Fikri : Bidadari Surga, Dari Allah..
Aku menatap putriku yang kini telah tumbuh dewasa. Nita tumbuh dengan baik, serta didikan dari kami yang tak lepas sesuai syari'at Islam. Dia terlihat sibuk, melipat pakaiannya yang tidak terlalu banyak kemudian memasukkannya kedalam koper.
"Apakah kamu yakin, dengan pilihanmu?"
Nita menoleh ke arahku, aku pun mendekatinya dan tak lupa mengusap pipinya.
"Sangat berat bagi Ayah untuk berjauhan denganmu, nak."
"Nita tahu, tapi-"
Seketika dia menatapku dengan tatapan sedih. Aku tahu, sebentar lagi air matanya akan segera mengalir. Dengan perlahan aku memeluknya.
"Maafkan Ayah. Ayah hanya belum siap kamu pergi keluar kota dan pindah sekolah disana. Apakah semuanya nanti baik-baik, saja?"
"Insya Allah Nita akan sesering mungkin menghubungi Ayah."
"Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa menjagamu dan menjaga kita dimanapun kita berada."
"Aamiin. Terima kasih, Nita sayang Ayah."
Aku tersenyum tipis. Semua berawal ketika seminggu yang lalu putri cantikku itu pulang dalam keadaan menangis. Sebagai Ayah, tentu saja aku tidak tinggal diam. Setelah mencari tahu, ternyata putriku itu di bully sama teman sekolahnya.
Nita itu seperti duplikat Afrah versi remaja. Sangat polos dan lugu. Mungkin hal itulah yang membuat teman-temannya kerap menjahilinya.
Aku melepaskan pelukanku pada Nita dan meninggalnya di kamar, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri dan mempersiapkan semuanya untuk keberangkatan besok pagi.
****
Kota Martapura, Banjarmasin.
Disinilah aku sekarang bersama Afrah dan Nita. Akhirnya kami tiba di sebuah hotel tepat pada malam hari setelah tiba dari penerbangan pesawat pada pukul 17.00 Wita.
"Bunda.."
"Iya, sayang?"
"Nita lelah. Apakah boleh Nita pergi ke kamar sebelah?"
"Tentu, beristirahatlah. Besok pagi Insya Allah kita akan melihat-lihat sekolahmu yang baru."
Aku menoleh ke belakang, menatap interaksi keduanya. Dua ratu cantik yang Allah berikan padaku sungguh membuatku bersyukur. Lalu Nita berjalan kearah pintu.
"Sepertinya ada yang lupa.." ucapku santai. Lalu Nitaita berhenti, dia menoleh kearahku. Aku tersenyum ke arahnya sambil memegang pipi kananku. Nita pun mendekatiku dan tak lupa mencium pipiku.
"Aku sayang Ayah."
"Ayah juga menyayangimu. Kalau mah pergi, jangan lupa cium pipi Ayah."
"Nita cuma pergi ke sebelah kok."
"Ayahmu memang sangat menyayangimu seperti bayi. Padahal sudah dewasa." sahut Afrah pelan.
Aku pun tertawa geli. Memang meskipun Nitaku sudah dewasa, ntah kenapa aku masih menganggapnya bayi besarku yang cantik. Setelah itu, dia pun pergi. Setelah pintu di tutup, sebuah pelukan hangat membuatku terdiam.
Aku menoleh ke samping, Afrah memeluk dari belakang. Bahkan dia mencium pipiku. Seketika aku tersenyum tipis.
"Terima kasih, telah menjadi suami dan Ayah yang baik selama ini."
"Sama-sama, Afrah. Sudah menjadi kewajibanku yang telah Allah berikan kepadaku."
"Sungguh aku mencintai Mas, karena Allah."
"Aku juga mencintaimu, sayang. Bukankah cinta yang halal ini tumbuh datangnya dari Allah sejak di masalalu ketika kita sudah menikah?"
Afrah tak banyak berkata, yang ada ia malah merubah posisi di hadapanku. Dengan perlahan ia berjinjit untuk mencium keningku. Aku memejamkan kedua mataku. Rasa cinta ini.. Masya Allah, sudah 16 tahun berlalu namun rasa cinta yang kami rangkai tidak pernah sirna. Walaupun tidak muda lagi, namun karena saling menerima dan bersyukur terhadap pasangan yang di miliki lah, membuat kami bahagia hingga sekarang.
Bersama Allah..
Bersama Afrah Amirah..
Bersama Qanita Azka..
Dan bersama kalian, yang tentunya pasti tahu bagaimana perjalanan kisah cintaku dari yang belum bisa menerima kenyataan kelam hingga Allah mendatangkan penggantinya seorang bidadari surga dunia akhirat, seperti keajaiban cinta yang tulus, dan membuatku mencintainya karena Allah..
****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar