Keesokan harinya..
Pagi ini Nafisah membuat sarapan di dapur lebih cepat dari biasanya. Kalau sebelumnya Nafisah membuat sarapan pukul 06.00 pagi, maka Nafisah memajukkan waktu masaknya pukul 05.00 pagi setelah sholat subuh.
Semua Nafisah lakukanlah karena hari ini Daniel akan berangkat ke Italia dengan jadwal pesawat pukul 11.00 siang karena jenazah Alano akan di semayamkan disana.
Pikiran Nafisah seolah-olah sudah
tersetting untuk bisa mempersiapkan semuanya. Kebutuhan Daniel dan juga soal perasaannya yang semakin hari semakin tidak karuan semenjak Ivana yang terlihat aneh.
Di satu sisi, ntah perasaan Daniel saja atau bukan. Akhir-akhir ini, ia menyadari kalau Nafisah seperti terlihat stress bahkan sering tidak fokus.
Di malam hari, sudah berapa kali Daniel mendapati istrinya itu terbangun hanya untuk melaksanakan sholat sunnah tahajjud dan setelah itu, yang di lakukan Nafisah adalah melamun duduk di kursi meja makan dengan segelas air di tangannya.
Daniel mengerutkan dahinya menatap Nafisah dari belakang, sejak tadi ia duduk di kursi meja makan hanya untuk menunggu kopi paginya. Daniel merasa heran. Kenapa Nafisah terlihat tidak fokus sekalipun sedang memasak? Akhirnya Daniel berdiri mendekati istrinya itu.
"Kenapa tiba-tiba Ivana tidak bisa di hubungi?" sela Nafisah.
"Dan kenapa juga Marcello berkata kalau aku adalah penghianat? Ngomongnya sama Zulfa lagi! Secara, Zulfa kan emang nggak tahu apa-apa?"
Nafisah memasukkan satu sandok garam ke cangkir kopi milik Daniel.
"Apakah gelagatku begitu mencurigakan di mata Marcello sampai akhirnya dia menganggapku begitu? Astaga, apa aku harus menceritakan semua kejadian belakang ini sama Mas Hanif! Tapi... Tidak! Aku sudah berada di pihak Daniel dan percaya kalau dia akan segera membereskan semuanya."
"Zulfa juga bikin kesel. Tuh anak kemana sih? Habis di kasih tahu soal Marcello malah bener-bener ngilang! Nomornya nggak aktip lagi. Kan aku sudah bil-"
Nafisah menghentikan ucapan yang terus ia lakukan dalam hatinya begitu tiba-tiba Daniel memeluknya dari belakang.
"Mas Daniel.."
"Kamu ingin membuatku jadi tekanan karena membuat kopi dengan tambahan garam?"
"Ha?"
Nafisah terkejut. Bisa-bisanya tanpa sadar ia memasukan 1 sendok garam ke cangkir kopi pagi milik Daniel. Nafisah sudah ingin membuang kopi itu ke wastafel kalau saja Daniel tidak mencegah niatnya.
"Aku tidak jadi minum kopi."
Daniel merubah posisi Nafisah dengan membalikkan tubuh istrinya Keduanya sudah saling berhadapan. Gelisah. Nafisah sangat gelisah. Ini bukan soal debaran hati yang sering ia rasakan begitu Daniel menatapnya penuh cinta. Melainkan rasa khawatirnya begitu Daniel mengetahui semuanya. Ia baru saja merasakan kembali perasaan cinta dan bahagia setelah masalalu kelam 5 tahun yang lalu. Dan Nafisah tidak ingin semua itu berakhir.
"Kenapa tidak jadi minum kopi? Aku buatkan yang baru ya, maaf.."
"Apakah tidak satupun kamu berniat menceritakan apa yang sedang kamu khawatirkan?"
Daniel memegang kedua pipi Nafisah. Mencium kening nya perlahan hingga akhirnya Nafisah mengalah. Apa yang di lakukan Daniel sekarang justru sanggup membuat Nafisah ingin menangis saat ini juga. Seandainya waktu bisa di putar, sungguh, ia tidak akan mau menerima semua rencana Hanif.
"Aku baik-baik saja, Mas."
"Aku tidak yakin," bisik Daniel pelan. Sekarang, wajah mereka sudah sangat dekat. "Seperti yang aku bilang, kita saling terkoneksi satu sama lain. Kalau kamu sedang mengkhawatirkan sesuatu. Maka aku bisa merasakannya."
Nafisah tidak tahu harus memulainya dari mana. Apalagi saat ini Daniel malah memberikan morning kiss nya. Hal yang setiap hari mereka lakukan sebelum memulai aktivitas. Kata Daniel, morning kiss itu wajib mereka lakukan setelah Nafisah mulai mencintainya.
Sekarang morning kiss mereka sudah selesai. Apakah Nafisah harus jujur terlebih saat ini Daniel menatapnya serius? Lalu, apakah setelah jujur nanti, Daniel akan bertahan dengan memaafkan dirinya atau pergi dengan kekecewaan?
"Nafisah.."
"Aku hanya takut." Nafisah mengalungkan lengannya pada leher Daniel. Pancaran kedua matanya seolah-olah di penuhi harapan agar apapun yang terjadi, Daniel tetap bersamanya. "Takut kalau kamu akan pergi meninggalkanku."
"Katanya kamu nggak mau ikut ke Italia. Jadi sekarang kamu berubah pikiran?"
"Bukan soal itu?"
"Nafisah, kalau kamu ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan atau ada masalah yang mengganggu pikiranmu. Kamu bisa mengatakannya padaku sekarang. Aku suamimu. Sekarang kamu tidak sendirian lagi. Bagi keluh kesah mu itu sama aku."
Bahkan Nafisah sendiri tidak yakin, dengan apa yang ingin dia ucapkan saat ini juga. Seperti kata pepatah, berkata jujur memang menyakitkan.
"Sebenarnya aku-"
Ponsel Daniel berdering di atas meja. Daniel terlihat tidak perduli. Ia masih menatap wajah Nafisah.
"Sebaiknya Mas terima panggilan itu."
"Tidak. Jawab dulu, sebenarnya ada apa?"
"Aku-"
Bel pintu terdengar. Daniel menggeram kesal. Siapa yang sudah berani mengganggu waktunya dengan Nafisah sepagi ini?
"Aku baru ingat. Bawahan mendiang Ayah akan datang pagi ini ke rumah kita. Ada hal penting yang harus kami bicarain. Terutama membantuku untuk melancarakan proses keberangkatan jenazah Ayah agar tidak ada kendala. Nanti kita lanjut. Kamu berhutang penjelasan padaku."
Daniel mengecup singkat bibir Nafisah lalu pergi menuju pintu untuk segera menyelesaikan urusannya. Tapi setelah kepergian Daniel, air mata menetes di pipi Nafisah. Ia merasa seperti berjalan di tepi jurang. Antara selamat dengan Daniel yang memaafkannya atau jatuh ke dasar jurang dan hancur karena Daniel tidak akan memaafkannya.
****
Sinar matahari membuat kedua mata Zulfa menjadi silau begitu cahaya itu menyelip di balik tirai gorden berwarna coklat gelap. Zulfa mencoba menghalau sinar cahaya itu menggunakan telapak tangannya didepan wajahnya. Seingatnya, Zulfa tidak pernah menyuruh pembantunya untuk memasang tirai gorden berwarna coklat di kamarnya.
Berusaha mengumpulkan kesadaran, perlahan-lahan Zulfa membangunkan tubuhnya. Tapi secepat itu juga dalam hitungan detik ia sadar.
"Ya Allah, dimana aku?"
Sekarang Zulfa sadar, rupanya ia berada di sebuah kamar. Lebih tepatnya kamar hotel dengan fasilitas mewah. Zulfa langsung menyibak selimut tebal dan mengecek pakaian dan hijab yang masih terpasang di tubuhnya. Paling tidak, Zulfa bisa bernapas lega.
"Syukurlah, masih lengkap. Berarti aku aman."
Zulfa ingin beranjak dari tempat tidurnya yang berukuran kingsize berwarna putih itu. Tapi tiba-tiba ia meringis. Zulfa merasa inti kewanitaannya begitu perih.
"Kok jadi nyeri gini, ya? Sebelumnya aku nggak ada keluhan seperti ini.."
Zulfa sedikit menggeser posisi duduknya dan terkejut ada melihat bercak darah di bagian bawah kasurnya. "Apakah aku haid lagi? Bukannya minggu lalu aku sudah haid?"
Zulfa menggeser posisi duduknya hanya untuk meraih ponsel di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Zulfa mengaktifkan ponselnya dan terkejut begitu melihat ada 20 panggilan tak terjawab dari Nafisah dan juga rentetean pesan-pesan dari bestienya itu.
Zulfa menggeleng pelan. Sekarang bukan saatnya ia meladeni Nafisah. Ia butuh mengecek aplikasi tanggal menstruasi di ponselnya.
"Tuh kan, bener! Seharusnya hari ini aku lagi masa subur. Bukan haid lagi... "
"Kau sudah bangun?"
Tiba-tiba Marcello muncul dengan penampilan yang sudah rapi. Memakai kemeja hitam dan celana jeans hitam. Seperti biasa, pria itu selalu membiarkan dua kancing bagian teratas terbuka.
"Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?"
"Kau! Ngapain kesini?! Pergi! DASAR TIDAK SOPAN!"
Bukannya takut, Marcello hanya tertawa kecil. Ia berjalan mendekati tempat tidur Zulfa tapi secepat itu sebuah bantal melayang ke arah Marcello.
Marcello berhasil menangkap bantal itu. Kemudian duduk di tepi ranjang. Sementara Zulfa terlihat was-was apalagi membuat selimut tebal di tubuhnya menjadi gumpalan tinggi walaupun tidak juga tinggi. Anggap saja seperti benteng pertahanan dirinya dari musuh bebuyutan seperti Marcello.
"Ini masih pagi. Baru juga jam 06.00." Marcello menatap arloji di pergelangan tangan kirinya. "Jadi jangan seperti wanita garang seperti macan betina."
"Apa hubungannya kalau ini masih pagi atau tidak sementara aku marah padamu! Kalau kau tahu aku macan betina, untuk apa kau mencari masalah denganku?! Jelaskan padaku, kenapa aku bisa disini?!"
Lagi-lagi Marcello mendekat. Secepat itu Zulfa meraih vas bunga di sebelahnya. "Sekali lagi kau mendekatiku, aku bisa pecahkan kapalamu pakai ini!"
Marcello menarik sudut bibirnya. "Saat marah, ternyata kau bisa juga
semengerikan ini." Tiba-tiba pandangan Marcello jatuh pada bibir tipis Zulfa.
"Tapi aku suka karena kau lebih menantang dan banyak perlawanan. Daripada semalam, dengan dirimu yang diam tanpa bisa berbuat apapun. Rasanya, kurang menyenangkan bagiku."
"Apa maksudmu?"
Marcello sudah ingin menjawab, tapi Ponselnya tiba-tiba berdering. Daniel menghubunginya. "Aku terima dulu panggilan penting ini." Marcello langsung berdiri tanpa berkata apa-apa lagi. Pria tampan itu menuju pintu balkon luar. Setelah terlihat sibuk, saat itu juga Zulfa tak ingin membuang waktu.
Zulfa langsung menuju kamar mandi dan memastikan kalau tamu bulanannya kembali datang. Lagi-lagi Zulfa di buat heran. Dengan polos wajahnya di penuhi berbagai macam pertanyaan.
"Kalau tembus sampai ke seprai tempat tidur, seharusnya pakaian dalam aku juga ada flek darah haid kan? Kenapa tidak ada bercak apapun?"
Zulfa dengan kepolosannya. Masih bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Saat ini, ia merasa tubuhnya lelah dan nyeri. Terutama di bagian kewanitaannya. Bahkan efek pusing dikepalanya akibat tadi malam juga masih sedikit terasa walaupun tidak separah tadi malam.
Zulfa merasa ada yang aneh dalam dirinya. Bukankah semalam ia makan bersama Marcello dan pagi ini pria itu ada didepan matanya? Sepertinya Zulfa harus meminta penjelasan darinya.
Marcello pasti tahu sesuatu. Terutama tentang dirinya yang tiba-tiba pingsan dan tidak teringat apapun. Tapi begitu dia keluar dari kamar mandi, hanya kekosongan dan kehampaan yang Zulfa dapatkan.
****
Seandainya waktu itu Zulfa ngikutin omongan Nafisah... 😭🥺
Makasih udh baca. 1430 kata di part ini semoga bikin kalian gak deg-degan, ya. Walaupun sebenarnya aku gak tau iya deg-degan apa gak. Apalagi part sebelumnya Claire sudah beri bukti tindakan Daniel sama pihak kepolisian, kan?
Jgn lupa follow akun instagram aku lia_rezaa_vahlefii. Untuk lihat spoilernya besok.. :)
NEXT CHAPTER 64 :
https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-64-tertangkap.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar