Chapter 76 : Hati Yang Patah - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 76 : Hati Yang Patah


QS. Al Baqarah Ayat 109

فَٱعْفُوا۟ وَٱصْفَحُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Nafisah menatap langit yang begitu indah. Kini, ia sudah tiba di tanah suci Mekkah. Setetes air mata menempel di pipinya. Jika sebelumnya ia menangis karena kesedihan, untuk hari ini ia menangis karena kebahagiaan.

Tidak semua orang bisa berangkat ke kota suci Mekkah terkecuali ketika Allah memanggilnya. Maka disinilah sekarang, Nafisah menatap langit di atasnya. Langit berwarna biru, begitu cantik dan memikat. Di bawahnya terdapat dua menara Masjid Al Haram yang begitu indah.

Jamaah terlihat hilir mudik di sekitar masjid. Matahari begitu cerah. Rasanya Nafisah ingin mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar suasananya.

"Nafisah.."

Nafisah menoleh ke samping. Danish mendekatinya. "Kamu baik-baik saja?"

Nafisah hanya diam dan mengangguk. Kemudian kembali sibuk dengan kegiatannya sendiri seolah-olah tak ingin di ganggu. Ponsel sudah berada di tangannya. Ia memotret menara Masjid Al Haram di lanjutkan dengan situasi di sekitarnya.

Namun tanpa sengaja ia memfoto suatu objek jalan kota dengan ada Danish disana. Danish terlihat tidak melakukan apapun tapi hasilnya seperti candid. Ia sadar, setelah apa yang terjadi, semua sudah berubah. Seperti kaca yang pecah, maka tidak kembali sempurna.

Memang, memaafkan itu tidak mudah. Namun ketika ia bisa memaafkan seseorang dengan ikhlas, maka Allah akan mengasihi dan mencintainya serta mendapatkan pengampunan dari Allah karena Allah jauh lebih besar dan lebih bermurah hati daripada umatnya.

Nafisah menatap Danish dari kejauhan. "Aku memaafkanmu Mas. Tapi maaf, kita sudah tidak seperti dulu lagi."

****

Di hadapan Kabah, Nafisah menitikkan air mata. Ia menangis dalam isakan doanya. Semua kekecewaan dan kesedihan ia utarakan. Ia ingin lepaskan rasa sakit yang menyiksa ini dengan ucapan doanya yang begitu lirih.

"Ya Allah Ya Kholiq... "

"Sungguh hamba bersimpuh dihadapanMu dengan sangat lemah.
Sungguh sakit yang hamba alami ini membuatku hamba sangat kepayahan."

"Ya Allah, sungguh seluruh takdir makhluk ada dalam kekuasaanMu.
Suami hamba berpoligami, pun atas seizin dan kehendakMu."

"Ya Allah, kasihanilah hamba. Hamba memiliki dua penyakit yang sangat berat bagi hamba. Penyakit kanglker dan penyakit kecewa."

"Sebagaimana Engkau sembuhkan Nabi Ayub Alaihi Salam, sembuhkan lah juga penyakit kanker hamba."

"Ya Allah, hamba bertawasul dengan kesabaran hamba yang di poligami.
Hamba ikhlas atas kehendakMu, ya Allah.. "

"Jika Engkau ridho dengan keikhlasan hamba, hamba memohon hilangkanlah sebagian penyakit hamba yaitu penyakit kanker yang menggerogoti tubuh hamba."

"Ya Allah hanya kepada engkaulah hamba memohon, tolonglah hamba
Aamiin. . "

Ntah kenapa, setelah mengatakan semuanya. Seketika perlahan-lahan sakit di hatinya berkurang. Nafisah menghapus air mata di pipinya. Tak perduli jika wajahnya sembab oleh air mata.

Lalu tatapan Danish bertemu dengannya. Danish menatap istrinya dari jarak beberapa meter. Lalu secepat itu Nafisah memalingkan wajahnya.

Sakit, itu yang Danish rasakan.

****

Setelah berhari-hari beribadah di kota suci Mekkah, Danish dan Nafisah memutuskan untuk pergi ke pasar Jakfariyah. Biasanya, pasar yang berada di kota Arab Saudi tersebut orang-orang menyebutnya pasar borong. Banyak jamaah Indonesia memborong berbagai jenis barang untuk buah tangan disini.

Mulai dari parfum, sajadah, tasbih, kopiah, syal, abaya, mainan, dll. Jenis barang yang di tawarkan harga grosir. Danish menatap mainan boneka unta seharga 10 real. Ia meraihnya.

"Mau beli itu, Mas?"

"Iya, apakah ini bagus?"

"Buat siapa? Diyah atau anak yang lain?"

Danish terdiam. Nafisah menyindirnya dengan santai. Raut wajahnya terlihat datar.

"Aku kesana sebentar."

"Tunggu aku." cegah Danish.

"Aku bisa sendiri."

"Tapi, Nafisah. Kamu-"

"Jangan mengkhawatirkan aku, Mas. Aku sudah terbiasa sendiri."

"Aku hanya takut kamu tersesat, itu saja."

"Aku bukan anak kecil."

"Nafisah.. "

Nafisah tak menggubris. Walaupun memaafkan, tapi hatinya sudah tertutup untuk Danish.

****

NEXT CHAPTER 77

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-77-keajaiban-takdir.html

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu