Chapter 66 : Hati Yang Bingung - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 66 : Hati Yang Bingung



Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, Ela bergegas menuju lobby apartemen dan menaiki lift. Kotak besi itu bergerak ke lantai atas tempat dimana ruang apartemennya berada.

Sembari menunggu tiba di lantai atas, Ela mengeluarkan ponselnya hanya untuk mengecek sekarang pukul berapa. Ela terdiam, menatap sebuah notip 2 panggilan tak terjawab dengan nama D. Tentu saja itu nomor ponsel Danish dengan nomor baru yang ia simpan.

"Ada apa dia menghubungiku?"

Seketika tatapan Ela berubah menjadi datar. Sadar kalau tiba-tiba Danish menghubunginya pasti ada keperluan lain yang tak jauh-jauh dari melayaninya sebagai seorang istri.

Ting! Pintu lift terbuka. Ela kembali memasukkan ponselnya. Tatapannya berubah menjadi sendu, meratapi nasibnya yang sudah-sudah. Mencintai tapi tak di cintai. Ela tiba di depan kamar apartemennya, kemudian membukanya. Seperti biasa, suasananya memang gelap karena ia mematikan saklar lampu ruang tamu ketika tidak berada dirumah.

"Assalamu'alaikum.. "

"Wa'alaikumussalam."

Dan lagi, Ela terdiam. Suara Danish tiba-tiba menyapanya. Jika sebelumnya ia pikir hanya keheningan yang menyapa, maka Ela salah. Lampu ruang tamu menyala terang. Danish mendatanginya sambil bersedekap hingga membuat Ela memundurkan langkahnya.

"Habis dari mana?"

"Rumah sakit."

"Malam-malam begini?"

Ela meneguk ludahnya. Ntah kenapa kedatangan Danish yang tiba-tiba membuatnya gugup.

"Iya, memangnya kenapa? Aku-"

"Kenapa malam?" tanya Danish lagi. Ela menghela napasnya. Ia berjalan melalui Danish begitu saja dengan raut wajah datar.

"Apakah itu masalah buat, Mas?"

"Aku hanya bertanya, kamu bisa jawab, kan?"

"Oke, seharusnya tadi sore aku ke rumah sakit periksa kehamilan. Tapi dokternya beri aku kabar kalau pemeriksaannya di undur setelah magrib karena beliau ada operasi cesar dadakan disana."

"Terus?"

"Apanya yang terus?" tanya Ela skeptis.

"Tadi-" Danish terdiam, ntah kenapa tiba-tiba bibirnya terasa kelu hanya untuk bertanya siapakah pria yang bersamanya sewaktu di rumah sakit? Rasanya ia seperti suami yang pencemburuan.

"Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin aku cemburu." sela Danish dalam hati.

Danish berdeham. "Tidak apa-apa. Kamu sudah sholat isya?"

"Belum. Mas sendiri?"

"Sudah. Lebih baik kamu sholat dulu."

Ela hanya diam. Rasa bingung dengan semua sikap Danish malam ini membuatnya bertanya-tanya. Ia pun mengangguk dan berlalu menuju kamar. Saat ini, ia tidak mengharap apapun dari Danish apalagi jika pria itu sampai menginap malam ini disini. Kalau pria itu sudah pulang setelah ia selesai sholat, maka terserah.

****

Apa yang terjadi nyatanya diluar dugaan Ela. Setelah melakukan sholat isya, rupanya Danish malah memasak sesuatu untuk makan malam mereka dan sudah menghidangkannya di atas meja. Tak hanya itu, ada segelas susu ibu hamil yang masih hangat disana.

Ela terdiam menatap semuanya. Karena dilihatnya Danish sibuk mencuci sisa peralatan masak di westafel, buru-buru Ela melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Ia berdiri tepat didepan kaca besar yang memperlihatkan langit malam berbintang dengan suguhan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di jalanan ibu kota. Disaat yang sama, air matanya mengalir di pipinya dengan hati yang begitu sesak.

"Kenapa Mas Danish? Kenapa kamu membuatku bingung?" sela Ela dalam hati.

"Mungkin semua tindakan yang kamu lakukan malam ini begitu spele. Tapi tidak denganku. Kamu melakukannya seperti seorang suami yang begitu perhatian. Nyatanya kamu tidak pernah mencintaiku. Hatimu sudah terisi nama istrimu, Nafisah. Kalau aku tidak mencintaimu, rasanya tidak sesakit ini."

"Aku mencarimu, ternyata kamu disini." sela Danish tiba-tiba.

Ela berdeham, mencoba bersikap biasa-biasa saja padahal sebenarnya ia sedang menangis.

"Oh iya, Maaf, apakah makanannya sudah siap Mas?"

"Sudah. Ayo makan."

Danish menuju meja makan. Buru-buru Ela menghapus sisa air matanya. Ntah kenapa sesampainya di meja makan, rasa sesak di dadanya bercampur haru. Tak mau menyianyiakan kesempatan, Ela mengeluarkan ponselnya.

"Untuk apa?" tanya Danish bingung.

"Foto."

"Foto?"

"Hm, ini pertama kalinya Mas memasak. Sayang, kalau momen ini nggak di foto. Biar jadi kenang-kenangan."

"Oh, gitu."

Danish hanya mengangguk dan kembali diam. Ia memperhatikan Ela yang serius mengambil foto dengan  benar. Tapi ia sadar, mata yang sembab pada wanita itu memang tidak bisa di bohongi. Sekarang, wanita itu terlihat bahagia hanya perlakuan sederhana yang di buatnya. Namun, tanpa siapapun sadari, ntah kenapa ia jadi merasa tenang. Tak hanya itu, ia menarik kedua sudut bibirnya dengan tersenyum kecil.

"Mas?"

"Ya?"

"Em, boleh?"

"Boleh apa?"

"Kita.. Foto bersama?"

Ela harap-harap cemas. Takut kalau Danish akan merasa tidak nyaman. Lalu ia sadar dengan apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Buru-buru Ela berubah pikiran.

"Tapi kalau nggak bisa, jangan di paksa, maaf aku tidak bermaksud-"

"Ayo kita foto."

"Ha?"

Danish segera mengambil alih ponselnya. Ela melongo, merasa kalau semua itu hanyalah mimpi. Namun sayangnya tidak, ketika lengan Danish begitu dekat dengannya saling menempel.

Cekrek!

Satu foto telah berhasil di dapatkan. Hasilnya begitu bagus. Ela sampai terkesima melihatnya. Ia terdiam sejenak.

"Ini akan menjadi kenangan, karena foto ini tidak akan pernah kembali terulang setelah kita berpisah 6 bulan lagi." ucap Ela dalam hati.

"Apakah hasilnya bagus?"

"Ha? Em, iya, bagus kok Mas. Terima kasih."

"Sama-sama."

"Mas?"

"Ya?"

"Kenapa... Tiba-tiba Mas tadi menghubungiku dan kemari? Bukankah seharusnya kita tidak perlu bertemu agar Mbak Nafisah tidak mengetahui semuanya?"

Danish terdiam sesaat. Bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba ponselnya berdering, Jumarni menghubunginya.
Danish pun menghindari dari Ela.

"Assalamu'alaikum, iya Bu?"

"Wa'alaikumussalam. Pak, Ibu Nafisah sudah sadar."

"Benarkah? Alhamdulillah, baik saya akan segera kesana."

"Iya, Pak, Hati-hati dijalan. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Panggilan berakhir. Ia mendekati Ela.
"Maaf aku harus pergi."

"Iya, Hati-hati dijalan, Mas."

"Assalamu'alaikum, "

"Wa'alaikumussalam."

Ela menatap kepergian Danish begitu saja. Tidak ada cium tangan, pelukan, apalagi ciuman kening yang biasa di lakukan pasangan suami istri pada umumnya. Suasana kembali hening. Dengan lunglai Ela duduk di kursi meja makan, menatap semua hidangan yang ada. Perasaannya begitu sedih. Lalu air mata kembali menetes di pipinya, ia tertawa hambar.

"Memangnya siapa dirimu Ela? Hanya istri simpanan, kan? Kamu nggak perlu kepedean. Nggak mungkin Mas Danish cinta sama kamu walaupun kalian sudah berkali-kali menghabisi waktu bersama bahkan tidur bersama setelah menikah. Iya kan? Nggak mungkin, nggak mungkin dia tiba-tiba suka sama kamu. Dia perhatian sama kamu hanya sebatas kewajiban saja."

"Ingat itu Ela.. Ingat, nggak mungkin Danish suka sama kamu."

Detik berikutnya Ela menelungkupkan wajahnya sembari melipat kedua tangannya di atas meja. Ia menangis kencang. Menyalurkan rasa sakit hati, cemburu, bawa perasaan, dan kecewanya. Cinta memang sesakit itu bila bertepuk sebelah tangan.

Danish suka membuatnya bingung. Dan ia yakin pria itu tidak akan pernah mungkin menyukainya apalagi mencintainya..

****

Masya Allah Alhamdulillah.. 😚

Hai, aku kembali update yaaa chapter ini. ☺

Bagaimana perasaan kalian? Udh campur aduk?? 🤭

Hheee... Tetap sabar ya ikuti  alurnya. Emang aku udh jahaddd sama kalian bikin nyut-nyutan lihat lakik macam Danish 😁😆

Makasih sudah baca... Jgn lupa vote dan komentar nya ya 😘

With Love ❤ Lia

Instagram : lia_rezaa_vahlefii


NEXT CHAPTER 67

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-67-danish-cemburu.html

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu