Chapter 72 : Hujan Dan Luka - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 72 : Hujan Dan Luka


Randi menatap Danish yang terlihat syok. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan pria itu. Sadar terhadap situasi, Randi berdeham.

"Sudah saya cek proposalnya. Semuanya oke. Besok hubungi mereka untuk menandatangani kontrak kerja samanya dengan saya di ruangan.

"Baik,Pak."

"Barang kali kamu ada kesibukkan, kamu boleh pulang."

Danish tersenyum kaku. "Iya Pak. Saya harus kerumah sakit sekarang."

"Oke,hati-hati dijalan."

Maka Danish pun pamit undur diri dengan sopan. Padahal hari ini adalah hari libur,namun karena pekerjaan yang tiba-tiba datang mendadak, Danish pun memutuskan menemui atasannya itu di cafe terdekat apartemennya. Danish keluar dari kafe dan menuju parkiran motor setelah Nafisah mengirim sherlock tempat dimana ia berada.

"Nafisah dirumah sakit? apakah dia baik-baik saja?"

Danish sedikit menambah kecepatan motor matik yang ia kenakan. ia merasa gugup dan takut kalau saja Nafisah kenapa-kenapa. "Ya Allah, lindungilah istri hamba."

Hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit, Danish pun tiba di tujuan. Ia memasuki lobby rumah sakit untuk mencari Nafisah. Tak hanya itu, ia juga menuju lantai dua tempat dimana biasanya Nafisah melakukan kontrol bulanan pada salah satu Dokter spesialis kanker. Danish terpikir, apakah terjadi sesuatu sama istrinya sehingga harus di larikan ke rumah sakit? Namun nihil, tidak ada Nafisah disana. Danish memutuskan untuk menghubungi istrinya.

"Kenapa tidak diangkat?"

Danish semakin bingung. Bahkan pesan Whats App saja tidak dibaca istrinya. Danish pun memutuskan turun ke lantai 1 menuju UGD. Masih sama dengan sebelumnya, ia kembali mencari Nafisah.

"Pak Danish?"

Danish menoleh ke belakang. Seorang suster mendatanginya. "Ya?"

"Kami harus segera meminta persetujuan dari Bapak untuk mendatangani proses kelahiran-"

"Bentar-bentar, Maaf Sus." sela Danish bingung. "Ini maksudnya apa ya? kelahiran? saya nggak salah dengar, kan? istri saya sedang tidak hamil."

Suster tersebut semakin di buat bingung oleh ucapan Danish. Merasa kalau Danish seperti bukan suami Ela. Padahal nyata-nyatanya pria itu suaminya. Tak mau berdebat, akhirnya Suster tersebut menyerahkan riwayat rekam medis atas nama Ela hingga akhirnya Danish terkejut.

Detik itu juga ia langsung tempat dimana Ela berada setelah menyelesaikan syarat dan prosedur yang di berikan rumah sakit untuknya sebelum proses tindakan lebih lanjut. Ia sudah lupa dengan tujuan awalnya saking paniknya.

Setelah itu, Danish menuju lantai 3 tempat dimana lokasi ruang persalinan. Ela terlihat menahan sakit. Sementara dua orang suster tengah memeriksa kondisinya terutama tindakan mengecek suara detak jantung janin pada perut Ela.

"Mas,,,"

"Ela, apa yang terjadi? Bukankah kehamilan kamu masih 7 bulan?"

"Aku.." Ela sudah tak sanggup berkata apapun lagi. yang ada ia terisak sedih dan menangis. Secara psikis, ia memang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah bertemu Nafisah. Apakah ia sanggup bercerita sekarang sementara kontraksi pada perutnya begitu sakit luar biasa?

Tak ada yang bisa Danish lakukan selain duduk di samping wanita itu. Dengan perlahan ia menggengam pelan tangannya. Seketika ia teringat masalalu, ketika ia berada di samping almarhumah Alina dan menemani detik-detik proses persalinannya. 

"Maafkan aku, Mas.."

"Tenanglah. Mungkin sudah waktunya dia lahir meskipun baru 7 bulan."

"Aku takut.. rasanya, begitu menyakitkan."

"Perbanyak istighfar dan berdoa ya. Aku-"

"Lebih baik Mas pulang. Tidak seharusnya Mas disini."

"Kamu sedang berjuang, Ela. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?"

"Tapi-" Ela meringis kesakitan. Peluh Keringat membanjiri keningnya. Dengan perlahan Danish mengusapnya.

"Tolong jangan berdebat. Aku tidak akan meninggalkanmu."

"Janji?"

"Iya, Janji."

Danish mengelus pelan pipi Ela. Disaat yang sama Ela menangis. Rasa bersalahnya pada Nafisah semakin membuatnya berdosa. Ia pun akhirnya berbaring menyamping menghadap Danish. Ntah dorongan dari mana, dengan perlahan Danish memeluknya, memberinya ketenangan.

Semua sudah jelas. Nafisah berharap apa yang ia lihat hanyalah mimpi buruk dan setelah terbangun, semuanya akan baik-baik saja. Ia memundurkan langkahnya. Dunia serasa runtuh baginya.

"Ya Allah. Rasanya begitu sakit. Apakah hamba berdosa bila meminta kematian saat ini juga? Penyakitku sudah parah, tapi kenapa rasa sakit ini mengalahkan semuanya?" lirih Nafisah dengan air mata yang sudah menetes.

"Ada apa dengan semua ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Ya Allah, dosa apa yang sudah hamba lakukan hingga Kau menguji hidup hamba begitu berat?"

Nafisah membalikkan badanya. Pergi meninggalkan ruangan Ela setelah diam-diam menguping dari depan pintu semata-mata untuk memastikan semuanya agar lebih jelas.

Tatapan Nafisah serasa kosong. Ia berjalan dengan raut wajah pucat. Ia sudah tidak memperdulikan lagi apa yang ada di sekitarnya. Ia sibuk berpikir banyak hal tentang semuanya.

Tentang kenapa ada wanita lain selain dirinya?

Tentang Danish yang ia kenal sebagai sosok suami yang menundukkan pandangan kepada yang bukan mahramnya namun kenapa justru ada Ela yang kini bersamanya?

Bruk!

Nafisah terjatuh. Pinggulnya begitu sakit mengenai lantai. Tapi semua itu tidak sebanding dengan rasa perih di hatinya. Tanpa sengaja seorang pria menabraknya karena berlari dan terburu-buru.

"Mbak, maafkan saya, saya tidak sengaja."

Nafisah terdiam. Rupanya suara laki-laki. Berusaha untuk berdiri dan kuat, Nafisah tetap mengabaikannya tanpa perlu melihatnya.

"Tidak apa-apa, permisi."

Pria itu menatap kepergian Nafisah dengan tertatih. Bahkan dengan sopannya menolak bantuan darinya. Sebelumnya, ia pernah sekali melihat wanita itu ketika menemani Kakaknya mengantarkan oleh-oleh ke apartemennya.

Air mata tak mampu Nafisah bendung. Ia juga tidak perduli jika orang-orang melihatnya menangis. Diam-diam Danish sudah tidak memperdulikan hatinya selama ini. Baginya semua itu adalah bentuk kehancuran dirinya secara perlahan.

"Kenapa harus aku, Mas? Kenapa?"

Nafisah sudah berada di depan loby rumah sakit. Ia sudah tidak tahan lagi dengan hatinya. Perlahan, rintik hujan mulai turun. Nafisah menengadahkan tangannya. Ia tersenyum di sela-sela isak tangisnya.

"Kenapa cuaca sekarang begitu sama dengan diriku?"

"Terasa dingin, terasa sakit kalau lama-lama dibawah hujan dan.. "

"Sepi.."

Nafisah terisak, mengabaikan situasi. Ia berjalan dengan lunglai menerobos hujan yang mulai turun. Sekali lagi, ia menoleh ke belakang. Gedung rumah sakit yang besar. Didalam sana, ia begitu tahu ada orang yang ia cintai kini berpindah hati pada wanita lain. Bahkan ada calon buah hati yang sedang di nanti kelahirannya.

"Kenapa ingin punya anak bukan sama aku saja? Apakah karena aku sakit, kamu begini?"

Rasa insecure hadir. Nafisah kembali melanjutkan langkahnya menuju apartemen yang tidak terlalu jauh. Nafisah sudah putus asa. Cintanya sudah di khianati.

"Seperti yang aku bilang tadi, kalau hujan turun. Semua terasa begitu sepi. Tidak ada orang yang keluar dan memilih didalam rumah."

"Ya Allah, sekarang hamba disini. Di tempat yang sepi. Sudah tidak ada lagi rumah untuk berpulang. Karena rumah yang hamba tempati selama ini, sekarang sudah di isi wanita lain."

****

Halo, hati kalian masih kuat gak?😣 Tahan kan sampai chapter selanjutnya?

Insya Allah bentar lagi ending 😭

Makasih sudah bertahan sampai sekarang ❤

With Love Lia

Instagram : lia_rezaa_vahlefii


NEXT CHAPTER 73 : 

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-73-orang-ketiga.html


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu