Flashback, beberapa hari sebelumnya
Seorang pria berjalan dengan langkah pelan dan santai. Setiap orang yang berlalu lalang melihatnya, mereka menganggap pria itu adalah salah satu pihak keluarga dari Alano. Padahal kenyataan?
Tentu saja tidak.
Pria bertubuh tinggi tegap itu mempercepat langkahnya begitu melihat sebuah pintu ruangan dimana atasan yang selama ini menjadi bos nya itu sedang menunggunya di dalam sana. Pria berstelan hitam itu mengetuk pintu sejenak, setelah mendengar sahutan dari dalam, dia memasuki ruangan itu.
"Saya membawa kabar penting?"
"Apa itu?"
Pria itu menatap bosnya. Seorang wanita yang sibuk melihat ke arah jendela luar sembari memperhatikan kesibukan persiapan resepsi putra tirinya di bawah sana yang akan berlangsung satu jam lagi.
"Sebuah peretas suara, Mrs. Claire."
Akhirnya Claire membalikkan badannya. Ia mengulurkan tangannya hanya untuk mengambil alat kecil peretas suara itu.
"Milik siapa benda kecil ini?"
"Milik seseorang yang Anda curigai selama ini. Apa yang anda pikirkan tentangnya, itu benar."
"Jadi ini punya gadis tak berguna yang kau tembak bernama Ivana itu?"
"saya yakin benda ini miliknya. Kemudian dia memberikannya pada menantu anda."
"Nafisah?"
Pria itu mengangguk. "Saya menemukan ini di dalam brankas milik Nafisah. Seperti perintah anda, bukankah saya juga harus menyelidikinya?"
Claire terdiam. Ia penasaran ada hal penting apa yang di lakukan istri Daniel itu?
Sejak ia minum teh bersama Nafisah sewaktu di halaman belakang mansion di Italia, Claire sudah curiga dengan gelagat Nafisah. Maka apa yang ia rasakan benar adanya. Nafisah sedang menyembunyikan sesuatu.
* Flashback off
Pucat...
Wajah Claire sudah pucat. Tidak ada lipstik merah dan tatanan make up yang biasanya menghias di wajahnya. Pakaian santai dan elegan yang sebelumnya melekat di tubuhnya sudah tergantikan oleh baju tahanan.
Selain kasus pembunuhan yang di lakukannya, Claire juga terbukti melakukan tindakan pembunuhan berencana di masalalu, memalsukan bukti surat wasiat atas nama Orla, bahkan pemakai narkoba. Apalagi setelah ia berhasil di tangkap di negara ini, Claire juga melakukan tindakan pembunuhan rencana pada suaminya sendiri.
"Anda kami tahan selama 20 hari sebelum akhirnya di deportasi ke negara asal Anda." ucap petugas kepolisian pada Claire
Claire tak menjawab apapun. Saat ini ekspresi wajahnya seperti menahan kesal dan menyimpan dendam pada Daniel. Ternyata dalang di balik semua ini adalah Daniel. Marcello melaporkan semua kebusukan dirinya atas perintah dari Daniel.
Polisi wanita datang menghampirinya sembari memegang lengannya untuk berdiri. Kemudian hendak memborgol kedua tangannya.
"Tunggu.." sela Claire akhirnya setelah sekian lama bungkam. "Sepertinya orang-orang kalian akan menyukai ini."
Polisi wanita itu mengerutkan dahinya dengan heran sambil menerima benda kecil alat peretas suara itu dari Claire.
"Apa ini?" tanya polisi tsb
"Kalian akan tahu nanti." Akhirnya Claire tersenyum puas. Sadar kalau ia tidak mau kalah dengan sendirian. Kebusukan Daniel dan Marcello harus di ketahui juga!
"Bukankah kita akan impas nanti, Adelard?" sela Claire dalam hati.
Polisi wanita itu sudah memborgol kedua tangan Claire dan mereka menuju ruangan tahanan.
Sementara di posisi halaman luar kantor polisi, Sofia terdiam sebentar. Apa yang ia lakukan sekarang adalah keputusan yang tepat. Dengan langkah berat Sofia memasuki kantor polisi tersebut dengan pandangan kosong, seperti pasrah dengan keadaan.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang polisi pria yang siap mengetik keluhan Sofia di komputernya.
"Saya ingin mengaku."
Polisi itu mengerutkan dahinya. "Maaf, maksud anda mengaku dalam hal apa?"
"Saya pernah melakukan tindakan kejahatan. Pembunuhan seorang pria."
Ekspresi polisi itu langsung menegang. Sofia sudah menduga kalau situasinya akan seperti ini ketika ia menyerahkannya dirinya. Sofia sadar kalau ia memang salah dan tidak bisa selamanya bersembunyi terus. Sekalipun saat itu dia melakukan semata-mata untuk melindungi diri dari tindak pemerkosaan.
"Dimana anda melakukannya?"
"Di negara saya... "
Polisi itu langsung bertindak setelah mendengar pengakuan Sofia sambil menyebutkan negara asalnya kemudian beralih mengangkat gagang telepon kantor untuk menghubungi tim yang akan menindaklanjuti kasus Sofia.
Pintu ruangan terbuka lebar. Farras masuk dengan napas yang tersenggal-senggal sambil membungkukkan tubuhnya. Sofia tidak bereakasi apapun begitu melihat kedatangan Farras yang tiba-tiba. Dugaannya terbukti benar. Farras adalah seorang intel.
Farras mendekatinya karena ingin memperoleh apa yang di inginkannya.
Farras mendekatinya bukan karena perasaan. Jadi untuk apa Sofia berharap sesuatu yang tidak pasti?
Berbeda dengan Farras yang telah menyesal karena sudah datang terlambat. Semua sudah terjadi. Padahal tadinya ia ingin mempermudah semuanya pada Sofia. Ia tidak ingin wanita yang mulai di sukainya itu berada di situasi yang sulit seorang diri. Mungkin Farras bisa membantu mengajukan keringanan pada pihaknya untuk kasus Sofia.
"Sofia seandainya kamu tahu bahwa perasaan suka ini benar-benar murni hadir pada dirimu. Apakah kamu percaya sama aku?"
****
Seharusnya Zulfa tetap mendengarkan semua ucapan Nafisah. Tapi ntah kenapa, Zulfa malah nekat dengan pergi mendatangi Marcello. Zulfa mengecek pesan Marcello padanya, memastikan kalau alamat dan lokasi restoran Rooftop yang di berikan padanya benar.
Zulfa memasuki lift dan kotak besi itu bergerak ke lantai 24. Sembari menunggu tiba, Zulfa menatap dirinya pada pantulan cermin lift depannya. Hari ini ia sengaja memilih penampilan biasa memakai dress daily warna coklat muda berbahan rayon dan khimar hitam. Zulfa juga melapisi bagian luar dirinya dengan jaket polos abu-abu. Zulfa sengaja berpenampilan seperti itu, tidak elegan ataupun anggun seperti biasanya karena Zulfa pikir, ini hanya pertemuan biasa tanpa meninggalkan kesan.
Ponsel Zulfa tiba-tiba berdering. Sesaat, Zulfa terdiam. Nama Hanif terpampang jelas di layarnya. Zulfa memilih mengabaikan panggilan Hanif bertepatan saat pintu lift terbuka.
Zulfa keluar dari lift, menuju pintu kaca besar yang kini terlihat jelas bagaimana situasi dan suasana rooftop di luar sana. Dari jarak beberapa meter, Marcello mengerutkan dahinya begitu melihat Zulfa yang berjalan semakin dekat mendatanginya.
Di balik kaca mata hitam yang Marcello kenakan, kedua matanya menatap penampilan Zulfa dari atas kepala hingga ke ujung kakinya. Ia menarik sudut bibirnya.
"Mau penampilan seperti apapun, kenapa dia tetap terlihat cute?" Suara dalam hati Marcello berkata seperti itu.
Akhirnya Marcello berdiri, menyambut kedatangan Zulfa dengan pesona ketampanannya. Zulfa sendiri berusaha meredam rasa gugupnya.
Apalagi penampilan Marcello malam ini benar-benar membuatnya terpesona. Zulfa merasa canggung, begitu Marcello menarik kursi duduknya dengan elegan dan mempersilahkan dirinya untuk duduk. Zulfa sudah duduk. Berhadapan dengan Marcello. Seorang pelayan pria datang menghampiri meja mereka.
"Kau ingin pesan sesuatu?"
"Aku ingin minum jus." Zulfa yakin, ia hanya butuh segelas jus manis untuk melegakan tenggorokannya yang kering.
"Tidak ingin makan?"
"Tidak." Zulfa tersenyum kecil. Lebih tepatnya memaksa bibirnya yang terasa kaku itu.
"Kenapa? Kau takut aku tidak mampu membayarnya?"
Marcello menatap Zulfa dengan pandangan yang sombong dan kini melepaskan kacamatanya dengan angkuh. Sadar kalau wanita manis didepannya ini pasti sedang canggung. Benar-benar wanita berbeda dari sebelumnya.
Biasanya, ketika ia dinner dengan seorang wanita. Mereka akan datang dengan penampilan yang cantik, elegan, dan sangat seksi. Mereka berlomba-lomba memakai pakaian kurang bahan hanya untuk mempertontonkan aset tubuh mereka sebagai penggoda hawa nafsu seorang Marcello. Tapi tidak dengan Zulfa. Marcello tak habis pikir, kenapa Zulfa yang sederhana ini justru malah membuatnya berpaling?
Apakah dia mulai kurang waras?
It's oke, Marcello akan menganggap ia masih waras selama pasangan yang di sukainya tetap seorang wanita.
"Bukan begitu." Akhirnya Zulfa meraih buku menu. "Aku pikir kita hanya berbicara penting dan langsung ke intinya. Aku tidak ingin berlama-lama sebelum orang tuaku tiba kemari."
"Aku pesan jus strawberry." lanjut Zulfa lagi pada pelayan pria yang kini berdiri di antara mereka.
Pria itu mengangguk, lalu menatap Marcello. "Bagaimana dengan anda Tuan?"
Marcello terlihat sibuk berbicara dengan pelayan di sebelahnya. Sementara tanpa Marcello sadari, justru Zulfa menatap Marcello dengan pandangan kagum.
Panas. Pipi Zulfa memanas. Ia yakin saat ini wajahnya sudah merona merah karena melihat ketampanan Marcello yang hanya mengenakan kemeja putih dan dua kancing teratas di biarkan terbuka.
Zulfa menggeleng kepalanya. Tidak habis pikir kenapa otaknya selalu kurang fokus untuk bisa berpikir jernih setiap melihat pria tampan apalagi pria jenis Marcello yang kini duduk di hadapannya. Akhirnya pelayan itu pergi menjalankan tugasnya. Tatapan Marcello dan Zulfa akhirnya bertemu.
"Aku langsung ke intinya. Apa tujuanmu malam kemarin mendatangi orang tuaku di rumah? Kau seperti memiliki maksud tersembunyi."
Marcello menarik sudut bibirnya. "Apakah salah kalau aku hanya ingin berkunjung sebagai tamu sekaligus temanmu?"
"Aku tidak percaya. Kau anggap kita berteman? Maaf! Aku tidak pernah menganggapmu teman."
"Jadi kau menganggapku apa? Pria asing yang membuatmu terpesona?"
Zulfa terdiam. Sementara Marcello bersandar sambil bersedekap. "Bahkan wajahmu memerah."
Zulfa langsung memegang pipinya. Kepanikan yang ia lakukan justru menunjukkan pada Marcello bahwa ucapannya memang benar. Tepat saat itu, pesanan Zulfa datang terlebih dahulu. Buru-buru Zulfa merampas jus strawberry itu dan meminumnya dengan tergesa-gesa. Marcello tertawa pelan. Ia semakin yakin kalau hatinya semakin terikat dengan wanita asia ini.
"Kenapa kau tertawa! Itu tidak lucu. Jadi apa maksud kamu waktu itu? Kau berkata kalau Nafisah penghianat."
"Jadi kau penasaran?"
"Kalau tidak, untuk apa aku kemari hanya untuk membuang waktu berhargaku?!"
"Jangan tergesa-gesa. Kita bisa membicarakan semua ini dengan santai, kan?"
Zulfa langsung berdiri. "Jika kau hanya ingin membuang-buang waktu, maka aku-" Zulfa terdiam. Kenapa tiba-tiba kepalanya menjadi pusing?
Zulfa tidak ingin menunjukkannya, maka akhirnya ia memilih duduk lagi dan merasa heran apakah vertigo nya mendadak kambuh?
"Baik, aku akan memberitahumu soal Nafisah."
Marcello memajukan tubuhnya, menatap Zulfa dengan serius. "Nafisah menyembunyikan sesuatu dari Daniel. Sesuatu yang sangat penting."
Tiba-tiba pandangan Zulfa mulai mengabur. Zulfa berusaha untuk fokus. Tapi rasanya begitu sulit.
"Sejak awal melihatnya, dia sudah menimbulkan kecurigaan. Termasuk kecurigaanku dengan sepupunya itu yang bernama Hanif."
"Hanif?" Zulfa memejamkan matanya. Sekarang kepalanya terasa berat. Ia pun memaksakan dirinya membuka matanya. "Untuk apa kau curiga dengan Hanif?"
"Apakah kau baik-baik saja?" Marcello memilih mengalihkan pertanyaan Zulfa. "Kau terlihat tidak sehat."
"Sepertinya aku harus ke toilet dulu."
Zulfa berdiri, tubuhnya serasa lemas dan untuk berpijak ke lantai saja rasanya berputar. Marcello juga ikutan berdiri, mendekati Zulfa. Tapi wanita itu menolaknya dengan sopan.
"Aku bisa sendiri."
Zulfa mempercepat langkahnya. Ponselnya bergetar dan ia masih bisa mempertahankan posisinya berjalan dengan benar sembari menuju tembok. Zulfa menyentuh tembok itu untuk menjaga keseimbangan.
Zulfa membuka pesan chat dari orang tuanya. Ternyata nereka tidak bisa datang makan malam bersama karena mendadak ada klien penting yang ingin menemui mereka.
"Sepertinya aku harus pulang."
Buru-buru Zulfa memasukan ponselnya kedalam tas. Tapi gagal. Ponsel itu terjatuh ke lantai. Zulfa ingin merunduk tapi kepalanya terasa pusing. Pusing yang begitu hebat sampai akhirnya ia sendiri tumbang di koridor lantai dekat lift.
Tiba-tiba dua orang tak di kenal mendekati Zulfa yang pingsan. Situasi memang tampak sepi karena sudah di atur sesuai rencana.
"Dia pingsan."
"Seperti perintah Tuan kita, kita harus membawanya ke tempat itu."
****
Semakin bertambah partnya. Masih deg-degan ya 😌
Tapi, aku gak janji ya sama kalian.. Terutama nasib Daniel sama Nafisah 🥺
Makasih sudah baca. Jgn lupa di vote dan pantengin spoilernya next chapter bsk di instagram lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER 63 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-63-kehormatan-yang-hilang.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar