Chapter 77 : Keajaiban Takdir - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 77 : Keajaiban Takdir


Sebulan kemudian.

Setelah kepulangannya dari Umroh sebulan yang lalu, Nafisah sudah tidak sendiri. Ada sang Mama dan Diyah yang kini bersamanya di apartemen. Sementara Danish bekerja, Latifah tidak ingin menyia-nyiakan sesuatu berbicara empat mata dengan putrinya.

"Jadi bagaimana dia?"

Nafisah mengerutkan dahinya. Ia sibuk menyetrika pakaiannya. "Dia siapa?"

"Wanita itu, nak. Si pelakor."

"Oh dia.. " Nafisah hanya memperlihatkan raut wajah yang santai. "Aku tidak tahu, Ma. Masih banyak hal lain yang lebih penting untuk di pikirkan daripada wanita itu."

"Apakah dia sudah menjelaskannya padamu?"

"Dia tidak pernah menemuiku setelah kejadian di rumah sakit itu."

"Terus?"

"Apa nya yang terus?"

"Kamu nggak terpikir untuk labrak dia atau marah-marah?"

Nafisah tertawa. Sekarang kondisinya ntah kenapa merasa lebih sehat dari biasanya. "Untuk apa? Balasan Allah lebih nyata ketimbang aku seperti itu, Ma. Hanya membuang-buang waktu."

"Ya setidaknya dia ada itikad baik kek, minta maaf sama kamu atau apa gitu. Kayak ngerasa nggak bersalah sama sekali saja sama kamu."

"Biarkan saja. Kalau dia sadar syukur, jika tidak.. " Nafisah menghedikkan bahunya. "Dah lah Ma. Malas bahas. Toh juga sekarang ini aku fokus sama Allah, diriku dan hatiku. Aku dan hatiku lebih penting daripada semuanya. Bukankah hati yang kuat terdapat jiwa yang sehat?"

"Yakin?"

"Insya Allah, Ma. Aku butuh bahagia. Bukan kesedihan.."

"Mama!"

Diyah datang dengan pakaian yang sudah rapi. Ia tersenyum. "Makan es cream nya jadi, kan?"

"Iya, jadi. Kamu sudah siap?"

"Sudah. Kalau begitu Diyah tunggu di ruang tamu ya."

"Oke.." Nafisah tersenyum. Sementara Latifah juga pergi berlalu dengan alasan ingin ke toilet. Setelah semuanya pergi, kini ia sendirian.

"Iya, aku janji aku akan memulai semuanya dari awal. Terutama untuk hatiku.."

****

Setelah selesai dengan kegiatan menikmati es cream. Nafisah memutuskan untuk segera mengantarkan Diyah pulang terlebih dahulu. Katanya Danish akan mengajak keluar putrinya lagi. Sebenarnya rasanya begitu lelah karena harus bolak balik. Tapi tidak ada cara lain agar putrinya itu tidak mengetahui nasib sebenarnya tentang kondisi dan vonisnya dari dokter.

Disinilah sekarang, duduk di hadapan dokter spesialis kanker dengan pasrah. Nafisah ikhlas ikhlas dengan apapun hasilnya.

"Ibu Nafisah?"

"Ya?"

"Apa yang anda rasakan saat ini?"

Nafisah terdiam. Ia menatap Dokter wanita yang berusia pertengahan tahun di hadapannya. "Alhamdulillah baik."

"Masih mimisan? Atau ada rasa sakit di tubuhnya?"

"Tidak keduanya, Dok. Malahan bawaan saya lapar terus dan ingin makan."

Nafisah sadar, ponselnya bergetar di dalam tas. Panggilan masuk dari nomor tak di kenal menghubunginya. Ia ingin menerima tapi menghadapi Dokter saat ini lebih penting.

Sementara Dokter di hadapannya begitu serius. Bolak balik ia menatap hasil rekam medisnya yang banyak lalu bergantian menatap Nafisah. Sesekali Dokter tersebut juga memperbaiki posisi kacamata yang ia pakai. Sebenarnya Nafisah penasaran, apakah semuanya baik? Bahkan kedua tangannya sudah dingin saking gugupnya.

"Obatnya rutin di minum?"

"Alhamdulillah rutin, Dok."

"Ada konsumsi herbal?"

"Cuma habatussauda, Dok."

"Ada lagi?"

"Saya rajin minum air zam-zam sepulang umroh dan sebelumnya hanya rutin konsumsi buah kurma. Em, apakah semuanya baik-baik saja?"

"Ini menakjubkan."

Nafisah yakin, ia tidak salah dengar. Kini dokter tersebut menatap Nafisah dengan serius.

"Tadi katanya minum air zam-zam ya? Jadi begini, dalam kandungan air zam-zam itu bersifat anti inflamasi yang artinya anti peradangan. Dan itu cukup kuat. Pada penelitian yang pernah di lakukan menggunakan hewan uji, mengkonsumsi air zam zam secara teratur dalam jumlah tertentu selama satu bulan, terbukti bisa mengecilkan ukuran tumor."

"Apa?" Nafisah terkejut. "Benarkah?"

"Iya, Bu. Tadi ibu bilang selama sebulan setelah pulang dari umroh rutin minum air zam-zam, kan?"

"Benar, Ya Allah, saya nggak nyangka."

Dokter itu kemudian tersenyum. "Jadi sebenarnya air zam zam bisa memicu terjadinya respons imun yang spesifik sehingga bisa melawan sel-sel tumor."

Nafisah tercengang. Antara percaya dan tidak percaya. Ia di vonis dokter kalau umurnya tidak akan lama lagi tiba-tiba dinyatakan kalau dirinya dalam kondisi ada kemajuan.

"Jadi, hasilnya gimana dok? Apakah saya... " Nafisah tak bisa membendung lagi air mata di pipinya.

"Alhamdulillah ibu sembuh. Ini hasil semua pemeriksaannya."

Dokter memperlihatkan hasilnya pada Nafisah. Ia sendiri juga sebagai Dokter tidak menyangka dengan semuanya. Sudah jelas, semua adalah atas izin dan kehendak Allah. Ia menatap Nafisah, rasanya juga ikut terharu.

"Selamat ya, Bu. Nanti saya akan resepkan vitamin untuk menjaga kesehatan Ibu. Setelah ini, insya Allah ibu bisa memulai hidup yang sehat, rajin olahraga dan menjaga pola makan dengan gizi seimbang."

Usai semua penjelasan itu. Tidak ada yang bisa Nafisah lakukan selain pamit undur diri dengan sopan. Sesaat, Nafisah lupa dengan luka di hatinya. Ia sendiri masih tidak menyangka atas semua ini.
Allah Maha Baik dan masih memberikan waktu yang terbaik untuknya.

Ponsel Nafisah kembali bergetar. Hampir saja lupa ia mengeceknya. Akhirnya Nafisah mengeluarkan tasnya. 10 panggilan tak terjawab terlihat.

"Sebanyak ini, siapa?"

Panggilan kembali masuk, Nafisah langsung menerimanya.

"Halo, Assalamu'alaikum.."

"Wa'alaikumussalam. Dengan Ibu Nafisah?"

"Iya benar. Saya sendiri.."

"Kami dari pihak kepolisian ingin memberitahu bahwa suami ibu atas nama Pak Danish telah mengalami kecelakaan di jalan bersama seorang putri. Saat ini korban berada di ruang jenazah rumah sakit-"

Nafisah syok. Air mata mengalir begitu saja. "A.. Apa? Ruang jenazah.. "

*Sumber : sehatq.com/7Khasiat zam-zam yang bisa mencegah penyakit.

****

Bersambung...

NEXT CHAPTER ENDING :

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/ending-cinta-yang-berakhir.html


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu