
Nafisah mengangguk. Ia berjalan menuju toilet dengan alasan ingin membersihkan sisa darah yang menempel di hidungnya. Danish ingin menemani, namun Nafisah menolak. Sementara Nafisah memasuki kamar mandi, Danish terdiam. Senyuman ia perlihatkan pada istrinya barusan, perlahan memudar. Danish menatap jendela kamar yang terlihat sorotan pantulan cahaya matahari yang cerah. Tiba-tiba ia teringat Ela.
"Dia benar-benar menepati janjinya. Sudah hampir 2 minggu semenjak malam itu, tidak satupun dia menghubungiku bahkan mengajakku bertemu."
****
Beberapa hari kemudian..
Nafisah sudah agak mendingan meskipun ada kalanya ia mengalami drop. Daripada ia berdiam diri saja, ia terpikir untuk membersihkan area kamarnya yang sudah dua hari tidak di bersihkan lantaran asisten rumah tangga yang biasanya ada, sedang sakit dan tidak bekerja. Nafisah terdiam begitu membuka laci yang berada didalam lemari.
"Kenapa banyak sekali kertas-kertas disini?"
Nafisah segera mengumpulkannya di atas meja. Satu per satu ia mengecek kertas apa yang baginya masih penting atau tidak. Diantaranya ada beberapa kertas yang berisi struk belanja, resi transferan, nota, dll.
"Apa ini?"
Nafisah terdiam sesaat. Menatap secarik kertas berisi struk pembelian sebuah ponsel android. Tak hanya itu, disana tertera tanggal pembeliannya 3 bulan yang lalu di tahun ini. Nafisah mulai berpikir dengan keras.
"Bukankah, saat itu aku masih koma?"
Dengan cepat Nafisah menuju lemari, membuka sebuah map berwarna biru yang berisi data-data yang berhubungan dengan riwayat medis mengenai dirinya, data jaminan kesehatan, dan nota-nota pembayaran obat dll selama di rumah sakit. Semua terlihat jelas, kalau data tersebut tertulis 3 bulan yang lalu. Ya, pikirannya tidak salah. Ia memang koma 3 bulan yang lalu bertepatan dengan struk pembelian ponsel android terbaru atas nama Danish.
"Mas Danish membeli ponsel baru ketika aku koma. Untuk apa? Bahkan aku tidak pernah melihat ponselnya selama ini. Ya Allah, kepalaku.. "
Dengan pelan Nafisah duduk dengan pelan di lantai. Hanya memikirkan itu, kepalanya sakit luar biasa. Nafisah juga memegang hidungnya yang terasa basah. Ada darah segar mengalir disana. Berusaha untuk berdiri, namun sayang, Nafisah sudah tidak sanggup ketika saat ini semua pandangannya menjadi gelap.
****
Dengan cepat Danish berlarian dari arah parkiran motor setelah ia mendapat kabar kalau tadi pagi Nafisah pingsan di kamar. Hari sudah malam. Jam menunjukkan pukul 19.00 malam. Padahal sejak tadi pagi ia bisa saja meminta izin untuk kerumah sakit pada Randi. Namun rasanya begitu sungkan. Sudah cukup ia banyak meminta izin untuk hal-hal kepentingan pribadi disaat jam kerja pada atasannya itu. Randi terlalu baik untuknya.
Danish menuju ruang UGD dan mendapati ibu paruh baya sebagai asisten rumah tangganya yang baru menyapanya di deretan kursi tunggu untuk keluarga pasien.
"Bu, bagaimana Nafisah?"
"Belum sadar Pak Danish."
"Kenapa dia bisa pingsan?"
"Saya, tidak tahu." Ibu yang bernama Jumarni itu hanya bisa tertunduk. "Begitu kondisi saya tadi pagi agak mendingan, saya memutuskan untuk pergi ke apartemen Bapak agar bisa kembali bekerja. Tapi saya mendapati Ibu Nafisah sudah pingsan di kamar."
"YaAllah... " Danish mengusap raut wajahnya dengan sedih. Ia menarik napasnya dan menghembuskannya secara perlahan. Hatinya sedih karena keadaan Nafisah yang kembali ngedrop.
"Bapak sudah makan? Mau saya pesankan makanan diluar?"
"Ibu saja yang makan. Apakah ibu sudah makan malam ini?"
"Em, belum Pak."
"Ini.. " Danish mengeluarkan selembar uang 100.000 dan menyerahkannya pada Jumarni.
"Untuk apa uang sebanyak ini, Pak?"
"Ibu pergi makan di warung sekitar sini. Biar saya yang gantian jaga disini."
"Tapi-"
"Ibu baru sembuh. Lebih baik segera makan dan jangan sampai telat."
Jumarni hanya mengangguk canggung lalu pergi berlalu. Danish menghela napasnya. Ia memilih menuju toilet sejenak. Namun, belum saja ia sampai ke toilet, Danish menyipitkan kedua matanya.
"Ela? Ngapain malam-malam begini ke rumah sakit?"
Tak hanya itu, disebelahnya ada seorang pria tampan dengan stylenya yang santai mengenakan kemeja putih dan jeans biru. Keduanya terlihat tertawa dan saling melempar senyum. Bahkan sesekali Ela mengelus perutnya yang sudah terlihat sedikit membesar.
"Siapa pria itu?"
****
Masya Allah Alhamdulillah.. Halo semua... 😀
Sebelumnya minal aidzin wal faidzin ya, mohon maaf lahir dan batin. Sudah seminggu berlalu lebaran idul fitri 1443 H. Maafkan aku, sebagai author baru bs update dan menyapa kalian disini. Sibuk banget soalnya, Alhamdulillah malam ini nyempetin update ☺
Semoga kalian sehat lalu. Dan hatinya selalu kuat untuk membaca cerita ini di setiap partnya hhe😁🙏
Makasih ya udh baca. Jgn lupa beri vote dan komentarnya.. 😘
With Love ❤ Lia
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 66 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-66-hati-yang-bingung.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar