Beberapa hari kemudian..
Seperti biasa, jalanan ibu kota terlihat macet. Lisa mengemudikan mobilnya dengan sabar meskipun terjebak macet. Sembari menunggu mobilnya kembali bergerak jalan, Lisa terdiam. Ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Oh iya, surat-surat dan keperluan lainnya sudah diurus?"
"Surat apa?"
"Suami aku beri kalian hadiah umroh. Paket 12 hari."
"Umroh? Benarkah?"
"Iya Nafisah. Suamiku yang memberikannya pada Danish. Jangan bilang kamu tidak tahu soal ini?"
Nafisah tersenyum canggung. "Alhamdulillah, sebelumnya Terima kasih banyak. Tapi kalau jujur, aku memang tidak tahu perihal ini. Mungkin Danish lupa."
"Suamiku memberikannya sekitar 2 bulan yang lalu. Masa iya selama itu dia lupa?"
"Pekerjaannya begitu banyak apalagi dia sering lembur bahkan tidak pulang dari kantor. Kamu tahu kan, dia asisten suami kamu."
"Oh, gitu ya?"
Tint! Klakson pengendara lain berbunyi. Lisa langsung sadar dari lamunannya. Sebentar lagi ia akan sampai di bandara untuk menjemput si bungsu yang baru pulang dari luar negeri.
"Lembur dan tidak pulang? Cih, bohong banget suamimu, Nafisah. Jarang banget kalau si Randi ada pekerjaan yang membuatnya lembur apalagi sampai nggak pulang kerumah."
"Dih!" dengan kesal Lisa memukul kemudi stirnya. Merasa kesal sama pria yang namanya Danish si tukang bohong.
Dulu, ketika ia membenci Nafisah, ia tidak perduli dengan hal apapun yang menyangkut tentang Danish. Namun setelah ia berubah, justru ia malah perduli dengan keadaan Nafisah yang memiliki suami pengecut.
"Nafisah, aku nggak nyangka, ternyata sudah berbulan-bulan begini Danish tidak jujur padamu. Randi saja tiap malam pulang. Bahkan tidak ada jadwal lembur, bagaimana bisa Danish melakukan hal itu? Ya ampun.. "
****
"Mas, yakin tidak apa-apa? Waktu istirahat Mas cuma 1 jam loh."
"Iya sayang, nggak apa-apa. Lagian kalau bukan sama aku, kamu pulang sama siapa? Yang ngurus bagian administrasi dan ambil obat-obatan di farmasi juga siapa?"
Nafisah terdiam. Ia hanya tersenyum kecil. Di lihatnya suaminya itu sibuk membereskan pakaian istrinya ke dalam koper mini. Hari ini ia sudah boleh pulang dengan kondisi membaik dan rawat jalan.
"Mas sudah makan?"
"Belum. Kamu mau makan?"
"Kantin rumah sakit?"
Danish pun setuju. Dengan perlahan Danish mendorong kursi roda istrinya menuju kantin rumah sakit. Sesampainya disana, mereka mencari tempat. Nafisah menunggu di tempat yang kebetulan sedang kosong.
"Kamu mau makan apa?"
"Em, apa ya? Bubur ayam deh."
"Oke. Kamu tunggu sini."
Danish meninggalkan Nafisah kemudian menuju tempat dimana pemesanan makanan berada. Sembari menunggu, tanpa sengaja Nafisah melihat Ela. Tak hanya itu, ia juga saflok sama perut Ela yang terlihat membesar.
"Ini minumnya. Siang ini kamu belum minum obat kan? Aku pesan sebotol air mineral buatmu." sela Danish tiba-tiba.
Nafisah mengangguk. Ia meraih botol air minum kemasan dengan diam. Tatapannya sejak tadi tak berhenti menatap Ela.
"Mas?"
"Hm?"
"Ela masih kerja di perusahaan nggak, sih?"
Seketika Danish terdiam. Tangannya yang sejak tadi sibuk mengaduk jus mangga menggunakan sedotan secara reflek menghentikan tangannya.
"Aku tidak tahu." jawab Danish apa adanya. Padahal ia mulai was-was
"Atau sudah nggak lagi ya? Soalnya aku lihat dia ada disini, lagi makan sama seorang pria. Mungkin itu suaminya, Mas."
"Itu tidak mungkin!"
Nafisah terdiam. Syok melihat Danish yang tiba-tiba emosi begitu saja. Sadar dengan situasi, Danish pun akhirnya mencoba bersikap baik-baik saja. Sementara Nafisah terlihat bingung dan menatap Danish tanpa berkedip.
"Ma.. Maaf.. Nafisah. Aku tidak bermaksud apapun."
"Semuanya baik-baik saja?"
Tiba-tiba suasana canggung. Buru-buru Danish mengambil sikap.
"Tidak mungkin Ela bersama suaminya. Pernyataanmu barusan membuatku terkejut."
"Terkejut?"
"Iya, suaminya itu bekerja di perusahaan yang sama denganku. Aku mengenalnya. Yang aku tahu, tadi pagi dia pergi keluar kota. Jika sekarang dia ada bersama Ela, berarti dia berbohong dengan atasanku, itu saja. Karena itu aku terkejut."
"Oh begitu."
Dengan polosnya Nafisah mempercayai semuanya. Sementara Danish menghela napasnya begitu saja. Ia pun berdiri, beralasan ingin ke toilet. Padahal nyatanya ia menyempatkan seperkian detik hanya untuk melirik ke arah Ela. Dan itu benar, Ela bersama seorang pria. Waktu itu Randi berkata Ela bersama seorang pria. Sekarang ia sendiri melihatnya.
"Kenapa jadi kebetulan begini ya?"
Ela tertawa. "Ya aku nggak tahu. Aku juga nggak nyangka akhir-akhir ini kita bertemu. Oh iya, kamu sering kerumah sakit sini? Bulan lalu aku bertemu denganmu di rumah sakit yang ini."
"Bundaku di rawat disini karena kanker. Sekarang jadwal kemoterapi. Selagi menunggu, aku memilih kemari sampai akhirnya bertemu denganmu lagi.
"Oh begitu. Aku-"
Ddrrtt.. Ddrrtt... Ucapan Ela terhenti. Ponselnya bergetar. Ada notip masuk di ponselnya. Sebuah pesan chat dari WhatsApp.
D : "Aku akan ke apartemenmu malam ini."
Ela mengerutkan dahinya.
Ela. "Untuk apa? Aku rasa batalkan saja, Mas."
D mengetik...
"Ela sepertinya aku pergi dulu ya. Apakah tidak apa-apa?" sela pria yang bernama Ricky itu tiba-tiba.
"Oh sudah mau balik? Kalau begitu hati-hati ya. It's oke tidak masalah."
Maka Ricky pun pergi meninggalkan Ela, bertepatan saat Danish membalas pesannya.
D : "Tidak bisa. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu."
Ela : "Bukankah disini bisa?"
Ela menggeleng pelan kepalanya. Ia kembali menghapus ketikan chatnya barusan. Tentu saja Danish menolak membahas semuanya di chat. Mood Ela pun jadi rusak. Ia berdiri dan berniat untuk pergi saja dari sana.
"Ela!"
Ela menoleh ke belakang. Ia terkejut tiba-tiba Nafisah memanggilnya dengan raut wajah ceria sambil melambaikan tangan ke arahnya.
"Mbak Nafisah?"
"Kamu apa kabar? Sini, kemarilah."
"Ha?"
Mau tidak mau Ela menurut. Meskipun ragu, akhirnya ia hanya bisa pasrah mendekati istri pertama Danish.
"Hai, Assalamu'alaikum.. " sapa Nafisah ramah.
"Wa.. Wa'alaikumussalam."
"Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Mbak sendiri?"
"Sudah agak mendingan. Loh, bukannya tadi kamu nggak sendiri ya?"
Ela terdiam. Kenapa Nafisah bisa tahu ia bersama Ricky? Ya ampun, berarti sejak tadi ia di perhatikan.
"Iya, Mbak. Dia sibuk dan akhirnya pergi."
"Suami kamu?"
"Bukan.. "
"Ku kira tadi suami kamu." senyum Nafisah dengan polosnya. "Kemana dia? Aku nggak pernah lihat. Setiap bertemu denganmu, pasti kamu sendirian."
"Em, itu.. Dia.. Dia ada di luar kota."
"Berarti bener ya, kata Mas Danish?"
"Maksudnya?" Ela mulai bingung.
"Kata Mas Danish, suami kamu bekerja di satu perusahaan yang sama dan tadi pagi dia melihatnya pergi keluar kota."
"Ah.. Iya, iya, bener Mbak. Dia keluar kota." Ela tersenyum canggung. Kenapa pas sekali jawabannya dengan ucapan Nafisah.
"Nafisah, ayo kita pulang." sahut Danish tiba-tiba.
Nafisah berdiri. "Aku ke toilet dulu."
"Aku akan temani."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri kok."
"Yakin?"
"Iya, Mas, iya."
Danish pun membantu Nafisah berdiri dengan pelan. Setelahnya, wanita itu pergi menuju toilet dan hilang dari pandangan. Tidak mau membuang waktu, Danish menatap Ela sambil memperhatikan situasi.
"Tadi kamu sama siapa?"
"Oh, jadi tadi Mas Danish lihat aku juga?"
"Jawab pertanyaanku sekarang."
"Bukan siapa-siapa."
"Bukan siapa-siapa tapi sering kedapatan bersama?"
"Terus memangnya kenapa? Masalah buat Mas?"
"Kamu lupa kalau kamu istriku?" jawab Danish dengan suara yang di pelankan. Tatapannya terlihat marah. "Tidak baik keluar dengan pria yang bukan mahram!"
"Sejak kapan Mas perduli?" jawab Ela dengan kesal.
"Aku bukannya tak perduli aku hanya mengingatkanmu sebagai seorang suami-"
"Suami? Hanya status! Bukan karena perasaan, kan?"
Danish terdiam. Ia menatap Ela. Hanya beberapa detik, ntah kenapa aura ibu hamil yang dipancarkan Ela terlihat cantik di matanya. Buru-buru ia mengalihkan tatapannya ke lain.
"Aku sadar, Mas nggak mungkin menaruh rasa sama aku. Kita menikah karena takdir yang membuat kita terpaksa melakukannya. Bukan karena suka sama suka. Jadi untuk apa Mas bersikap seperti ini? Kalau tidak cinta seharusnya nggak perlu semarah ini apalagi dia hanya temanku. Bukan siapa-siapa. Aku-"
"Aku nggak suka!"
"Ya alasannya apa, sih? Nggak suka kenapa? Cinta? Nggak akan! Kita sudah melakukan banyak hal bersama selama ini. Semua mengalir begitu saja. Nggak mungkin Mas suka sama aku. Berbeda sama aku yang merasakan cinta bertepuk sebelah tangan dan sesakit itu rasanya. Aku sadar semua permasalahan ini di mulai dari aku, ini resiko yang harus aku hadapi, tapi aku nggak bisa menghentikan hatiku yang suka dan cinta sama kamu, Mas! Kamu ngerti nggak sih? Jadi, nggak mungkin kamu cemburu apalagi-"
"Iya aku cemburu!" ucap Danish akhirnya. Ela terkejut luar biasa.
"A.. Apa?"
"Aku marah karena aku cemburu."
"Nggak, nggak mungkin!" dengan cepat Ela berdiri dan pergi dari sana. Air mata berlinangan di wajahnya.
Ini seperti mimpi buatnya. Danish cemburu? Apakah suaminya itu mulai suka padanya? Danish benar-benar membingungkan.
"Jangan Ela. Jangan sampai terbawa perasaan... Dia aja nggak akan pernah bisa jujur sama Nafisah tentang hubungannmu selama ini. Bagaimana ia bisa jujur soal perasaannya padamu?"
"Nggak, nggak mungkin Danish cemburu. Itu tidak mungkin! Waktu kalian begitu singkat! Tidak mungkin ada rasa cinta di hatinya. Ya Allah, jangan biarkan diriku menjadi percaya diri, jangan biarkan hati ini lemah.. "
Setelah menatap kepergian Ela. Di saat yang sama, Nafisah datang. Ia mengerutkan dahinya.
"Loh, Ela mana Mas?"
"Sudah pergi."
"Ah sayang sekali, padahal aku ingin mengobrol banyak hal bersamanya."
"Jangan bertemu dengannya lagi."
"Memangnya kenapa?"
Nafisah terlihat bingung melihat reaksi Danish saat ini. Seperti sedang marah.
"Apakah semuanya, baik Mas?"
"Ayo kita pulang. 30 menit lagi jam istirahat aku berakhir."
Danish berdiri dengan memegang koper miliknya. Berusaha mengalihkan semuanya. Nafisah hanya menurut. Ketika Danish teralihkan, Nafisah mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tenteng yang sering ia bawa kemana-mana. Ia menatap ponselnya yang menyala. Layarnya menampilkan voice recorder yang sudah berjalan selama 1 menit 30 detik.
Buru-buru Nafisah menyimpan rekaman suara tersebut. Ntah kenapa sebelum ia ke toilet, Lagi-lagi instingnya menyuruhnya untuk melakukan hal ini sebagai bentuk kecurigaanya pada Ela dan suaminya.
"Nafisah, ayo.. "
"Iya, Mas. Ayo kita pulang."
*****
Masya Allah Alhamdulillah, Hai pagi... ☺
Tumben banget ya pagi ini aku update dengan suguhan penuh drama chapter nya, hhe. 😄
Pokoknya happy weekend ya semua. Semakin kesini, alurnya makin deg-deg an.. 😬
Oh iya, jgn lupa komentar dan vote nya ya. Terima kasih 😘
With Love, Lia❤
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 69 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-69-sakit-hati.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar