Chapter 70 : Dusta - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 70 : Dusta


"Assalamu'alaikum.. "

"Wa'alaikumussalam. Oh ada Danish? ayo masuk-masuk. Kemarilah.."

Danish memasuki ruang tamu yang terlihat cantik di tambah dekorasi bunga mawar dimana-mana. Danish menyerahkan buket bunga mawar yang ia bawa pada seorang gadis yang saat ini sedang genap berusia 15 tahun.

"Loh, Pak Danish sendiri?" sapa seorang ibu paruh baya yang di ketahui istri dari rekan kerjanya bernama Lola.

"Saya-"

Brak! Pintu terbuka lebar. Nafisah berdiri dengan raut wajahnya yang pucat dan terlihat marah. Ia berdiri dengan kaku. Ia syok, melihat apa yang didepan matanya. Dengan jelas bertuliskan Barakallah fii umrik ke 15 tahun Hasanah. Situasi yang sejak tadi terlihat akrab dan penuh senyuman mendadak hening. Semua mata tertuju pada Nafisah

"Siapa, Ma?" tanya Hasanah dengan bingung.

Tanggap terhadap situasi, Danish segera mendatangi Nafisah. "Maaf, ini istri saya."

"Oalah, Pak Danish kesini sama istrinya ya?" sahut Lola dengan raut wajah ramah. Padahal sebenarnya ia merasa aneh karena kedatangan Nafisah yang terlihat tidak sopan. Mencoba bersikap biasa-biasa saja, ibu paruh baya itu menyambut keduanya.

"Ayo, sini masuk."

"I.. Iya Bu. Maafkan istri saya-"

"Sshh.. Oke tidak masalah. Mari bergabung. Semuanya.. " Lola tetap tersenyum ramah. "Mari silahkan di cicipi hidangannya."

Lalu semua orang pun mulai menuju meja makan prasmanan. Mereka terlihat mengantri mengambil nasi, lauk pauk, dan menu lainnya secara tertib. Berbeda dengan Pak Muhtar, Papa Hasanah yang heran melihat Nafisah karena kedatangan wanita itu yang kurang sopan.

Nafisah masih canggung sejak tadi. Padahal Danish masih merengkuh pundaknya. Ia merasa malu dengan tindakannya. Sesekali ia memperhatikan sekitar, rupanya anak dari rekan kerja suaminya itu penyuka bunga mawar. Pantas saja ia melihat Danish membeli sebuket mawar merah meskipun sempat mencurigainya.

"Mas, Aku-"

"Nanti saja ngomongnya. Kamu tahu kalau tindakanmu tadi bikin aku malu? Semua orang hampir menatapmu heran bahkan bertanya-tanya ada apa.."

"Aku minta maaf." lirih Nafisah pelan. "Aku-"

"Assalamu'alaikum semua.."

"Wa'alaikumussalam.. Wah ada Ela disini." sambut Pak Muhtar ramah.

Nafisah melihat ke arah Ela. Wanita itu datang dengan anggun dan cantik. Terlihat sekali perut hamilnya yang semakin membesar. Ia juga memeluk erat lengan seorang pria di sebelahnya. Seketika Nafisah tertampar. Sadar kalau ternyata selama ini ia salah paham.

"Rupanya pria itu adalah suaminya." lirih Nafisah dalam hati.

"Ya Allah Kaka bumil cantik. " sela Hasanah ramah. "Sama suami Kakak ya?"

Nafisah mendengar sesaat, namun ntah kenapa tiba-tiba kepalanya pusing dan semuanya menjadi gelap. Semua orang kembali terfokus pada Nafisah yang lagi-lagi berulah. Nafisah pingsan dan membuat Danish khawatir.

"Maaf Pak Muhtar. Maafkan kami sudah membuat acara putri anda bermasalah. Kami pergi dulu, Assalamu'alaikum.. "

****

Suasana ibu kota di malam hari terlihat indah. Meskipun semilir angin terasa sepoi-sepoi. Ela merasa enggan untuk beranjak dari balkon apartemennya.

"Betah banget kayaknya disini.."

Selimut hangat menutupi pundak Ela. Ela menoleh ke samping. Abang nya tiba-tiba datang membawa selimut.

"Anginnya enak."

"Sama, aku jadi kerasaan disini. Kalau aku tinggal disini boleh?"

Ela menatap Kakaknya dengan tatapan tidak suka. Ia ingin protes, namun Abang nya malah tertawa lebar.

"Tenang, tenang, aku janji aku tidak akan mengganggu kalian ya meskipun, aku tahu, adik iparku itu paling jarang kesini."

"Jangan sok tahu."

"Tapi aku benar, kan?"

Ela hanya bisa diam. Ya, itu memang benar. Danish paling jarang menemuinya. Bertemu kalau ada hal penting yang ingin di bicarakan. Itupun hanya 1 jam. Setelah itu, pria itu pergi kembali ke asalnya dengan alasan utamanya adalah Nafisah.

"Soal acara tadi sore. Sepertinya Nafisah belum mengetahui hubunganmu dengan Danish."

"Bang, aku mau istirahat."

Ela memilih memasuki kamarnya. Enggan untuk berbicara hal-hal yang menyangkut tentang dirinya dan Danish.

"Hubungan antar sesama besan sedang renggang. Sementara Orang tua kita terlihat biasa apalagi menanti cucu pertama mereka."

Ela menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Abangnya. "Maksudnya?"

"Orang tua Nafisah dan Danish, saat ini terlihat tidak Baik-baik saja."

"Tahu dari mana?"

"Aku punya teman di kampung sana. Dia bertetangga dengan orang tua Danish dam Nafisah. Kabar kalau Danish sudah menikah lagi itu memang tersebar di kampung mereka. Bahkan jadi gosip para ibu-ibu. Dan, kamu tahu sendiri. Orang tua mana yang tidak kecewa kalau anak perempuannya di poligami?"

Pria itu mendekati Ela. Ia memegang kedua pundak adiknya yang terlihat baik-baik saja padahal sebenarnya rapuh.

"Berbeda dengan orang tua kita. Mereka malah menanti keponakan pertama aku yang ini."

"Aku tahu." lirih Ela.

"Kamu mau sampai kapan kayak gini?"

Ela hanya bisa diam. Tiba-tiba air mata mengalir di pipinya. Dengan pelan Abang nya itu memeluknya.

"Lepaskan. Dia bukan milikmu, Ela. Segera lakukan sebelum Nafisah mengetahuinya. Hubungan suami istri yang kalian jalani selama ini seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja."

"Tapi bagaimana denganku?"

"Aku tahu ini tidak mudah denganmu. Apalagi sedang hamil. Calon keponakanku tidak salah. Dia memang tidak pernah minta untuk di lahirkan. Tapi semua itu sudah kehendak Allah dan tercatat di Lauhul Mahfudz. Apakah kamu tidak memikirkan perasaan Nafisah?"

"Kenapa Abang perduli dengan wanita itu?"

"Justru aku perduli denganmu. Aku tidak ingin melihat adikku terus menerus berada dalam kesulitan. Pernikahan itu di jalani dengan kebahagiaan, bukan kesedihan seperti ini."

"Tapi... " Ela melepaskan pelukannya. "Mas Danish, dia.. "

"Kenapa?"

"Dia begitu marah bila melihatku bersama pria lain. Padahal kami tidak ada apa-apa. Abang seorang pria, pasti mengerti maksudku. Kalau Mas Danish begitu, artinya apa?"

Seketika pria itu terdiam. Ia menatap adiknya sesaat. Dengan perlahan ia memundurkan langkahnya sambil mengusap wajahnya dengan gusar.

"Aku tidak bisa menjawab."

"Kenapa?"

"Aku merasa rahasia kalian begitu membahayakan Nafisah."

****

Danish terdiam sambil menatap istrinya. Ia terlihat merenung sambil bersedekap. Seketika ia teringat kejadian tadi sore. Ia tahu, pria yang datang bersama Ela tadi adalah Abangnya yang dari kampung halaman.

"Mas Danish! Mas!"

Danish terkejut. Ia langsung berlari menuju kamar. Nafisah terdengar histeris. Begitu membuka pintu kamar, Nafisah terlihat tidak baik-baik saja. Bahkan terduduk di atas tempat tidur sambil menelungkupkan wajahnya. Ia melipat kedua lututnya.

"Nafisah, Nafisah.. Ada apa?"

Nafisah mendongakkan wajahnya, begitu ia melihat Danish ia langsung memeluknya erat.

"Mas.. "

"Tenanglah Nafisah, tenang, istighfar.."

Nafisah menurut. Ia beristighfar. Wajahnya pucat dan basah oleh air mata. Ia langsung memeluk Danish dengan tubuh gemetar.

"Aku takut.. "

"Apa yang kamu takutkan?"

"Bisakah tetap setia padaku?"

Danish terdiam. Ia mengelus pundak Nafisah.

"Apakah karena itu, kamu mengikutiku dan tiba-tiba datang ke acara putri rekan kerjaku yang sedang ulang tahun?"

"Maaf.."

"Tidak, kamu tidak salah sama sekali. Justru aku yang minta maaf."

"Mas nggak salah. Aku yang salah. Maaf sudah salah paham dan curiga. Tidak sepatutnya aku sebagai istri menuruti kata syaitan untuk seudzon dengan suaminya. Hanya memikirkan hal ini, pikiran dan kondisiku langsung sakit. Aku tahu Mas pria yang baik dan setia. Aku mengetahuinya ketika di masalalu almarhumah Mbak Alina bercerita padaku. Jadi, tidak mungkin Mas akan menduakanku dalam keadaan seperti ini. Aku benar kan, Mas?"

*****

Halo Pagi... 😊

Masya Allah Alhamdulillah. Aku sudah update ya chapter ini🥰

Gimana hati kalian?? Masih kuat hadapin Danish? 😆😁

Jangan lupa vote dan komentarnya ya.. 😘

With Love Lia❤

Instagram : lia_rezaa_vahlefii


NEXT CHAPTER 71 :

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu