Flashback, waktu sebelum Nafisah pergi ke rumah sakit..
"Sudah 2 minggu, tumben pakai kemeja warna putih Mas?"
"Memangnya kenapa?"
"Ya tumben aja sih. Biasanya kan gonta-ganti warna. Kadang biru navy, merah maroon, hijau army, dan masih banyak warna lainnya. Sekarang lemari baju malah lebih banyak kemeja putih. "
"Ntahlah. Aku hanya merasa warna putih itu suci, bersih. Kalau kita meninggal pun, dikafani berwarna putih kan?"
"Ya iyalah, Mas. Ya kali kalau warna hijau malah jadi kue lemper."
Danish tertawa. Tanpa diduga ia pun langsung menarik Nafisah hingga berada dalam pelukannya. Sementara itu, dasi hitamnya belum terpasang sejak tadi. Akhirnya Nafisah pun memasangkan ikatan dasinya.
"Pagi-pagi kamu sudah berhasil membuat moodku baik."
"Alhamdulillah deh kalau begitu. Itu lebih bagus. Daripada aku bikin Mas mumet, nanti lari nya ke lain."
Danish mengerutkan dahinya. Sadar kalau Nafisah menyindirnya, ia langsung menghentikan gerakan tangan istrinya. Ia menatap Nafisah dengan serius.
"Kenapa? Aku belum selesai memasang ikatan dasi."
"Aku nggak pernah mau lari ke mana-mana. Kalau di depan mataku ada yang lebih sempurna dan tidak menimbulkan masalah, untuk apa aku lari ke lain?"
"Dih, selain tampan, Mas juga pintar bersilat lidah dan ngegombal ya?"
"Baru sadar kalau aku tampan? Kemarin kemana aja, istriku?"
Nafisah merasa jengah. Ia kembali melanjutkan memasang ikatan dasi di leher suaminya. "Hm, iya itu benar. Kalau nggak tampan, mana mungkin bisa punya 2 istri. IYA KAN?"
UHUK! Danish terbatuk. Selain ucapan yang terakhir, Rupanya Nafisah menarik ikatan dasi tersebut dengan ikatan yang kuat bahkan nyaris mencekik lehernya. Nafisah tersenyum lebar.
"Nafisah, kamu ingin membunuhku ya?"
"Iya, sejak dulu. Kalau di negara ini tidak ada yang namanya pasal dan jeratan hukum." Nafisah terlihat tanpa merasa bersalah sama sekali. Sekarang, ia sudah selesai memasang ikatan dasi suaminya.
Nafisah benar-benar keterlaluan, walaupun bercanda dan nggak banget. Itu yang Danish pikiran. Sejenak, ia menatap Nafisah. Wanita itu terlihat lebih fresh dari sebelumnya. Bahkan tumbuhnya terlihat berisi. Tak hanya itu, rambutnya juga mulai tumbuh seiring berjalan nya waktu setelah mengalami kerontokan parah akibat kemoterapi. Walaupun sekarang sedang memakai hijab.
"Hari ini kamu jadi ke dokter?"
"Jadi. Kenapa?"
"Serius nggak mau di temani? Biar bagaimanapun aku ingin mengetahui hasilnya dan kondisimu selama ini."
Nafisah hanya bisa terdiam. Sejujurnya, Nafisah merahasiakan keterangan vonis tentangnya yang hanya bisa bertahan dalam waktu 2 bulan dengan siapapun. Termasuk dengan suaminya sendiri. Sekarang sudah memasuki bulan ke 2. Serasa kematian semakin dekat untuknya.
"Nafisah?"
"Ha? Em aku bisa sendiri kok. Lagian Diyah mau ngajak makan es cream."
"Anak itu mulai gendut. Bahkan dia juga mengajakku jalan ke taman hanya untuk jajan seblak."
"Jam berapa?"
"Tepatnya ketika jam istirahat kantor."
"Ah begitu.."
"Aku berangkat bekerja dulu."
Nafisah mengangguk. Keduanya pun menuju pintu luar. Nafisah menyerahkan jas formal pada suaminya. Setelah Danish memakainya, ia melangkah menuju pintu luar. Namun, ia menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya, kembali mendekati Nafisah kemudian memeluknya. Sangat erat. Nafisah sampai heran.
"Mas.. "
"Ya?"
"Kenapa? Semuanya baik-baik saja kan?"
"Baik. Aku hanya.." Danish terdiam sejenak.
"Tiba-tiba aku ingin memelukmu. Sudah lama sekali kita nggak akur begini, kan? Tadi saja kamu bercandaain aku soal kue lemper."
Nafisah tersenyum. Dengan perlahan ia membalas pelukan suaminya.
"Walaupun becanda nya cuma 5 menit plus momen leher aku yang kamu cekik, bagiku itu sangat berharga."
Air mata menetes di pipi Nafisah. Danish kembali memeluknya. Semarah apapun ia sama Danish, sekecewa apapun ia dengan pria itu, tapi hatinya tak bisa berbohong kalau ia memang merindukannya. Danish beralih memegang kedua pipi Nafisah. Ia menatap kedua matanya.
"Kenapa menangis?" tanya Danish pelan.
"Aku hanya.. "
"Rindu kebersamaan seperti ini?" potong Danish akhirnya.
Nafisah mengangguk lemah. Keduanya saling menatap satu sama lain. Dunia serasa milik berdua. Melupakan sesaat kalau sebenarnya ada luka di antara mereka berdua.
"Tapi kamu nggak tahu, Mas, kalau umurku sebenarnya tidak akan lama lagi." lirih Nafisah dalam hati. "Nafisah, biarkan semua ini wlaupun hanya sesaat. Belum tentu situasi sekarang akan terulang. Apalagi melihat wajahnya yang terakhir kalinya sebelum kamu menghadap Allah."
"Nafisah?"
"Hm?"
"Cantik.."
"Terima kasih."
"Ya Allah, jagalah istriku dimana pun aku berada."
Nafisah tersenyum lemah. Ia memejamkan matanya. Membalas genggaman tangan Danish yang berada di mimpinya. Dengan perlahan Danish menempelkan dahinya pada kening Nafisah, tidak mengerti kenapa, air matanya keluar begitu saja. Dengan hati yang sama-sama rindu, Danish mencium istrinya.
"Aku mencintaimu Nafisah. Tolong jangan pernah tinggalkan sholat dan aku ingin kamu ikhlas atas semua yang terjadi dan bahagia. Hatimu, Allah lah penyembuhnya." bisik Danish pelan.
Nafisah sadar, itu adalah kata-kata terakhir yang ia dengar dari seorang suami yang memberinya cinta dan luka di saat yang sama di sisa hidupnya.
***
Bersambung, Epilog.
*****
NEXT CHAPTER EPILOG :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/epilog-pria-misterius.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar