Chapter 67 : Danish Cemburu? - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 67 : Danish Cemburu?


Hal yang pertama kali terasa pada tangannya adalah genggaman yang hangat dan rasa pusing dikepalanya yang begitu berat. Nafisah menoleh ke samping, Danish terlihat tertidur sambil menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya.

"M.. Mas.." panggil Nafisah serak.

Tubuhnya tak berdaya, tak hanya itu. Rasanya iatidak sanggup hanya untuk berbicara. Nafisah mencoba untuk bangun, namun rasanya sulit. Sayup-sayup Danish membuka matanya, detik berikutnya tatapannya langsung sadar dengan jelas.

"Alhamdulillah, Nafisah.. Ya Allah, akhirnya kamu sudah bangun."

Nafisah tersenyum lemah. Sementara Danish langsung menegakkan tubuhnya bahkan mencium punggung tangannya. Tatapan Nafisah terlihat sayu, wajahnya pucat dengan bibir yang putih.

"Tadi aku langsung kesini begitu kamu sudah sadar. Tapi kata bu Jurmani kamu harus istirahat dulu. "

"Mas.. "

"Hm?"

"Aku.. Mau na.. nanya.."

"Sayang kamu mau nanya apa? Aku akan jawab."

"Apakah.. Uhukk.. Uhukkk!!"

Nafisah terbatuk. Lagi-lagi sedikit darah keluar dari mulutnya. Buru-buru Danish meraih tisu dan membersihkan mulutnya.

"Sayang sepertinya kamu harus istirahat."

"Aku, tidak apa-apa.. Mas.. "

"Please." Danish menatapnya dengan tatapan memohon. Sementara Nafisah menolak lemah.

"Aku mau bicara, mumpung aku masih ada."

"Ssht! Kamu ngomong apa sih? Jangan bicara begitu."

Nafisah memaksakan senyumannya. Perlahan, ia mengulurkan tangannya hanya untuk memegang pipi Danish. Pria itu akhirnya membalas genggaman Nafisah pada pipinya.

"Apakah ada wanita lain selain aku? Kalau ada, siapa?"

"Nafisah, please.."

"Ja.. Jawab.. " Air mata mengalir di pipi Nafisah. Sadar kalau ia sedang berada di masa situasi yang sulit.

"Kenapa kamu nanya begitu ke aku?"

"Insting."

Danish terdiam. Haruskan ia jujur sekarang sementara ia masih belum siap atas semuanya bila terjadi sesuatu yang tak di inginkan atas kondisi istrinya?

"Kalaupun memang ada. Mungkin aku akan kecewa. Cintamu bukan hanya untuk aku, tapi terbagi dengan wanita lain. Tapi aku sadar, kalau hidup aku nggak akan lama lagi."

"Nggak Nafisah, enggak.. Kamu jangan bicara aneh-aneh. Aku mohon kamu jangan berpikir macam-macam tentang aku. Sekarang kamu istirahat ya, please. Kamu benar-benar membuatku takut Nafisah."

"Jangan pernah takut kehilangan diriku atas kematian, Mas. Tapi takutlah jika Mas kehilangan diriku karena orang lain."

Tamparan keras bagi Danish. Danish terdiam, ia sadar ia memang suami pengecut. Nafisah memintanya untuk jujur. Namun kenapa baginya sangat sulit untuk di lakukan. Jujur memang menyakitkan ketika berada didalam kondisi seperti ini.

****

Dengan ragu Lisa memasuki ruangan Nafisah. Nafisah sudah di pindahkan ke ruang rawat inap setelah sebelumnya memasuki UGD. Seperti biasa, aroma obat-obatan dan antiseptik tercium di hidungnya.

"Assalamualaikum.. "

Nafisah menoleh ke arah suara, masih dengan posisinya duduk bersandar dengan posisi bantal empuk di punggungnya. Di tangannya terdapat tasbih digital yang biasa ia gunakan untuk berdzikir. Lisa terlihat canggung. Nafisah bisa saja marah, namun seperti kata Danish, ia harus bisa memaafkannya.

"Wa'alaikumussalam."

Dengan langkah pelan Lisa mendekati Nafisah kemudian meletakkan sekeranjang buah untuknya di atas meja. Nafisah memaksakan senyumanya sedangkan Lisa juga melakukan hal yang sama.

"Duduklah, Lisa."

"I.. Iya.. "

"Sendiri?"

Lisa mengangguk dan duduk dengan canggung. "Iya, sendiri. Em, bagaimana kondisi kamu sekarang?"

"Alhamdulillah sedikit mendingan. Gimana kabar kamu dan keluargamu?"

"Alhamdulillah kami semua sehat
walafiat."

Nafisah hanya mengangguk pelan. Sementara Lisa terlihat gugup bahkan tangannya terasa dingin. Mau mengatakan sesuatu tapi takut. Sementara Nafisah sendiri bingung harus bicara apa lagi sekarang.

"Em, Nafisah.."

"Ya?"

"Aku kesini.. Mau minta maaf soal masalalu.. Aku.. "

"Iya aku maafin."

Lisa terdiam. Kedua matanya berkaca-kaca. "Maaf sudah membuatmu menderita. Bertahun-tahun aku salah paham denganmu. Ternyata kejadian di masa lalu murni kecelakaan bunuh diri. Aku, minta maaf atas almarhumah kakakku.. "

"Kamu, sudah melihat video itu?"

"Hm iya, suami kamu yang memberi file nya melalui suamiku. Sudah saatnya Allah menunjukkan kebenarannya untuk kita. Sekali lagi, aku minta maaf.. "

Lisa memberanikan diri memegang punggung tangan Nafisah. Akhirnya ia tak kuasa menahan air matanya sendiri. Nafisah tersenyum pelan. Apa yang dilakukan Lisa selama ini memang perbuatan dzolim. Namun ia ingat, bahwa memaafkan adalah cara yang terbaik di balik kesalahpahaman  nya selama ini.

"Aku juga minta maaf, Lisa. Kalau misalnya selama ini aku banyak salah sama kamu."

"Tidak, justru aku yang salah sama kamu. Kamu mau kan, maafin aku?"

"Tentu.. "

****

Beberapa hari kemudian..

Randi menatap Danish yang terlihat banyak melamun akhir-akhir ini. Asistennya memang serius dalam bekerja, namun ada kalanya terlihat menyendiri seperti sedang tidak ingin di ganggu ketika jam istirahat.

"Kamu sudah makan siang?"

"Belum, Pak. Sejak tadi saya lihat Bapak juga belum makan. Mau saya pesankan?"

"Tidak. Kita akan keluar bersama-sama. Ke restoran tempat biasa."

"Baik, Pak."

Akhirnya mereka menuju bassement untuk segera mengendarai mobil menuju restoran terdekat perusahaan. Saat ini jam menujukan pukul 13.00 setelah sholat zuhur baru saja berakhir.

"Bagaimana kabar keluargamu?" tanya Randi basa basi.

Danish tetap fokus menyetir mobilnya. "Alhamdulillah baik, Pak."

"Alhamdulillah.. "

"Ela sudah berapa bulan?"

"Kalau tidak salah jalan 4 bulan."

"Kalau tidak salah?" Randi mengerutkan dahinya sambil tersenyum geli.

"Maksud, Bapak?"

"Ucapanmu barusan seperti tidak yakin. Biasanya seorang suami itu harus siaga dalam menjaga istrinya ketika hamil. Maaf ya, bukan bermaksud menggurui. Hanya sekedar memberi tahu karena ini biasanya ucapan yang sering saya dengar dari orang tua."

Danish tersenyum tipis. "Hm, its oke, Pak. Tidak masalah."

"Kemarin saya bertemu Ela di pusat perbelanjaan. Kebetulan tidak sendiri. Mungkin sama saudaranya yang terlihat sepantaran kayak kita."

"Terlihat Sepantaran? Apakah seorang pria?" sela Danish dalam hati

"Ah iya, itu saudaranya."

Dan terpaksa Danish berbohong. Tidak mungkin ia membeberkan situasi yang sebenarnya. Setelah percakapan singkat tadi, akhirnya keduanya saling terdiam satu sama lain. Danish menoleh ke kaca spion tengah, melirik ke arah Randi yang sibuk memegang ponselnya.

Danish menghela napasnya. Ia yakin seseorang yang di maksud Randi barusan pasti bukanlah seorang wanita. Kemungkinan besar adalah seorang pria. Tanpa sadar, ntah kenapa Danish ingin merasa marah dan tidak suka. Tak hanya itu, ia juga memegang kemudi stir dengan cengkraman yang kuat.

"Ela, kenapa kamu membuatku marah tanpa alasan yang jelas?"

"Danish, Ada apa denganmu?"

****

Masya Allah Alhamdulillah...

Hai aku kembali up ya chapter 67 ya 🥰

Dan si danish, mulai resah sekaligus bikin kesel! 😣

Btw, makasih sudah baca. Jangan lupa vote dan komentar nya ya..

Syukron, With Love❤ Lia

Instagram : lia_rezaa_vahlefii


NEXT CHAPTER 68 :

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-68-rencana-nafisah.html

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu