"Malam ini pulang jam berapa, Mas?"
"Bukan malam, tapi insya Allah sore sudah pulang."
"Oh begitu.."
"Ada apa? Tumben tanya."
"Memangnya salah? Kan biasanya pulang malam karena lembur."
"Ya nggak sih, " Danish tersenyum. Tak lupa ia menyentuh pipi Nafisah. "Aku pikir kamu ingin menitip sesuatu di luar. Aku bisa saja membelikannya."
"Tidak," Nafisah mencium punggung tangan suaminya. Karena jam istirahat Danish sebentar lagi akan berakhir dan ia harus kembali ke kantor. "Aku hanya titip hati Mas tetap kembali pulang buat aku."
"Maksudnya?"
"Cepat berangkat, nanti terlambat."
Nafisah tetap memperlihatkan senyuman manisnya kepada sang suami tercinta. Danish mengangguk, tak lupa mencium kening Nafisah.
"Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya, Mas."
"Iya sayang."
Maka Danish pun berbalik. Senyuman yang ia perlihatkan tadi seketika memudar. Ntah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Sementara Nafisah, ia juga melakukan hal yang sama. Menatap punggung Danish yang perlahan menjauh dengan raut wajah datar.
****
"Kok nggak ada suara apa-apa?"
Dengan seksama Nafisah menyimak voice yang berjalan kurang lebih hampir 1 menit. Tidak ada suara apapun, apalagi percakapan. Hanya kebisingan dan suara-suara tidak jelas yang terdengar.
Nafisah lesu. Tidak menemukan hal apapun yang mencurigakan sama suaminya. Apakah ia sudah berseudzon dengan Danish? Salahkah ia mulai berpikir yang tidak-tidak sementara hatinya gelisah?
Ting tong!
Suara bel apartemen membuat Nafisah teralihkan. Ia segera menuju ruang tamu dan membukakan pintunya. Lisa berdiri dengan senyuman ramah. Di sebelahnya ada seorang pria yang ternyata adalah adik bungsunya.
"Assalamu'alaikum. Hai?"
"Wa'alaikumussalam. Em Hai.. Ada.. Apa ya?" tanya Lisa canggung. Tanpa sengaja Nafisah menatap adik Lisa yang memang tampan seperkian detik. Lalu secepat itu ia menundukkan pandangannya.
"Aku kesini hanya sebentar. Ini ada oleh-oleh buat kamu."
"Oleh-oleh?" Nafisah menerima goodybag dari Lisa. Ia melirik isinya sejenak. Ada beberapa makanan dan souvenir di dalam nya..
"Iya, oleh-oleh. Adikku baru balik dari luar negeri sekaligus membawa titipanku. Maaf ya, isinya nggak seberapa kok. "
"Justru bagiku istimewa. Terima kasih ya.. "
"Sama-sama. Em, aku langsung balik ya. Suamiku sebentar lagi mau sampai ke rumah. Dia nggak lembur, jadi aku nggak bisa lama-lama."
"Iya, nggak apa-apa kok. Sekali lagi Terima kasih ya, Lisa."
"Oke, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Nafisah menutup pintunya. Ia melirik ke arah jam dinding, pukul 17.00 sore. Disaat yang sama, notif pesan chat whatsapp masuk ke ponselnya. Pesan dari Danish, Nafisah membacanya.
Suami Tercinta : "Sayang, malam ini aku lembur di kantor. Mungkin aku agak telat pulang. Jangan menungguku. Kalau kamu ngantuk segera istirahat, ya. "
Nafisah tersenyum miris sembari membalasnya.
Nafisah : "Iya, Mas. Jam berapa pulang?"
Nafisah terdiam sesaat. Bukankah tadi Lisa bilang kalau Randi tidak lembur bekerja? Jadi untuk apa asistennya itu ikutan lembur juga?
****
Danish terkejut, tanpa sengaja ia melirik ke arah tas Nafisah yang sedikit terbuka. Dengan inisiatif ia memutuskan untuk menutupnya dengan ziper. Namun, belum saja tertutup seluruhnya, Danish menghentikan tangannya. Kedua matanya memicing.
"Kenapa voice recorder Nafisah menyala?"
Tanggap dengan situasi, Danish menekan pause sejenak. Setelah itu, ia menatap Ela didepannya. Bermenit-menit ia berbicara secara pelan dan empat mata pada wanita itu. Bahkan setelah kepergian Ela, Danish kembali membuka layar ponsel Nafisah. Ia kembali menekan play voice recorder dan membiarkan sejenak hingga 1 menit lebih.
"Loh, Ela mana Mas?"
Dengan mengingat semua itu. Ia yakin, Nafisah mulai curiga terhadapnya. Dan Ela benar, tidak seharusnya ia menemui wanita itu demi kebaikan bersama agar situasinya tidak bertambah rumit.
Tapi, bisakah ia tidak menemui Ela dengan kondisi yang sekarang sudah berubah? Dulu ia tidak peduli. Tapi kenapa sekarang ia perduli?
Danish mengecek ponselnya, pesan dari WhatsApp Nafisah belum juga ia balas. Waktu yang terus berjalan membuat Danish akhirnya segera keluar dari toilet perusahaan dan menuju parkiran motor.
Danish mengendarai motornya. Sebelum tiba di tujuan, ia ke toko bunga membeli sebuah buket mawar merah berukuran sedang. Ia tersenyum tipis. Mungkin ini akan menjadi sebuah hadiah yang berkesan. Setelah membayar semuanya, Danish melanjutkan perjalanannya menuju apartemen.
Sesampainya disana, Danish segera memarkirkan motornya dengan rapi. Ia melepaskan helm nya dan tak lupa membawa buket bunga tersebut.
Danish terlihat bahagia, itu yang Nafisah lihat saat ini dari jarak kejauhan.
****
Masya Allah Alhamdulillah. Hai aku kembali update ya.. 😘
Hm, part ini mulai dag dig dug, ya 😁Padahal Udah mau chapter 70. Kok panjang banget? Iya, sengaja. Karena kalau chapter sedikit aku nya kurang puas 😆😆
Tapi makasih ya sudah baca. Sehat selalu buat kalian,
With Love 🥰 Lia
Instagram : lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 70 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-70-dusta.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar