Chapter 75 : Kenangan Terakhir - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 75 : Kenangan Terakhir


"Nafisah, mungkin kata maaf tidak akan cukup buat semua yang telah terjadi. Tapi, aku tidak akan diam apalagi tidak menjelaskan semuanya padamu."

"Nafisah, demi Allah dan Rasulullah, tidak sedikitpun aku terpikir untuk menduakanmu. Ketika aku melamarmu di masalalu, rasanya begitu berat. Kamu tahu sendiri, bagaimana aku mencintai almarhumah Alina. Sulit buatku untuk menerima wanita lain apalagi saat kedua orang tua kita  menjodohkan kita walaupun alasannya hanya karena Diyah agar memiliki ibu sambung, yaitu kamu."

"Hingga rasa cinta kita bersemi seiring berjalannya waktu. Kamu begitu sabar menghadapi diriku yang dingin dan tak perduli. Sampai akhirnya aku berhasil keluar dari masalalu yang kelam, yaitu kehilangan Alina. Orang yang sama-sama kita sayangi dan memulai lembaran baru denganmu."

"Aku sadar kamu lelah dengan diriku. Tapi aku ingin berbicara padamu Nafisah. Dari hati ke hati. Terutama tentang aku, keadaan aku setelah dirimu koma."

"Demi Allah, selama kamu koma. Aku senantiasa menjaga cinta kita. Setiap hari, setiap waktu, setiap detiknya, aku selalu menanti dirimu yang terbangun dari koma. Tiada henti-hentinya aku meminta pada Allah untuk kesembuhan dirimu. Setiap malam, kamu selalu datang ke dalam mimpiku, Nafisah. Tentang mimpi yang begitu membuatku semakin takut akan kepergianmu. Kebaikanmu, senyummu, dan wajah bahagiamu. Tapi aku sadar, setelah aku terbangun, hanya kehampaan yang aku temukan. Kamu tidak ada di sebelahku. Kamu tidak ada bersamaku. Tapi kamu tetap di hatiku, walaupun saat itu masih sama, terbaring di rumah sakit."

"Karena hal itu, aku selalu menahan rindu padamu Nafisah. Sebagai seorang pria yang normal terkadang wajah cantikmu terus terbayang di benakku sehingga syahwat itu muncul."

"Berkali-kali aku mencoba mengalihkannya dengan kegiatan yang lain. Memang, semua itu berhasil. Namun lagi-lagi sulit. Tak hanya itu, aku juga berpuasa senin Kamis. Dan lagi, begitu puasa sudah selesai, syahwat itu kembali hadir. Tak ada yang bisa aku lakukan selain meminta pertolongan Allah agar aku terhindar dari perzinahan, Nafisah. Sesungguhnya aku ikhtiar menjaga diriku dari perbuatan dosa. Aku selalu berlindung pada Allah setiap waktu."

"Kita tidak pernah mengetahui bagaimana situasi orang-orang diluar sana yang bernasib sama seperti kita. Ujian di poligami, ujian memiliki istri lebih dari satu. Semua yang mereka lakukan, semua sudah menjadi takdir. Meskipun ada alasan di baliknya. Hanya mereka dan Allah yang Tahu."

"Sampai akhirnya, Ela datang dengan semua masalah yang dia lakukan dan melibatkan diriku. Bahkan rumah tangga kita yang menjadi imbasnya. Demi Allah Nafisah, saat itu aku menolak menikah dengannya. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya sedangkan di masalalu saja aku menolak menikah denganmu? Lagi-lagi para orang tua menyarankan aku menikah lagi agar aku terhindar dari perbuatan dosa dan perzinahan. Saat itu, berat rasanya. Namun lagi-lagi aku bertanya, apakah semua ini pertanda bahwa Allah menolongku dari fitnah dan perzinahan?"

"Nafisah, demi Allah, aku tidak pernah meminta hak ku padanya setelah pernikahan dadakan itu terjadi. Namun suatu malam ketika aku mengantarkannya pulang, hujan begitu deras. Dia menyuruhku menginap. Lalu semua terjadi begitu saja.. "

"Aku ingin meninggalkannya, karena jujur, aku suami yang tak bisa adil dan mampu memiliki istri lebih dari satu. Dan lagi, Allah memberiku ujian dan takdir. Dia hamil... "

"Sangat sulit buatku Nafisah. Berulang kali aku di hantui rasa ketakutan ini. Ketakutan sebuah  kejujuran yang begitu menyiksa untuk aku utarakan padamu apalagi melihat kondisi kesehatanmu yang membuatku semakin khawatir."

"Aku sadar, diluar sana mungkin orang-orang menganggapku suami yang bajingan. Tidak tahu diri. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi ketahuilah Nafisah, aku berada di situasi yang sulit... Sangat sulit.. Sampai akhirnya kamu mengetahuinya bagaikan bom waktu yang akhirnya meledak."

"Nafisah, sesungguhnya aku bingung bagaimana lagi cara menjelaskannya. Aku ingin mengatakan semua ini, duduk bersamamu, dalam keadaan tenang dan kepala dingin. Membicarakannya dari hati ke hati. Tapi kamu menghindariku."

"Aku mengerti Nafisah, aku mengerti. Aku pantas mendapatkannya. Aku ikhlas dengan karma yang nantinya akan datang padaku suatu saat. Aku sadar aku salah. Ini semua adalah penjelasan kondisi aku sebagai seorang pria sekaligus suami, dan maafkan takdirku atas kekurangan diriku."

"Aku bingung harus bagaimana mengatakannya agar kamu mengerti. Terutama tentang kondisi aku sebagai seorang pria."

Danish menyudahi voicenote yang ia kirim sejak tadi pada Nafisah. Saat ini, jam istirahat sedang berlangsung. Setitik air mata menetes di punggung tangannya.

"Nafisah, walaupun Ela ada. Tapi tetap dirimu yang begitu berarti."

Nafisah sudah mendengarkan semua voice yang Danish kirimkan saat ini. Meskipun sudah terbaca, namun ia mengatur pesan chat WhatsApp nya dengan mematikan laporan baca agar centang dua tersebut tidak berwarna biru. Ia melakukannya semenjak kejadian patah hatinya beberapa hari yang lalu. Namun ia enggan membalas pesan tersebut.

"Aku mencoba mengerti posisi kamu sebagai seorang suami, Mas. Aku juga mencoba memahami posisi kamu sebagai seorang pria yang normal di balik kekurangan aku, rasa tidak percaya diri aku, dan penyakit aku yang membuatku tidak bisa melayani kewajibanku sebagai seorang istri sebagaimana mestinya.."

"Tapi, setiap aku mencobanya, rasanya sangat sakit. Tidak ada istri manapun yang mau diduakan setelah menikah. Penjelasanmu barusan, mungkin membuat sebagian wanita takut menjalani bahtera rumah tangga apalagi kalau sampai di duakan, di poligami, ketika mereka memiliki kekurangan di dirinya."

"Namun aku sadar, tidak semua ujian pernikahan itu berat. Mungkin.. " Nafisah menatap cincin pernikahan di jari manisnya. "Mungkin takdir aku sebagai seorang istri memang begini adanya." lirih Nafisah pelan.

Ting!

Notip pesan singkat masuk. Danish kembali mengirimkan voice padanya.

"Lusa kita umroh. Jika berkenan, apakah boleh kita mengesampingkan semua permasalahan yang ada? Umroh adalah impian kita waktu itu. Aku hanya ingin fokus ibadah bersama dengan dirimu dan akan menjadi sebuah kenangan indah yang belum tentu terulang lagi."

Nafisah diam sejenak. Namun lagi-lagi ada voice dari Danish.

"Tapi, jika kamu keberatan, tidak tidak apa-apa. Aku akan terima."

"Aku tidak keberatan." lirih Nafisah. Ia memaksakan senyumnya sambil mengusap sisa air matanya. "Itu benar, ini akan menjadi kenangan. Di sisa terakhir hidupku."

Nafisah tetap tidak membalas pesan tersebut. Ia mematikan ponselnya. Ia juga teringat perkataan dokter beberapa hari yang lalu ketika ia di vonis hanya bertahan sampai 2 bulan.

"Kita akan membuat kenangan, Mas Danish. Sebelum aku kembali pulang kepada Allah ketika waktunya sudah tiba... "

****

NEXT CHAPTER 76 :

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-76-hati-yang-patah.html


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu