Chapter 74 : Mengikhlaskan - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 74 : Mengikhlaskan


"Kamu cinta sama dia?"

"Nafisah.. "

"Jawab saja. Iya atau tidak."

Danish terdiam. Sementara Nafisah terlihat rapuh didepan matanya. Ia ingin mendekati istrinya karena melihat darah yang mengalir di hidungnya. Namun Nafisah enggan di sentuh.

Nafisah sudah tahu semuanya. Hanya karena masalah spele berujung petaka untuk rumah tangganya.

"Diam berarti iya."

"Aku bahkan belum menjawabnya. Aku-"

"Itu pertanyaan yang mudah untuk Mas jika memang tidak mencintai wanita itu. Tinggal bilang tidak, maka semuanya sudah jelas. Tapi apa? Mas hanya bisa diam karena takut mengatakan apa yang di katakan dan akan menyakitiku."

"Nafisah-"

"Sudah cukup!" potong Nafisah dengan pandangan lelah. "Kalau Mas tahu bahwa semua itu akan menyakitiku, kenapa masih saja melakukannya?"

Nafisah mengusap pelan sisa darah yang mengalir di hidungnya. Ia tersenyum hambar.

"Aku mencintaimu, Nafisah. Please dengarkan aku."

"Aku tidak akan mau mendengarkan lagi. Semua sudah jelas. Kamu menikahihya hanya karena alasan agar ikut tidak di tuduh bekerja sama dengan dia kan?"

"Iya, tapi-"

"Kalau kamu menghargai cinta kita, pernikahan itu tidak akan berlanjut setelah urusan itu selesai. Apalagi sampai wanita itu hamil."

Nafisah melangkahkan kakinya. Ia melalui Danish dengan rasa yang begitu lelah. Lelah perasaan dan penyakitnya.

"Kamu mau kemana? Jangan pergi.."

"Aku memang nggak pergi, tapi maaf, hatiku sudah pergi dari hidupmu."

"Nafisah.. " Danish mencegah lengan istrinya. "Aku tidak akan pernah mau melepasmu."

"Kalau begitu lepaskan, Ela."

Nafisah menatap suaminya. Ntah kenapa, hanya menatap kedua mata orang yang ia cintai itu seketika semua kenangan dan masa lalu indah yang sudah ia lalui bersama di antara mereka bermunculan di benak Nafisah.

Danish terbungkam. Sampai akhirnya dengan perlahan Nafisah melepaskan genggaman tangan pada lengannya.
"Terima kasih, atas cinta dan luka yang Mas berikan di saat yang bersamaan. Semoga kalian bahagia."

"Nafisah!"

Danish langsung memeluk Nafisah dengan erat. Begitu enggan dan tak rela kehilangan dirinya. Nafisah ingin menolak, namun pelukan Danish membuatnya tak bisa berbuat apapun.

"Suami yang aku cintai ini. Pernah memeluk wanita lain... "

"Aku minta maaf. Ya Allah, maafkan hamba. Sesungguhnya aku takut kehilangan dirimu Nafisah.."

"Tidak perlu takut, Mas. Kalau kamu mencintaiku tolong lepaskan aku dan hatiku. Bukankah saling mencintai tidak akan terus menerus saling menyakiti?"

"Apa yang harus aku lakukan supaya aku mendapatkan maaf darimu?"

"Aku tidak tahu.."

"Nafisah, please."

"Aku ingin sendiri.. "

Dan akhirnya mau tidak mau Danish melepaskan pelukannya pada Nafisah. Nafisah melenggang pergi dalam diam.

"Maaf, aku sudah menghancurkanmu Nafisah.. " lirih Danish pelan.

****

Seorang dokter spesialis kanker menatap Nafisah dengan serius. Nafisah terlihat kurus dengan raut wajah pucat. Nafisah datang dengan penuh harapan hingga membuat Dokter wanita paruh baya yang di kenal senior tersebut tidak tega.

"Kondisi Ibu sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah 2 bulan ini anda juga menolak kemoterapi dan hanya mengonsumsi obat herbal. Kalau menurut perkiraan hasil medis, ibu hanya bisa bertahan sampai 2 bulan ke depan."

Syok, itulah yang ia rasakan saat ini. Akhirnya kematian sudah dekat untuknya. Namun Nafisah sadar, semua yang ada di dunia ini Allah lah penentu segala takdir. Jodoh, rezeki, dan maut. Semua tercatat di lauhul mahfudz.

"Bisakah izinkan saya pergi? Adapun resikonya, saya siap menanggung semuanya."

"Ibu Nafisah.. "

"Dokter, saya ingin umroh di sisa terakhir hidup saya. Dengan orang yang saya cintai sebelum kami berpisah.. "

Dan saat itu juga, air mata menetes di pipi Nafisah. Ia teringat Danish dan semua kenangan cinta bersamanya. Luka itu masih menganga lebar. Ia tidak tahu kapan luka itu akan sembuh. Tapi ia tidak ingin sedikitpun menyia-nyiakan sisa waktu hidupnya untuk ke tanah Suci Mekkah. Impiannya sejak dulu..

"Kami akan mengusahakan ya, Bu untuk mengeluarkan surat izin penerbangan dengan kondisi Ibu Nafisah saat ini."

Nafisah mengangguk. Tidak ada yang bisa ia ucapkan lagi selain pamit undur diri dengan sopan. Nafisah keluar ruangan, ia menoleh ke arah lift dan terpikir untuk memasukinya.

Lift membawanya ke lantai teratas gedung rumah sakit. Terdapat Rooftop yang luas dengan dua kursi kosong disana. Nafisah mendekati ujung pembatas beton yang ketinggiannya seperut orang dewasa.

Semilir angin menerpa. Sore menjelang. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Nafisah menatap langit dan mendongakkan wajah.

"Ya Allah, bagaimana caranya mengobati rasa sakit hati ini? Ini teramat pedih sampai-sampai hamba rasanya tidak sanggup."

"Ya Allah, dia sudah meninggalkanku. Dan Engkau selalu ada untukku. Ketika aku menaruh sebuah pengharapan pada manusia, maka kekecewaan itu akan datang hingga membuatku sadar bahwa aku tidak boleh berharap pada manusia. Sekalipun kepada suamiku sendiri."

"Ketika sudah menikah, maka seorang istri akan berbakti pada suaminya sebagaimana surga ada padanya. Tapi kenapa, justru surgaku malah mendzolimi bidadari surganya?"

Langit senja mulai terlihat dan kemerahan yang indah. Semilir angin begitu sepoi-sepoi. Sudah banyak air mata yang ia keluarkan sebagaimana pelampiasan hatinya yang terluka. Namun tetap saja, semua itu tidaklah cukup.

"Ya Allah, jika benar sebentar lagi hamba akan berjumpa denganMu, izinkan hamba pergi umroh untuk menunaikan panggilanMu. Hamba ingin melihat Kabbah dan memunajatkan doa di sana. Dan.. "

Nafisah menatap cincin pernikahan yang masih melekat di jari manisnya.

"Dan dari sini, hamba ikhlas atas semua ujian yang Engkau berikan... "

"Mas Danish, aku... "

Nafisah tertunduk. Ia memegang dadanya yang begitu nyeri. Ia menangis sekencang-kencangnya agar sesak di rongga dadanya tidak terlalu menyakitkan. Melampiaskan amarah, kekecewaan, dan kehilangan, pada situasi di sekitarnya.

"Aku melepasmu, Mas.. "

****

NEXT CHAPTER 75 :

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-75-kenangan-terakhir.html


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu