Chapter 71 : Mendadak Perduli - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Selasa, 28 Oktober 2025

Chapter 71 : Mendadak Perduli


Leni menatap Aiza yang sedang santai didepan laptopnya sambil menonton sebuah series Disney. Leni menganggap Aiza seperti anak-anak. Tapi nona mudanya itu memang menyukai Disney Princess sejak kecil.
Menyadari Leni sedang menatapnya, Aiza memanggilnya.

"Aunty?"

Leni tersenyum dan kemudian berdiri di samping Aiza.

"Ada yang bisa saya bantu Aiza?"

"Cuma mau nanya apakah Afnan sudah ada kabar?"

Leni menggeleng. "Sayangnya tidak. Nomor ponselnya tidak aktip."

Aiza mematikan laptopnya begitu serial Disney yang ia tonton telah habis kemudian menatap Leni lagi.

"Baiklah."

Dalam hati Aiza berharap bisa bertemu Afnan lagi. Pria itu pernah berjanji akan berkunjung kerumah nya untuk bercerita banyak hal selama beberapa tahun terakhir. Tapi nyatanya lagi-lagi pria itu hilang.

"Apa perlu kita datangin dia? Saya siap menemani Aiza kalau mau." tawar Leni dan membuat Aiza kembali menatapnya.

"Tidak perlu Aunty. Kebetulan aku mau kekampus."

Aiza sudah berdiri dan bersiap mengganti pakaiannya di kamarnya. Aiza menuju walk on closet untuk meraih pakaian gamis dan khimarnya namun terhenti begitu saja ketika teringat bahwa gamis tersebut pemberian dari Arvino saat ia pernah menginginkannya di butik Adila's tapi ia tidak bisa membelinya.

Hampir seminggu Aiza berjuang keras untuk tidak memikirkan Arvino agar tidak tertekan dan membuatnya stress demi perkembangan janinnya. Dengan lunglai Aiza mengembalikan gamis tersebut dan memilih gamis miliknya sendiri sewaktu belum menikah. Hal yang sangat tidak mudah bagi Aiza bila semua tentang Arvino harus di lupakannya.

Aiza tidak ingin membuang waktu lagi. Dengan pakaian seadanya Aiza segera pergi ke luar kemudian berangkat menuju kampus dan di antar oleh Leni.

Selama perjalanan, Aiza menatap jendela samping mobilnya. Melewati banyak tempat yang terdapat banyak kenangan bersama Arvino.

Buru-buru Aiza menepisnya. Ia beralih dengan menatap jalanan tersebut dengan datar tanpa ekspresi. Segala hal tentang Arvino Aiza tidak mungkin bisa melupakannya, tapi untuk hatinya.. Aiza merasa saat ini perasaanya tidak bersemangat.

Leni melirik kearah nona mudanya. Sudah seminggu berlalu dan ia sering mendapati tatapan Aiza begitu kosong. Nona mudanya itu sering meyakini dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi dari raut wajah dan tatapannya, sayangnya tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Mobil tiba di parkiran universitas. Leni melepas safety beltnya lalu keluar untuk membukakan pintu mobil untuk nona mudanya.

"Em aunty."

"Ya?"

"Aunty bisa tunggu disini?"

"Bisa. Tapi.. apakah Aiza akan baik-baik saja tanpa saya temani?"

"Insya Allah aku akan baik-baik aja."

Leni menatap Aiza dengan khawatir. "Tapi saya ragu."

"Justru aku tidak enak bila di lihat banyak orang di kampus kalau aunty menemaniku. Khawatir mereka menganggapku berlebihan."

"Kalau begitu. Aiza harus hati-hati ya. Tetap stay dengan ponselnya. Hubungi saya kalau ada apa-apa."

"Baiklah. Aku pergi. Asalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Aiza memasuki kampusnya, menelusuri koridor untuk keperluan dengan salah satu petugas universitas dalam rencana pendadarannya nanti.

Dari jarak kejauhan, Arvino baru saja keluar dari ruangannya setelah menyelesaikan tugasnya sebagai dosen. Ia berdiri sambil berbicara dengan beberapa mahasiswi yang kebetulan ada perlu dengannya. Beberapa di antaranya ada yang terpesona menatap Arvino. Sampai akhirnya kedua matanya pun tanpa sengaja bertemu pandang dengan Aiza.

Aiza terlihat berbeda selama semingguan ini tanpa kabar. Wanita itu terlihat menggemaskan karena perut buncitnya yang sudah terlihat. Arvino mengabaikannya dan ia malah tersenyum ramah menimpali mahasiswi cantik yang ada didepannya.

Disisilain, Arvino juga mengabaikan rasa mual di perutnya selama dua Minggu ini. Padahal saat Devian memeriksa dirinya, ia baik-baik saja dan tidak ada sakit maag atau semacamnya.

Rasa mual yang aneh.

Aiza menatap sendu dari kejauhan dan mengabaikan itu semua. Percuma saja. Untuk apa dia berlarut-larut dalam kesedihan sementara pria itu sendiri menyuruhnya jangan mengganggunya?

Aiza memasuki sebuah ruangan dan mulai melakukan keperluannya sesuai niatnya dari awal.

"Kamu lumayan cepat ya untuk bisa melakukan pendadaran."

"Alhamdulillah Bu. Terima kasih."

"4 bulan lagi ya?"

"Iya Bu."

Seorang petugas universitas yang sedang mencatat sesuatu di bukunya pun kini beralih menatap Aiza lagi.

"Loh, kamu sedang hamil? Sudah berapa bulan? Oalah, ibu sampai gak perhatiin dari tadi."

Aiza tersenyum kecil. "Alhamdulillah sudah 4 bulan Bu."

"Ya wes lah sehat-sehat yo. Gak nyangka Pak Arvino wes mau jadi calon bapak."

Aiza hanya mengangguk dan sesekali ia hanya tersenyum tipis meskipun tidak dengan hatinya.

Begitu menyelesaikan semua urusannya, Aiza segera pamit dan berniat untuk pulang agar segera istirahat. Kehamilan trimester kedua kali ini benar-benar membuatnya cepat lelah meskipun aktivitas yang ia lakukan tidak terlalu banyak.

Aiza sudah melewati koridor tempat yang ia lalui sebelumnya ketika 4 orang mahasiswi menghadang jalannya.

"Oh jadi ini... Si wanita yang sempat main mata sama dosen kita yang tampan itu? Ck." Wanita itu menatap Aiza dengan sinis. "Ah bukankah dia sedang menjadi bahan gosip satu kampus karena bersama pria dimalam hari?"

"Kalian mau ap-"

Belum sempat Aiza melanjutkan pembelaannya ia dikejutkan dengan air soft drink berwarna merah dan kecap botol ditumpahkan begitu saja di atas hijabnya yang berwarna putih.

Keempat wanita itu tertawa terbahak-bahak seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesenangan.

Dengan kasar wanita tadi mencengkram kuat bahu Aiza lalu menubruknya ke dinding dengan kasar.

"Eh wanita murahan! Jangan coba-coba deketin Pak Arvino ya!"

"Sudahlah Des.. wanita ginian ngapain kamu takutkan? Ck, dia gak ada apa-apanya dibandingkan dirimu. Kamu gak usah khawatir deh!"

"Iya! Mana mungkin pria setampan pak Arvino tertarik dengan wanita ginian! Gak usah sok suci deh kamu!" ucap salah satu dari mereka dengan benci kearah Aiza.

Keempat wanita yang tidak dikenal oleh Aiza sama sekali itu pun membuat Aiza ketakutan. Empat lawan satu tentu saja ia akan kalah. Sepertinya mereka adalah mahasiswi angkatan baru yang belum tahu menahu tentang status Arvino dan dirinya sebenarnya.

"To-tolong lepaskan aku." lirih Aiza. Ia memegang perutnya. Melindungi buah hatinya agar tidak terjadi hal buruk. Ketakutannya di masalalu yang keguguran karena Irma pun membuatnya trauma.

Keempat mahasiswi itupun memperhatikan cara Aiza yang melindungi perutnya. Salah satu dari mereka pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Aiza, memastikan dengan apa yang ia pikirkan.

Aiza menepis tangan tersebut. "Ja-jangan. Tolong jangan sakitin bayiku. A-aku mohon."

Mereka pun terkejut. Lalu salah satu diantaranya kembali berucap. "Des, sepertinya kita jangan ambil resiko dengan wanita hamil. Rupanya dia sudah menikah. Fix, kalau gitu kamu gak perlu takut bila Pak Arvino akan di ambil sama dia."

"Kamu benar! Cih, hampir aja kita dalam masalah besar."

"Iya! Yaudah kita cabut dari sini!"

Dan Aiza bernapas lega beberapa menit kemudian ketika keempat wanita itu pergi meninggalkan dirinya yang sejak tadi menahan isakan di bibirnya.

Ada rasa penyesalan di diri Aiza karena sudah menolak tawaran Leni yang akan menemaninya. Tapi yang lalu biarlah berlalu selagi dia baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang menimpa dirinya.

Aiza menundukan wajahnya. Perasaanya begitu sakit. Kenapa hidupnya semenjak kuliah dan menjadi anak rantauan begitu banyak ujian yang menerpa dirinya?

Aiza mengabaikan tatapan-tatapan mahasiswi yang melihatnya dengan aneh apalagi penampilannya yang sedikit acak-acakan. Hijabnya sangat kotor perpaduan warna merah dan hitam dari tumpahan botol kecap.

Dengan malu Aiza cepat-cepat mencari toilet wanita untuk membersihkan diri menggunakan tisu. Sesampainya disana, Aiza menundukan wajahnya sambil merogoh isi tasnya. Mencari sebuah tisu sambil sesenggukan.

Berulang kali Aiza beranggapan semuanya akan baik-baik saja. Ia bisa menghadapi semua ini tanpa adanya Arvino yang biasa selalu membelanya. Tak mengapa ia seperti ini asalkan buah hatinya yang saat ini sedang di dalam kandungan baik-baik saja.

Aiza masih saja seengukan sampai akhirnya seseorang menyentuh pundaknya. Aiza terkejut, ia menatap pantulan cermin westafel didepannya dan melihat seseorang yang ia rindukan selama ini. Siapa lagi kalau bukan Arvino.

Aiza segera menjauh. Ia mengabaikan beberapa isi tasnya yang berjatuhan di lantai. Aiza memilih memeluk tas selempangnya seolah-olah melindungi dirinya dari siapapun yang akan menyakitinya lagi.

"Aiza.."

Aiza memundurkan langkahnya. Ia menundukan wajahnya. Tidak berani menatap Arvino yang kini mendekatinya. Psikisnya kembali terganggu. Aiza mudah trauma setelah sesuatu hal yang buruk menimpa dirinya.

Arvino masih menatap Aiza tanpa ekspresi.

"Jangan.. jangan sakiti aku lagi. Aku.. aku takut."

Arvino tetap tidak bereaksi apapun. Aiza berharap Arvino akan melakukan sesuatu untuk menenangkannya tapi nyatanya pria itu tetap diam dengan hatinya yang kaku. Dan yang baca ini pasti pengen nabok saking gak peka nya dia.

"Tidak. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku sudah biasa."

Dan Aiza meluruh di lantai. Ia terduduk sambil memegang kedua telinganya. Ia kembali menangis karena sudah tidak ingin mendengarkan hal apapun lagi tentang ketusan, amarah dan perkataan sinis Arvino.

Arvino mendekati Aiza. Dan Aiza melempar tas selempangnya. Tak peduli bahwa ia dianggap mengusir.

"Tidak, jangan dekatin aku.. aku.. aku-"

Arvino kembali melangkah mendekati Aiza. Raut wajahnya benar-benar tidak bisa di tebak.

"Jangan mas..aku.. aku.. sudah cukup. Jangan berkata apapun lagi. Aku baik-baik aja. Aku bukan bermaksud berlaku kasar, aku.. aku hanya ingin melindungi dia.. aku.. aku tidak mau dia kenapa-kenapa lagi."

Arvino menatap Aiza dengan tatapannya yang mengunci kedua mata Aiza. Dilihatnya Aiza terlihat memegangi perutnya sejak tadi. Seorang ibu yang memiliki naluri kuat untuk melindungi anaknya dari hal-hal buruk.

"Aiza-"

"Tidak.. tidak akan. Mas sudah tidak pernah menganggapku ada.. aku.. Aku sudah janji tidak akan mengganggu mas lagi. Aku sudah tidak mengusik mas lagi. Aku sudah tidak ke apartemen mas lagi. Aku.. tolong jangan ganggu kami.. aku.. Maafkan aku-"

Dengan perlahan dan hati-hati, Arvino sudah dekat dengan tubuh Aiza. Ia mengulurkan tangannya sampai akhirnya ia memegang bahu Aiza.

"Mas.. jangan. Aku.. jangan ganggu kami."

Arvino sudah tidak bisa berkata lagi karena Aiza terlihat rapuh kemudian membawanya kedalam pelukannya. Arvino tidak merasakan hal apapun atau merasa kasihan. Hatinya terasa kaku meskipun ia bisa merasakan bagaimana tubuh Aiza yang bergetar ketakutan.

Arvino melepaskan pelukannya. Ia membawa Aiza berdiri untuk saling berhadapan. Aiza kembali memundurkan langkahnya. Ia masih ketakutan dengan suaminya sendiri. Ia takut bisa kembali mendengar kata-kata kasar, ketus dan hinaan lainnya.

Arvino hendak mendekati Aiza dan Aiza kembali menggelengkan kepalanya.

"Jangan... Aku mohon.."

"Aiza-"

"Mas gak perlu khawatir. Aku.. aku baik-baik aja."

"Kamu-"

"Jangan.. aku mohon.. aku.. aku takut."

Arvino melihat Aiza sangat takut dengannya. Aiza terlihat rapuh. Raut wajah Aiza memucat hingga akhirnya ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Leni.

"Leni, lebih baik kamu pulang duluan. Aiza bersamaku." ucap Arvino dengan dingin.

Dan Aiza merasakan bulu kuduknya merinding dengan Arvino yang kini menatapnya dingin bahkan tidak bersahabat.

🖤🖤🖤🖤

Kasian banget sama Aiza. Gak tega🤧 Sumpah dia ketakutan banget seolah-olah Arvino itu orang lain. Padahal suaminya.

Trauma dia gara2 kebanyakan di sakitin orang. Tapi Masya Allah dia kuat banget, kalah Author 😭😭

Terima kasih sudah baca ya. Sehat selalu buat kalian. Sory malam kemarin tertunda update karena ketiduran 🙏

With Love
LiaRezaVahlefi

Instagram : lia_rezaa_vahlefii


NEXT CHAPTER 72. KLIK LINK DI BAWAH INI

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/10/chapter-72-lega-dan-kecewa.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu