"Dalam pasal 270 KUHP dijelaskan barangsiapa seseorang yang memasukkan surat seolah-olah seperti surat aslinya maka bisa dikenakan hukuman paling lama yaitu 2 tahun 8 bulan penjara.. "
Sofia terdiam setelah akhirnya ia resmi di tetapkan sebagai tersangka atas kasus pemalsuan identitas 5 tahun yang lalu. Ia memang menyerahkan diri karena melakukan pembunuhan pada seorang pria di masalalu. Karena sebuah alasan yaitu melindungi diri ketika hendak di perkosa.
Tapi kenyataan lain yang di terima pihak kepolisian adalah Sofia juga memalsukan identitasnya untuk bersembunyi. Setelah menyelesaikan proses hukumannya di negara ini, Sofia akan melanjutkan hukuman sebagai tersangka pembunuhan di negara asalnya.
Dari jarak jauh, Farras melihat Sofia yang kini sudah resmi memakai pakaian tahanan berwarna orange. Sementara lengannya di pegang oleh polisi wanita. Farras tidak bisa berbuat apapun selain pasrah karena Sofia memang salah.
Tapi Farras sendiri juga merasa hatinya sesak karena akhirnya Sofia secara tidak langsung sudah mengetahui identitas aslinya. Sekarang setelah semua yang terjadi, apakah Sofia masih mau menerima nya?
"Sofia!"
Farras langsung mengejar langkah Sofia. Sofia menghentikan langkahnya di ikuti polisi wanita di sebelahanya begitu mendengar Farras memanggilnya.
"Sofia aku minta maaf. Aku tidak bermaksud-"
"Kau sudah tahu nama asliku, kenapa masih memanggilku dengan nama palsu itu?"
Farras terdiam. Bahkan Sofia pun enggan menatap ke arah Farras yang kini berada di sampingnya.
"Sofia.. "
"Waktu itu kau bertanya kemana tujuannku pergi. Sekarang kau sudah mengetahuinya. Paling tidak, kau tidak perlu repot-repot mendekatiku hanya karena tugasmu itu."
"Bagaimana kalau aku mendekatimu karena hal lain?"
Diam..
Untuk seperkian detik Sofia terdiam. Susah payah Sofia menekan perasaan tak biasanya yang pada akhirnya muncul dengan Farras. Sebelumnya ia bisa. Tapi kenapa lama-lama perasaannya jadi goyah seperti ini?
Tidak.
Sofia menolak semua itu. Sejak awal, Farras tidak pernah berniat mendekatinya karena perasaan. Tapi karena pekerjaannya.
"Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti." jawab Sofia akhirnya
"Sofia.. "
"Maaf, kami harus segera pergi.." titah polisi wanita itu dengan tegas. Farras ingin membuka bibirnya, mengatakan sesuatu. Tapi kenapa rasanya sulit sekali?
****
1 bulan kemudian. Situasi yang terjadi pada Nafisah dan Zulfa.
Zulfa :
Setelah mendapatkan beberapa informasi tentang keberadaan Marcello, Zulfa tak tinggal diam begitu saja. Maka ia pun langsung mengemudikan mobilnya menuju kawasan Villa tempat dimana Marcello bersembunyi.
Bahkan Zulfa tak perduli harus mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi mengingat jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Jalanan masih lenggang, hingga waktu yang di butuhkan Zulfa untuk tiba di lokasi hanya memakan waktu kurang lebih selama 15 menit.
Zulfa memarkirkan mobilnya di parkiran Villa yang ada di kota Batu yang dikenal dengan suasananya yang dingin. Zulfa keluar dari mobil dan terus melangkah menuju pintu masuk Villa. Tapi secepat itu juga Zulfa menghentikan langkahnya.
"Marcello!"
Pria bernetra iris biru laut itu langsung menghentikan langkahnya. Raut wajahnya seperti terlihat membosankan yang sudah tidak lagi memiliki tujuan hidup. Sementara ada dua orang polisi berpakaian bebas yang kini sedang berada di kanan kirinya.
"Kau merindukanku?" Marcello masih bisa tersenyum puas. Meskipun sebenarnya dia sedang mengejek Zulfa.
PLAK!
Satu tamparan keras melayang di pipi Marcello. Zulfa reflek melakukanya karena kebencian yang ia rasakan saat ini tidak cukup mengembalikan semuanya seperti semula. Salah satu polisi yang ada di sebelah kiri Marcello hendak menghalangi Zulfa, tapi dengan sopannya Marcello menggunakan isyarat tangannya.
"Izinkan kami berbicara sebentar. Saya butuh privasi." Lalu Marcello menambahkan dengan bisikan pelan.
"Dia istri saya, Pak."
Zulfa melotot tajam mendengar kata-kata dusta Marcello. Bahkan wajah Zulfa yang putih itu terlihat memerah karena sudah menahan amarah untuk tidak mencak-mencak dihadapan 3 pria ini.
"Waktu anda 3 menit dari sekarang."
Kedua polisi itu sedikit memberi waktu dan jarak. Setelah itu, dengan elegannya Marcello memajukan langkahnya. Ia memasukan kedua tangannya kedalam saku celana chinos yang ia pakai. Sekarang, Zulfa merasa Marcello menatapnya seperti pria yang tidak merasa berdosa sama sekali dan kini berdiri menjulang di hadapannya.
"Kau pelakunya, kan?!" tunjuk Zulfa tepat di wajah Marcello.
Marcello menatap Zulfa dengan lekat. Dengan santai ia malah menggoda Zulfa dengan cara hendak mengigit telunjuk lentik wanita spesialnya ini. Tapi secepat itu juga Zulfa menarik kembali tangannya.
"Memangnya aku melakukan apa?" tanya Marcello dengan polosnya.
"Jangan berlagak bodoh Marcello! Atau aku akan melaporkan tindakanmu-"
"Silakan. Mereka ada bersamaku." Marcello tersenyum geli seolah-olah menganggap semua ini hanyalah masalah spele.
"Kau-" Kedua mata Zulfa mulai mengabur dan memanas. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga. Tapi tidak. Ia tidak ingin selemah itu di hadapan pria brengsek ini.
"Kau yang sudah mengambil kehormatan yang aku jaga selama ini! Sesuatu yang berharga aku miliki untuk masa depanku bersama suami-"
"Kau ini bicara apa? Hm?" Marcello sedikit memajukan tubuhnya. Sejak tadi ia tidak memberikan kesempatan untuk Zulfa agar wanita itu bisa menyelesaikan ucapannya.
Marcello tersenyum licik sembari mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Zulfa. "Maksudmu, aku adalah yang pertama bagimu. Begitu?" Marcello tersenyum geli "Ssstt.. kalau bicara pelan-pelan. Bagaimana kalau seseorang bisa mendengarnya dan akhirnya tahu kalau wanita cantik ini sudah tidak perawan lagi?"
"Maaf waktu kalian sudah habis." Suara polisi itu akhirnya terdengar.
"Kau milikku!" Sekarang pandangan Marcello sedingin es dan terasa seperti mengintimidasi. Seolah-olah pria Italia ini memberikan titahnya pada kepemilikannya.
"Dan aku akan membuang calon anak ini setelah di lahirkan!"
Detik itu juga, raut wajah Marcello yang tadinya terlihat sombong penuh kemenangan kini tergantikan dengan ekspresi yang sulit di tebak. Marcello merasa jantungnya berhenti.
Terkejut? Tentu saja!
Marcello terlalu syok seperti tertimpa reruntuhan bangunan yang begitu mendadak.
Sulit..
Marcello mengalami kesulitan untuk mencerna semuanya. Ia bingung. Benar-benar bingung. Termasuk apa yang Marcello dengar barusan.
"Apa? Dia.. Zulfa.. Ha.. Hamil? Dia mengandung anakku?"
****
Nafisah :
Nafisah tidak ingin menunda lagi keinginannya pergi ke kantor polisi hanya untuk menjenguk Daniel. Setelah informasi yang ia terima, akhirnya Daniel juga sama seperti Sofia. Di penjara kurungan selama 2 tahun 8 bulan penjara.
Bagi Nafisah, sebulan rasanya seperti berabad-abad. Tak mudah menjalani keseharian tanpa suami yang akhirnya ia cintai ini seorang diri. Padahal ia bisa lebih cepat pergi ke kantor polisi, namun kondisi kesehatannya lagi-lagi menjadi alasan buatnya.
"Waktu anda hanya 10 menit." ucap salah satu petugas kepolisian kepada Nafisah.
Akhirnya Nafisah dan Daniel bertemu setelah satu bulan lamanya tak bersama. Nafisah harap, Daniel akan menatapnya. Tapi sama seperti sebelumnya, pria itu enggan melihatnya sama sekali.
"Mas Daniel.. "
"Tidak perlu basa-basi. Langsung saja ke intinya."
"Aku merindukanmu.."
Seharusnya Daniel berdebar begitu mendengarnya. Tapi nyatanya? Tidak sama sekali. Semua ucapan Nafisah seperti terasa omong kosong tak berguna. Bahkan situasi yang sangat hening itu terasa menyebalkan bagi Daniel.
"Mas Daniel, apakah tidak ingin mengatakan sesuatu?" Nafisah mencengkram kuat kain gamis yang menutupi kedua padanya. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Bahkan ia berharap waktu 30 hari yang sudah mereka lalui secara masing-masing ini akan berakhir dengan damai sekarang juga.
"Mas... "
"Aku hanya ingin berkata bahwa kamu tidak perlu lagi mendatangiku kemari."
"Apa?" Nafisah membulatkan kedua matanya tak percaya. "Tapi, Mas-"
BRAK!
Saat itu juga air mata Nafisah mengalir. Dengan keadaan kedua tangan Daniel yang masih di borgol saja, ia mampu menggebrak meja dengan keras tepat didepan Nafisah. Nafisah sampai terkejut dan menahan napasnya.
"Kata-kata apa lagi yang bisa di percaya oleh seorang penghianat?!"
Pandangan Daniel akhirnya bertemu pada kedua mata Nafisah. Pancaran dingin dan tajam itu seperti mampu membuat seluruh tubuh Nafisah merinding. Tidak ada lagi sosok Daniel yang hangat.
"Bahkan aku tidak bisa memaafkan dirimu yang secara tidak langsung sudah menggagalkan rencanaku untuk mengantar kepergian mendiang Ayah terakhir kalinya!"
"Mas Daniel, semua itu bukan sepenuhnya salahku. Semula berawal dari alat peretas yang-"
"Kamu pikir alat peretas sialanmu itu bisa mengembalikan keadaan?!" kesal Daniel pada Nafisah. "Bahkan membuat situasi menjadi baik saja tidak akan pernah cukup!"
"Maaf waktu kalian sudah habis.. "
Suara penjaga penjara akhirnya terdengar di antara sela-sela perdebatan suami istri itu. Tapi secepat itu juga Daniel langsung berdiri hingga membuat Nafisah di landa rasa kepanikan.
"Mas Daniel-"
"Gara-gara dirimu, aku tidak bisa melihat Ayah untuk terakhir kalinya! Orang tuaku adalah segalanya bagiku. Bahkan mereka begitu berarti sebelum dirimu hadir di kehidupanku! Tanpa mereka, aku tidak mungkin ada di dunia ini!"
Daniel hanya bisa menurut begitu petugas penjaga itu memberinya isyarat untuk segera pergi dari sana. Bahkan begitu Daniel sudah membalikkan badan, suara langkah Nafisah yang panik tiba-tiba terdengar.
"Kalau kamu masih menganggapku suamimu maka jangan pernah kemari untuk mendatangiku."
Nafisah kembali menghentikan langkahnya...
"Apa?!"
Nafisah yakin ia tidak salah dengar. Bisa-bisanya Daniel berkata seperti itu. Apalagi saat ini ia sedang mengandung buah cinta mereka.
"Bagaimana aku bisa melakukannya?! Sedetik saja aku tidak bisa tidak melihat dirimu yang aku cintai ini. Bagaimana bisa sampai 2 tahun lamanya?"
"Kamu bahkan bisa menghianatiku! Masa begitu saja kamu tidak bisa?" Daniel tersenyum sinis tanpa harus menatap wajah Nafisah lagi.
"Mas Daniel-"
"Ini perintah kalau kamu masih ingin berada di sisiku!"
"Tapi aku-"
"DAN AKU TIDAK INGIN MENDENGAR ALASAN APAPUN LAGI. TIDAK PERDULI SEPENTING APA HAL ITU!"
Nafisah tidak tahu harus bagaimana ketika frustasi benar-benar menyiksanya. Bahkan ia tidak bisa berbuat apapun setelah melihat kepergian Daniel di depan matanya untuk kembali ke sel nya.
Punggung lebar yang kini terpasang baju tahanan itu, akan terus di rindukan Nafisah di setiap detiknya. Nafisah memukul dadanya, berharap rasa sesak itu bisa mereda. Tapi rasanya mustahil setelah Nafisah menerima semua konsekuensi dan resiko apa yang ia lakukan selama ini.
"Tadi aku hanya ingin memberi tahu bahwa kita akan menjadi orang tua untuk calon buah cinta kita.."
Nafisah terisak, tak perduli sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan semenjak Daniel tidak berada di sisinya.
Dan penjaga penjara itu, akhirnya sedikit menurunkan masker hitam yang ia pakai dan membenarkan topi yang seragam dengan pakaiannya.
Dia adalah Hanif, yang sedang menyamar dan akhirnya mendengar semua perselisihan mereka.
"Naf, maafkan aku. Aku sungguh menyesal sudah melibatkanmu." lirih Hanif pelan..
****
NEXT : KUKIRA KAU TEMPAT TERNYATA LUKA
TRILOGI KE 3 DARI LANJUTAN CERITA MAHRAM UNTUK NAFISAH.
Bisa di baca secara terpisah tanpa harus membaca cerita judul sebelumnya ❤
Bagi Zulfa dan Nafisah. Masalalu yang masing-masing mereka miliki bagaikan lem yang terus merekat dan membekas meskipun sudah terlepas.
Keduanya hanya butuh waktu untuk menjauh dan melupakan sosok pria agar tidak merasakan yang namanya kembali terluka.
Sekalipun sulit, Zulfa dan Nafisah juga menyadari bahwa upaya untuk menghapus masalalu yang pernah memberikan banyak kenangan baik ataupun buruk justru sesuatu yang melelahkan hati dan pikiran.
Tetapi, jika Nafisah bisa berharap bahwa ada pelangi yang indah setelah langit mendung. Lalu bagaimana dengan Zulfa yang selalu memandang kedepan dan enggan untuk menoleh kebelakang?
Ini tentang Nafisah dan Zulfa, kedua bestie yang sama-sama senasib karena terluka oleh dua orang pria bermulut manis sekaligus racun bagi hati kedua wanita itu.
Jadwal Update :
INSYA ALLAH JANUARI 2023
( Atau mungkin bisa lebih cepat)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar