Chapter 71 : Terungkap - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 71 : Terungkap


3 bulan kemudian..

Setelah apa yang terjadi. Nafisah berjanji kalau ia tidak akan pernah suudzon lagi dengan suaminya. Dan itu benar, Nafisah melakukannya. Kabar bahwa bulan ini akan melaksanakan ibadah umroh membuat Nafisah benar-benar bersemangat sekaligus bersyukur untuk mempersiapkan semua keperluannya.

"Mas.. "

"Ya?"

"Besok aku minta izin ya, ke butik busana muslim."

"Mau beli apa disana? Bukannya minggu lalu kita sudah kesana, ya?"

"Berarti nggak boleh?"

Danish menatap Nafisah sejenak. Bukannya tidak boleh, hanya saja jika tidak ada keperluan yang di beli untuk apa? Nafisah menghela napasnya.

"Oke, diam berarti nggak boleh."

Danish tersenyum. Istrinya terlihat membawa piring kotor sisa makan malam mereka menuju wastafel. Nafisah mencucinya. Danish pun memeluknya dari belakang.

"Boleh kok."

"Kalau nggak boleh, nggak masalah Mas."

"Ngambek?"

"Nggak juga."

Danish mencium pelan pipi istrinya. "Nggak juga, berarti iya. Hm, istriku ini kemauannya memang nggak bisa aku tolak."

"Kalau begitu pinjam ponselnya."

"Untuk apa?"

"Pinjam dulu. Ini kan kemauan aku Mas. Bukankah tadi bilang kemauanku nggak bisa di tolak?"

Danish menghela napasnya. Ia mengalah sembari tersenyum. Kali ini Nafisah menang. Dengan sumringah Nafisah menerima ponsel Danish. Sementara Danish mengambil alih sisa pekerjaan istrinya yaitu mencuci gelas kotor agar tidak menumpuk.

Nafisah membuka aplikasi internet bangking. Karena Danish sudah mengizinkannya besok ke toko busana muslim, maka ia butuh uang dari suaminya. Barang kali besok ada satu stel gamis atau khimar yang di sukainya. Mendadak senyum Nafisah pudar, ia merasa heran.

"Kenapa Mas Danish punya dua rekening disini?" sela Nafisah dalam hati.

Tanpa meminta persetujuan, Nafisah mengecek kedua rekening saldo tersebut. Nomor rekening yang biasanya ia tahu masih memiliki saldo belasan juta. Sementara nomor rekening yang satunya, sisa sedikit. Bahkan tersisa 500rb.

Rasa ingin tahu Nafisah semakin memuncak. Ia membuka daftar mutasi transaksi nomor rekening yang memiliki saldo 500rb. Danish telah melakukan riwayat transfer sebesar 8 jt rupiah kepada..

"Nafisah?"

"Ya Mas?"

"Apakah ponselku sudah selesai? Sepertinya aku harus mencharge nya. Kamu bisa lihat kalau baterainya sisa 5%."

"Ah iya, itu benar."

Nafisah memutuskan untuk menyerahkan ponsel suaminya. Danish tercengang.

"Wah, banyak banget uang jajannya. 1 juta?"

"Aku rasa itu tidak seberapa buat Mas. Yaudah, ayo tidur. Sudah malam.." ucap Nafisah seadanya. Toh suaminya itu sudah melakukan transfer sebesar 8jt meskipun tidak sempat melihat nama penerimanya.

Danish mengangguk. Ia tersenyum sambil merengkuh pundak istrinya. Sementara Nafisah kembali terdiam. Ia pikir ia sudah berhasil selama 3 bulan berturut-turut untuk tidak prasangka buruk pada suaminya. Namun sepertinya, ia merasa gagal.

****

"Mbak, ini ada ukuran untuk bumil?"

Seorang pramuniaga dengan ramah mendatangi Ela. Ela tertarik pada gamis cantik berwarna peach dengan bahan wolfis premium.

"Kalau untuk bumil sih, ukuran XL masih ready kak."

"Boleh lihat?"

"Tunggu sebentar ya.."

Ela mengangguk. Sembari menunggu, tiba-tiba perutnya terasa keram. Akhir-akhir ini ia merasakan kalau perutnya muncul rasa nyeri. Lalu dalam hitungan detik rasa nyeri itu kembali hilang. Padahal kehamilannya masih berusia 7 bulan."

"Mbak, khimarnya ada yang non ped?"

Ela menoleh ke sumber suara. Ia terkejut bahwa tiba-tiba Nafisah ada di tempat yang sama. Merasa gugup, ia pun memutuskan untuk pergi dari sana. Kehamilannya yang semakin besar ntah kenapa selalu membuatnya was-was bila ketemu Nafisah.

"Loh Kak, ini gamisnya gimana?"

"Kak..?"

"Ukuran XL nya ada nih.."

Saking paniknya, Ela memutuskan lebih baik segera pergi . Mengabaikan rasa keram yang lagi-lagi kembali terasa.

"Ya Allah, perutku.. "

Ela mengalah. Ia tertunduk sampai akhirnya dengan perlahan terduduk di lantai dengan lemah.

"Astaghfirullah, sepertinya Mbak mau lahiran." sela seorang ibu paruh baya tiba-tiba. Ia melihat dengan jelas bagaimana celana legging yang dipakai Ela berwarna cream basah oleh air ketuban yang merembes hingga ke ujung kaki.

"Enggak, Bu. Enggak.. Saya.. Kehamilan saya masih 7 bulan. Saya... Ya Allah ini sakit sekali."

"Ela, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Cepat!"

Tiba-tiba Nafisah datang. Ela tambah syok melihat Nafisah. Lalu secepat itu semua pandangannya menjadi gelap. Suasana yang tadinya tenang kini menjadi panik. Nafisah mengakui dirinya pada orang-orang di sekitarnya kalau ia adalah rekan Ela.

Nafisah memutuskan untuk membawa Ela yang pingsan ke rumah sakit dengan memesan taksi online. Taksi online menuju rumah sakit tempat dimana Nafisah pernah bertemu dengan Ela sambil membawa buku kontrol kehamilan. Nafisah yakin, setiap bulannya Ela melakukan kontrol kehamilan di rumah sakit tersebut.

Sesampainya dirumah sakit, tim medis langsung memberi pertolongan menuju UGD. Nafisah panik, bingung harus menghubungi siapa sementara ia tidak tahu menahu tentang keluarga Ela.

"Keluarga pasien?" tanya suster yang kini baru saja keluar dari UGD

"Maaf, saya rekannya."

"Maaf bu, apakah bisa hubungin suaminya?"

"Maaf saya tidak tahu, Sus. Tapi sebisa  mungkin saya akan berusaha menghubungi keluarga Ibu Ela."

"Baik Bu, kami tunggu. Terima kasih."

Nafisah mengangguk. Ntah bagaimana caranya akhirnya ia pergi dari sana. Nafisah melangkahkan kakinya keluar menuju lobby rumah sakit. Apakah ia harus ke apartemen Ela untuk memberi tahu asisten rumah tangga wanita itu agar bisa menghubungi suami majikannya?

"Kenapa suami ibu Ela tidak angkat panggilan ya?"

Nafisah menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah dua orang suster yang terlihat kebingungan sambil memegang berkas berisi data rekam medis pasien.

"Maaf, apakah suster sedang menghubungi keluarga pasien atas nama ibu Ela?"

Suster itupun mengangguk. "Iya, itu benar. Maaf ibu siapa ya?"

"Alhamdulillah. Saya rekannya ibu Ela. Boleh saya bantu menghubungi suaminya pakai nomor ponsel saya? Siapa tahu beliau menerima panggilan dari saya."

"Boleh. Saya sebutkan nomornya ya Bu.."

Nafisah mengeluarkan ponselnya. Satu per satu ia mengetik angka nomor ponsel setelah suster tersebut menyebutkannya. Seketika dunia serasa runtuh setelah Nafisah melihat dengan jelas pada layar ponselnya. Nomor yang di sebutkan Suster tadi adalah nomor Danish.

"Nggak.. Aku yakin.. Aku.. aku salah ketik.. "

Nafisah kembali menghapusnya..

"Em.. Sus... " Suara Nafisah mulai bergetar. Tangannya terasa dingin. Jantungnya berdegup kencang.

"Maaf, apakah ibu baik-baik saja?"

"I.. Iya.. Maaf, bisa.. Bi.. Bisa sebutkan lagi nomornya?"

"Baik.. 0."

"Ya?"

"8."

"3."

"1."

"Lalu?"

Dan lagi, Nafisah mulai menajamkan pendengarannya. Setiap angka yang ia masukan ntah kenapa semakin membuatnya ketakutan. Suster tadi masih menyebutkan angka nomor ponsel dengan pelan dan detail. Sisa satu angka lagi, semoga saja tidak sama seperti di awal.

"Sudah, Bu. Bisa tolong hubungi beliau?"

Nafisah mengangguk. Ia melakukan panggilan tanpa melihat ke layar ponselnya. Dengan tubuh gemetar dan syok, Nafisah mengarahkannya ke telinga. Panggilan sedang berlangsung, harapan Nafisah masih sama seperti tadi. Semoga bukan walaupun kenyataannya mustahil.

"Halo Assalamu'alaikum Nafisah.. "

Saat itu juga air mata meluruh di pipi Nafisah. Ia tidak pernah menyangka bahwa Danish telah menyakitinya jauh lebih dalam.

"Nafisah?"

"Halo?"

"Nafisah? Kamu baik-baik saja?"

****

Ayo.. Kita nangis bersama 😭

Sesakit itu chapter ini. Ayo kuatkan hati walaupun rasanya rapuh banget 😭

Maaf, Danish begitu menyakitkan 😣

With Love Lia
Instagram : lia_rezaa_vahlefii


NEXT CHAPTER 72 : 

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-72-hujan-dan-luka.html


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu