Chapter 64 : Tertangkap - Halo✨

MasyaallahAlhamdullilah. Situs ini berisi link khusus bagi yang ini membaca lanjutan dari wattpad. Happy Reading 💛 Instagram : lia_rezaa_vahlefii

test

Sabtu, 01 November 2025

Chapter 64 : Tertangkap


Flashback, sebulan yang lalu saat di Mansion Alano

"Kita harus membunuh Alano dan memindahkan semua sahamnya atas nama Anda sebelum terlambat. Kau bisa melakukannya begitu tiba di indonesia. Setelah resepsi Adelard." ucap seseorang, lebih tepatnya seorang pria.

Ivana terdiam mendengar semuanya melalui alat peretas suara yang di diam-diam ia pasang pada ruangan Claire. Ivana menekan pelan telinganya, mencoba berkonsentrasi dengan apa yang ia dengar semuanya.

Sedangkan tanpa Ivana sadari, ada dua orang pelayan yang memperhatikan gerak gerik Ivana dari jarak beberapa meter.

"Kau lihat dia. Wanita asia yg bernama Ivana itu." ucap salah satu pelayan Mansion yang memperhatikan Ivana dari kejauhan. Sementara tangannya sibuk memegang poci keramik untuk menuangkan teh hangat pada cangkir Tuan dan Nyonya besarnya sebelum tiba. "Dia sering memegang telinganya. Seolah-olah sedang mendengar sesuatu di balik penutup kepala yang dia pakai."

"Kau yakin?" jawab rekan di sebelahnya ini juga sibuk meletakkan sendok dan garpu tepat di samping piring makan. "Kita harus memperhatikan gerak geriknya. Kalau tidak, Nyonya Claire tidak akan segan-segan melubangi kepala kita."

Setelah itu, mereka sibuk mempersiapkan makan malam majikan mereka dan terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Jika di lihat, mereka memang seperti pelayan biasa yang sudah mengabdi pada keluarga Alano. Padahal sebenarnya, justru mereka adalah kaki tangan Claire yang sebenarnya melalui penyamaran.

Sementara itu di sebuah ruangan Claire..

"Jangan terlalu terburu-buru. Main-main dulu sejenak." Claire menyesap cangkir kopinya dengan elegan, bersandar pada kursi besarnya berwarna hitam.

"Anda sudah pernah gagal, Nyonya. Perusahaan Orla yang anda rebut juga di hancurkan oleh seorang penipu."

"Aku mencurigai kalau Adelard pelakunya. Kepindahannya ke suatu tempat semakin menguatkan kecurigaanku kalau dia yang melakukannya. Tentunya dia tidak sendirian. Pasti dia memiliki kaki tangan."

"Tapi Anda harus membunuh keduanya. Alano dan Adelard."

"Kau mencoba mengaturku? Atau kau sudah bosan hidup?"

Ivana sampai menahan napas setelah selesai mendengarkanya. Sungguh di luar dugaan kalau Claire berniat melakukan tindakan pembunuhan berencana.

Selain akhirnya dia juga tahu kalau Daniel yang selama ini dia curigai adalah pelaku penipuan investasi illegal, maka Ivana pun tidak bisa menunda lagi untuk memberi tahu informasi penting ini.

Ivana pergi meninggalkan tempat hanya untuk menghubungi Hanif. Setelah apa yang ia dengar barusan, rupanya bukan hanya ia saja yang mencurigai Daniel, tetapi Claire juga mencurigainya. Point plush nya ia jadi tahu rencana jahat Claire yang sepertinya akan menghabisi suaminya sendiri.

Pelayan yang menyadari kepergian Ivana langsung mendekati temannya dan menyerahkan nampan berisi kain serbet yang sudah di lipat rapi. Sadar dengan kode tindakan tersebut, rekan itu langsung membuka kain serbetnya.

"Target keluar mansion." Dengan cepat ia langsung menekan pelan alat di telinganya setelah melihat Ivana. "Arah jam 2."

Masih di waktu yang sama, di satu sisi....

Pria berstelan hitam itu akhirnya menunduk dengan rasa bersalah mendengar ancaman dan titah Claire. Sementara rekan di sebelahnya yang memiliki postur tubuh tinggi yang sama juga terlihat tidak berani menatap Claire

Tepat setelah itu, suara letusan senjata api terdengar nyaring. Claire dan dua orang kepercayaan itu langsung menoleh ke arah jendela. Sedangkan salah satu dari pria stelan hitam tadi langsung bersiaga, menjaga Nyonya besarnya. Hanya menggunakan kode isyarat mata, pria itu memerintahkan rekannya untuk segera turun ke bawah. Melihat apa yang terjadi..

Tapi Claire sendiri juga tidak terlihat takut sama sekali. Ia langsung keluar ruangan dan sesampainya di lokasi kejadian, Claire terkejut begitu tiba disana. Di sebuah halaman belakang mansion yang terdapat taman bunga.

Terlihat jelas seorang wanita tergeletak dengan darah yang bersimbah tepat di dahinya dan wajahnya. Claire langsung tertawa keras. Baru tahu kalau ternyata ada penghianat baru di mansionnya.

"Pertunjukan apa lagi ini?"

Pria stelan hitam dengan orang yang berbeda dari sebelumnya menyerahkan sesuatu ke arah Claire. Sebuah benda berupa alat peretas suara.

"Wanita ini meretas ruangan Anda. Apa yang Anda bicarakan sebelumnya, sudah di ketahui olehnya. Wanita ini juga seorang mata-mata yang di kirimkan oleh negaranya untuk kesini."

"Bukankah dia asisten pribadi Nafisah?"

"Benar Nyonya. Namanya Ivana."

"Aku tidak pernah membuat masalah dengan mereka. Pasti ada sesuatu yang sedang mereka selidiki disini. Terutama pada Adelard."

Claire tersenyum sinis. "Sejak awal bajingan itu memang terlihat mencurigakan. Dari sekian banyak orang, hanya bocah malang itu yang tidak suka dengan keberadaanku sebagai Ibu tirinya."

"Bisa di pastikan, Wanita ini juga bekerja sama dengan istri Tuan Muda Adelard. Bahkan kedatangan Ivana ini justru permintaan langsung dari Nafisah. Itu informasi yang kami dapatkan.."

"Aku pikir Nafisah hanya istri yang baik dan penurut. Tapi ternyata, dia juga sama penghianatnya dengan suaminya sendiri. Singkirkan mayat Ivana ini dari hadapanku!"

Tanpa mereka sadari, salah satu pelayan di Mansion Alano itu menyaksikan semuanya. Wajahnya pucat dengan peluh yang banyak di dahinya. Tiba-tiba seseorang menyekap mulutnya dari belakang.

"Kalau kau bisa tenang, nyawamu akan selamat." Pelayan itu langsung diam mematung, sementara sebuah pistol tertodong tepat di belakang kepalanya.

Pelayan itu mengangguk patuh. Dengan perlahan, penyekap itu mengambil sesuatu yang sempat di pegang oleh pelayan tadi. Sebuah ponsel milik Ivana yang terjatuh saat wanita itu di serang.

"Ponsel siapa ini?"

"Ini.. Ini milik Nona Ivana Tuan. Tanpa mereka sadari saya langsung mengambilnya ketika benda ini terjatuh ke tanah. Nona Ivana di sekap lalu di tembak. Tuan, saya mohon. Saya tidak tahu apa-apa. Saya-"


"Kau bisa jelaskan nanti, Ikut denganku!"

"Ba.. Baik, sir Marcello."

Dan pada akhirnya...

Ivana yang sudah jadi mayat pun kini ponselnya berada di tangan Marcello.

Flashback off

****

Halo, maaf baru muncul karena sebenarnya 3 hari ini aku sakit 😊

Tapi dengan part ini, makin terlihat jelas kan situasi yang sebenarnya 😌

Makasih sudah baca. Jgn lupa follow IG aku lia_rezaa_vahlefii agar kalian bs baca spolier next chapter 68 :)

Terima kasihh,


NEXT CHAPTER 65 :

https://nextchapterbylia.blogspot.com/2025/11/chapter-65-ketahuan.html



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 52 : Pertemuan Rasa Rindu